Realme kembali menjadi sub-brand di bawah Oppo pada awal 2026 dan keputusan ini langsung menuai banyak perhatian pelaku industri. Langkah tersebut mengonfirmasi beredarnya kabar sejak awal tahun bahwa Realme tak lagi berjalan independen, melainkan berada dalam pengawasan dan strategi terintegrasi bersama Oppo. Banyak pembaca mencari jawaban mengenai faktor yang menyebabkan brand yang populer di kalangan anak muda tersebut tidak lagi berdiri sendiri.
Keputusan ini diambil oleh pihak manajemen Realme dan Oppo yang kini sama-sama berada di bawah induk perusahaan hardware BKK Electronics. Tujuan utamanya adalah mengoptimalkan efisiensi, memperkuat daya saing, dan memangkas biaya yang selama ini tersebar antara kedua merek. Menurut laporan Reuters yang dikutip media nasional, penyatuan sumber daya diyakini dapat memberikan keunggulan baru dalam persaingan pasar smartphone yang semakin ketat di tingkat global.
Sejarah Hubungan Realme dan Oppo
Realme sebenarnya bukan nama asing di keluarga besar BKK Electronics. Pada awal peluncurannya di tahun 2018, Realme memang bertindak sebagai sub-brand Oppo dan fokus membidik segmen muda. Merek ini kemudian cepat tumbuh dan memutuskan untuk berdiri sendiri, meski masih berada di bawah struktur BKK. Dalam tujuh tahun, Realme berhasil membangun identitas, jaringan distribusi, dan basis penggemar yang solid, terutama di kawasan India, Asia Tenggara, dan Eropa. Namun, perubahan peta persaingan global menuntut langkah strategis yang lebih agresif.
Alasan dan Faktor Penyebab Realme Kembali ke Oppo
Setidaknya ada tiga faktor penentu utama yang menyebabkan Realme diputuskan untuk kembali menjadi sub-brand di bawah Oppo:
-
Efisiensi Operasional
Penyatuan di bawah Oppo memungkinkan kedua merek untuk saling berbagi sumber daya mulai dari riset dan pengembangan, jaringan distribusi, hingga produksi. Hal ini akan mengurangi biaya operasional yang sebelumnya harus ditanggung masing-masing perusahaan. -
Penurunan Kinerja di Pasar Global
Oppo mengalami penurunan performa, terlihat dari data International Data Corporation (IDC) kuartal ketiga 2025. Oppo terlempar dari daftar lima besar global dan posisinya digantikan oleh Transsion (pemilik merek Tecno, Itel, dan Infinix). Realme sendiri menghadapi tantangan serupa di beberapa pasar utama, sehingga konsolidasi menjadi solusi memperkuat daya saing kedua merek. - Tekanan Industri Smartphone
Bisnis smartphone tengah dihadapkan pada kelangkaan chip, memanasnya kompetisi, serta fluktuasi harga komponen penting seperti RAM. Dengan reuni di bawah Oppo, Realme bisa lebih optimal mengatasi kendala pasokan dan pembatasan produksi yang terjadi secara global.
Dampak dan Potensi Strategi Baru
Kembalinya Realme ke Oppo diyakini akan memperkuat portofolio produk keduanya. Masing-masing tetap mempertahankan strategi pasar yang berbeda, di mana Oppo lebih banyak merambah segmen premium dan flagship, sementara Realme masih akan fokus menggaet pasar anak muda dan entry-level. Kehadiran keduanya dalam satu payung akan memperkaya penawaran serta meningkatkan daya tawar terhadap vendor komponen dan distributor global.
Data dari laporan IDC juga menunjukkan perubahan tren pasar smartphone secara cepat beberapa tahun terakhir. Banyak merek baru dengan pendekatan agresif muncul di Asia dan Afrika, sehingga konsolidasi di lingkaran BKK Electronics dianggap menjadi salah satu cara agar Oppo dan Realme tetap relevan dan bertahan dalam kompetisi.
Tabel: Penyebab Realme Kembali Jadi Sub-Brand Oppo
| Penyebab Utama | Penjelasan |
|---|---|
| Efisiensi sumber daya | Berbagi R&D, distribusi, dan produksi agar biaya lebih efisien |
| Penurunan kinerja global | Oppo keluar dari Top 5 dunia setelah dilampaui Transsion |
| Tekanan industri, kelangkaan chip | Mengatasi keterbatasan pasokan komponen smartphone |
Konsolidasi Realme ke Oppo juga membuka peluang bagi kolaborasi teknologi, inovasi AI, dan ekspansi produk di wilayah-wilayah baru. Selain itu, langkah ini diprediksi akan menjawab tantangan industri dengan model bisnis yang lebih adaptif dan efisien di tengah perlambatan ekonomi global. Situasi ini dinantikan oleh para pelaku pasar, konsumen, serta pengamat industri yang ingin melihat strategi baru dari dua merek besar asal Tiongkok ini di tahun-tahun mendatang.





