Microsoft sempat menyalakan harapan baru di dunia teknologi melalui ambisi besarnya membangun ekosistem ponsel sendiri. Selama hampir delapan tahun, raksasa perangkat lunak ini menggelontorkan dana hingga USD 7,6 miliar, setara sekitar Rp 114 triliun, demi menciptakan ponsel Windows Phone yang kini lenyap dari pasaran. Banyak pengguna kini hanya mengenang jejak Nokia Lumia, perangkat yang dulunya dianggap bakal merevolusi pasar, namun berakhir tragis.
Keputusan berani Microsoft untuk masuk ke bisnis ponsel diawali dengan akuisisi Nokia dengan harga USD 7,3 miliar. Microsoft berharap ponsel mereka mampu menyaingi dua pemain utama, Apple dan Google, yang saat itu terus mendominasi pasar global. Namun, ambisi tersebut lambat laun berubah menjadi beban keuangan besar. Pada satu titik, Microsoft bahkan harus memangkas lebih dari 20 ribu pegawai dalam dua tahun berturut-turut. Pada akhirnya, proyek ini justru mencatat kerugian masif dan menjadi salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah industri teknologi.
Awal Ambisi dan Harapan Besar
Steve Ballmer, CEO Microsoft saat itu, menjadi arsitek di balik keputusan akuisisi bisnis ponsel Nokia. Tujuannya, mempercepat ekspansi sistem operasi Windows Phone dan mengintegrasikan perangkat mobile dengan aplikasi produktivitas seperti Microsoft Word, Excel, dan PowerPoint. Nokia Lumia dirancang sebagai senjata utama. Microsoft berharap, kemiripan antarmuka dan pengalaman pengguna di berbagai perangkat akan membuat banyak orang berpindah dari Android dan iOS.
Langkah ini sesungguhnya menjanjikan bagi Microsoft. Lumia hadir membawa berbagai fitur menarik dan pengalaman seperti laptop mini. Ponsel ini menawarkan keunggulan pada produktivitas, sesuatu yang belum digarap serius oleh pesaing kala itu. Namun, kendala muncul dari sisi akselerasi inovasi dan pembaruan software. Apple dan Google bergerak jauh lebih cepat dalam menghadirkan fitur baru dan memperluas ekosistem aplikasi mereka.
Fakta Finansial: Pengeluaran dan Kerugian
Berikut data pengeluaran dan kerugian Microsoft dalam proyek ini:
- Akuisisi Nokia: USD 7,3 miliar.
- Pencatatan Kerugian Divisi Ponsel: USD 7,6 miliar.
- Pemangkasan pegawai: lebih dari 20 ribu (2014-2015).
- Total waktu investasi: 8 tahun tanpa menghasilkan produk jangka panjang yang bertahan.
Beban keuangan besar ini secara langsung menggerus laba operasional Microsoft. Satya Nadella, CEO pengganti Ballmer, akhirnya menarik rem dalam-dalam. Ia menyatakan strategi perusahaan akan beralih dari membangun bisnis ponsel mandiri menjadi penekanan pada pengembangan ekosistem Windows yang lebih luas dan dinamis. Pernyataan Nadella, dikutip dari The Guardian, menekankan bahwa saat itu perusahaan mulai fokus pada penyesuaian strategi jangka panjang dan efisiensi bisnis produk mereka.
Realita di Lapangan dan Ulasan Pengguna
Lumia memang sempat populer di sejumlah pasar negara berkembang dan di kalangan penggemar teknologi. Namun, perangkat ini kerap menerima ulasan negatif. Banyak pengguna mengeluhkan ponsel yang lamban, sering kali freeze, dan tidak mampu menyaingi performa perangkat Android maupun iPhone. Lumia diketahui hanya merilis sembilan model sebelum akhirnya dipensiunkan, padahal pesaingnya terus menghadirkan puluhan tipe baru tiap tahun.
Selain masalah performa, ekosistem aplikasi Windows Phone juga tertinggal sangat jauh dibanding Android dan iOS. Para pengembang aplikasi enggan berinvestasi mengingat jumlah pengguna Lumia stagnan. Akibatnya, pilihan aplikasi semakin terbatas. Ponsel menjadi kurang menarik di mata konsumen modern yang membutuhkan berbagai layanan dan hiburan digital.
Upaya Terakhir: Surface Duo dan Akhir Kisah
Setelah Lumia gagal, Microsoft masih mencoba peruntungan dengan meluncurkan Surface Duo. Berbeda dari Lumia, perangkat ini mengadopsi sistem operasi Android, namun tetap membawa sentuhan inovasi Microsoft berupa layar ganda (dual-screen). Surface Duo resmi diperkenalkan Oktober dan mulai dijual pada September dua tahun berikutnya. Namun, perangkat ini pun akhirnya dihentikan pada tahun setelah peluncuran generasi kedua, Surface Duo 2.
Ditinjau dari segi bisnis dan sejarah, keputusan Microsoft untuk menutup seluruh pengembangan ponsel menjadi babak penting bagi perusahaan. Nilai pemborosan investasi raksasa ini sering dicatat sebagai pelajaran mahal. Kendati sudah menjadi produk yang punah, kenangan pada Nokia Lumia masih hidup dalam ingatan banyak pecinta teknologi dan eks pengguna yang merasakan pengalaman berbeda dengan ponsel ini, seperti disampaikan oleh Unilad.
Peluang untuk bersaing di pasar ponsel memang tetap terbuka, namun langkah Microsoft menjadi tonggak peringatan akan kerasnya persaingan industri dan pentingnya inovasi berkelanjutan jika ingin bertahan.
Baca selengkapnya di: inet.detik.com