5 Fakta Penyebab Harga Mobil Listrik Bekas Jatuh, Nomor 4: Garansi Baterai Seumur Hidup!

Harga mobil listrik bekas di pasar mobil bekas anjlok jauh lebih parah dibanding mobil konvensional. Banyak pemilik bahkan harus menerima kenyataan harga mobil listrik mereka merosot hingga setengah dari harga barunya hanya dalam waktu dua tahun. Kondisi ini menimbulkan banyak pertanyaan dari konsumen, terutama yang sedang mempertimbangkan membeli atau menjual mobil listrik seken.

Pasar mobil listrik Indonesia saat ini diwarnai ketidakstabilan harga bekas, membuat potensi depresiasi terasa tajam dan sulit ditebak. Faktor-faktor yang memicu anjloknya harga ini ternyata tidak hanya datang dari sisi teknologi, namun juga strategi pabrikan, perilaku konsumen, hingga regulasi dan infrastruktur.

1. Perkembangan Teknologi Mobil Listrik Terlalu Cepat

Setiap tahun, produsen mobil listrik berlomba merilis model terbaru dengan fitur dan teknologi lebih canggih. Penambahan jarak tempuh, fitur keselamatan, dan kecepatan pengisian daya membuat model lama cepat terlihat usang di mata pembeli. Inilah alasan mobil listrik buatan tahun-tahun sebelumnya kurang diminati di pasar seken. Fenomena ini juga mendorong harga jual bekas makin jatuh, sebagaimana dialami BYD Seal Type Premium yang harga barunya di angka 600 jutaan rupiah, namun harga bekasnya hanya berada di kisaran 300 hingga 400 jutaan rupiah.

2. Daya Beli Konsumen Masih Terbatas

Meski jumlah model mobil listrik di Indonesia makin beragam, daya beli masyarakat untuk mobil listrik masih belum setinggi mobil konvensional. Harga mobil listrik bahkan kategori paling murah masih dianggap mahal dibanding LCGC atau city car berbahan bakar bensin. Penerapan subsidi di Indonesia masih belum sebesar di Tiongkok yang sejak lama menggelontorkan insentif untuk konsumen kendaraan listrik. Akibatnya, permintaan untuk mobil listrik seken masih terbatas.

3. Kekhawatiran Pemakaian Jarak Jauh dan Infrastruktur

Isu infrastruktur pengisian baterai yang belum merata menjadi kekhawatiran utama bagi pembeli mobil listrik seken yang ingin bepergian jauh. Banyak calon pembeli takut mengalami kesulitan mencari stasiun pengisian ulang di luar kota, sehingga hanya berani membeli untuk kebutuhan dalam kota. Kekhawatiran ini mendorong angka permintaan semakin rendah, sehingga harga jual bekas semakin tidak stabil.

4. Depresiasi dan Garansi Baterai Masih Jadi Masalah

Baterai menjadi komponen termahal sekaligus paling riskan dalam kendaraan listrik. Seiring waktu, daya tahan baterai akan menurun, sama seperti perangkat elektronik pada umumnya. Konsumen sering kali menanyakan kesehatan baterai sebelum membeli mobil listrik seken. Biaya penggantian baterai bisa mencapai 40 hingga 50 persen harga mobil, membuat pembeli semakin was-was. Beberapa pabrikan memang menawarkan garansi seumur hidup untuk baterai, namun umumnya garansi ini hanya berlaku untuk pemilik pertama. Saat kendaraan berpindah tangan, garansi bisa hangus dan pembeli berikutnya harus menanggung risiko dan biaya sendiri. Fakta ini menjadi alasan utama mengapa mobil listrik seken turun harga lebih dalam ketimbang mobil konvensional, karena ketidakpastian seputar baterai dan manfaat garansi yang terbatas.

5. Dampak Perang Harga Mobil Baru dan Minimnya Pembiayaan

Produsen mobil listrik dari luar negeri, khususnya Tiongkok, gencar memberikan diskon besar-besaran pada model baru. Promo potongan harga secara agresif tersebut membuat harga mobil listrik bekas semakin sulit bersaing di pasar. Selain itu, perusahaan pembiayaan hingga saat ini masih enggan memberikan kredit untuk mobil listrik bekas karena nilai depresiasi yang tinggi dan risiko baterai. Salah satu contoh, model Hyundai Ioniq 5 mengalami penurunan harga bekas hingga 55 persen dalam waktu 2,5 tahun. Kia EV6 turun lebih dari 57 persen, sementara Wuling Air EV bahkan jatuh hingga 51 persen hanya dalam dua tahun.

Tabel Penurunan Harga Mobil Listrik Seken

Model Mobil Harga Baru Harga Bekas Persentase Penurunan
Hyundai Ioniq 5 ~Rp844 juta ~Rp460 juta 55% turun
Kia EV6 ~Rp1.3 miliar ~Rp775 juta 57.5% turun
Wuling Air EV ~Rp299 juta ~Rp155 juta 51.75% turun

Depresiasi mobil listrik seken di Indonesia bisa mencapai 35 sampai 60 persen per tahun, lebih tinggi dari mobil bensin yang umumnya hanya 15-25 persen pada tahun pertama. Pedagang mobil bekas harus mengambil keputusan cepat agar stok tidak mengalami kerugian lebih besar.

Jika teknologi baterai dapat diperbaiki dan diservis dengan biaya terjangkau, nilai jual kembali mobil listrik seken kemungkinan bisa lebih stabil. Namun hingga kini, pertumbuhan teknologi dan perang harga antar pabrikan masih menjadi tantangan utama yang menghambat kestabilan pasar mobil listrik bekas di Indonesia.

Berita Terkait

Back to top button