Penurunan Margin Penjualan Akibat Krisis Cip, Apakah HP Murah Akan Punah?

Kenaikan harga chip memori akibat permintaan tinggi dari industri server kecerdasan buatan (AI) diprediksi akan menekan margin keuntungan vendor smartphone sepanjang 2026. Segmen smartphone entry-level menjadi yang paling terdampak karena biaya komponen yang melonjak sulit diserap dalam margin yang sudah tipis.

Menurut Aryo Meidianto Aji, Senior Consultant SEQARA Communications, vendor di segmen bawah hampir tidak punya ruang untuk menahan kenaikan biaya. Hal ini berisiko mendorong harga jual naik 6–8% secara global, sehingga mengurangi daya tarik utama smartphone murah, yaitu harga terjangkau. Imbasnya, tren penjualan di segmen entry-level cenderung menurun.

Strategi Vendor Untuk Hadapi Tekanan Harga
Vendor diprediksi akan melakukan pemangkasan spesifikasi untuk menjaga harga produk entry-level tetap kompetitif. Contohnya adalah penurunan kualitas modul kamera, penghilangan fitur periskop, penurunan kualitas layar, hingga pengurangan kapasitas memori. RAM pada kelas menengah bisa turun dari 12GB menjadi 6–8GB.

Selain itu, penggunaan kembali komponen dari generasi sebelumnya, seperti prosesor lama, semakin mungkin dilakukan. Vendor juga mungkin mengurangi jumlah model smartphone agar efisiensi produksi dan stok lebih optimal. Strategi lain yang ditempuh adalah mengarahkan konsumen ke model dengan margin lebih tinggi demi menjaga profitabilitas.

Aryo menjelaskan bahwa vendor tidak sepenuhnya mundur dari segmen murah, melainkan mengubah prioritas agar tetap bertahan meski dengan margin yang sangat tipis. Vendor akan mendorong konsumen untuk beralih ke varian kelas menengah atau ‘Pro’ yang menawarkan keuntungan lebih besar.

Dinamika Pasar dan Perubahan Perilaku Konsumen
Segmen smartphone mahal memiliki pasar yang relatif stabil dengan fokus menjaga kualitas dan pengalaman pengguna. Namun, entry-level masih menjadi tulang punggung volume penjualan di pasar seperti Indonesia. Vendor pun berlomba mempertahankan pangsa pasar dan volume meski terkadang margin produk murah bisa negatif.

Di pasar Indonesia, konsumen entry-level kini menuntut kinerja chipset lebih baik, kamera berkualitas, dan pembaruan software lebih lama dengan rentang harga Rp1,5–2,5 juta. Kondisi ini memaksa vendor untuk memenuhi ekspektasi tersebut di tengah biaya produksi yang semakin tinggi. Loyalitas merek berkurang karena konsumen semakin fleksibel berpindah ke merek lain demi mendapatkan nilai terbaik.

Konsekuensi Jangka Panjang untuk Pasar Smartphone
Tekanan biaya dan perubahan kebutuhan konsumen menyebabkan spesifikasi smartphone entry-level berpotensi stagnan bahkan menurun dibanding generasi sebelumnya. Siklus pergantian smartphone diperkirakan akan lebih panjang karena menurunnya value for money. Tren ini memicu risiko menurunnya daya tarik produk murah sekaligus menekan margin penjualan vendor.

Kondisi ini menjadi dilema bagi produsen yang harus menyeimbangkan antara mempertahankan volume penjualan dan menjaga profitabilitas di pasar yang semakin kompetitif dan dinamis. Vendor juga harus kreatif dalam merancang portofolio produk agar tetap menarik di tengah gejolak harga komponen dan perubahan perilaku konsumen.

Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com
Exit mobile version