Harga smartphone diprediksi akan melonjak mulai 2026. Peningkatan ini dipicu oleh kenaikan tajam harga komponen memori seperti DRAM dan NAND, yang menjadi inti sistem penyimpanan dan RAM pada ponsel masa kini.
Carl Pei, CEO Nothing, menyampaikan bahwa lonjakan biaya produksi ponsel tidak terhindarkan. Ia menyoroti bahwa produsen kini sulit lagi menyerap dampak kenaikan harga tersebut, terutama untuk merek yang bermain di segmen menengah dan terjangkau.
Persaingan Industri dan Naiknya Harga Memori
Permintaan terhadap DRAM dan NAND tidak hanya meningkat di industri smartphone, tetapi juga di sektor pusat data kecerdasan buatan (AI). Kini, kedua sektor ini berlomba mendapatkan suplai memori yang terbatas, sehingga harga melonjak sangat tajam.
Data dari CyberPowerPC menunjukkan kenaikan global harga memori bisa mencapai 500 persen, dengan harga SSD meningkat hampir dua kali lipat dalam setahun terakhir. Fakta ini membuat memori menjadi salah satu komponen paling mahal dalam struktur biaya produksi smartphone.
Menurut Carl Pei, jika lonjakan ini hanya sementara, produsen masih bisa bertahan sambil menunggu kondisi normal kembali. Namun, tren naik ini diprediksi akan terus berlanjut, sehingga biaya tambahan harus dibebankan langsung kepada konsumen.
Dampak bagi Segala Segmen Pasar
Peningkatan biaya memori secara drastis mengubah struktur harga di seluruh lini produk, dari ponsel flagship hingga kelas entry-level. Brand yang bermain di kelas menengah diperkirakan paling terkena dampaknya, karena margin keuntungan mereka sudah minim.
Pernyataan Carl Pei menegaskan perspektif yang selama ini menjadi konsensus industri, yaitu komponen smartphone akan semakin murah seiring waktu. Tetapi asumsi itu kini tidak lagi berlaku di pasar global yang mulai didominasi kebutuhan AI pada data center.
Rincian Dampak Kenaikan Harga Memori
Berikut beberapa fakta utama terkait kenaikan harga memori smartphone yang diungkapkan para pelaku industri:
- Harga modul memori yang tadinya kurang dari $20 untuk perangkat kelas atas, diprediksi dapat melejit hingga tembus $100 dalam waktu singkat.
- Kenaikan harga ini membuat biaya produksi per unit ponsel melonjak drastis dan otomatis naik ke harga jual akhir.
- Adopsi memori generasi baru, seperti UFS 3.1 yang lebih cepat, turut berkontribusi pada lonjakan harga tersebut karena biaya produksi modul lebih tinggi.
- Beberapa merek sudah mewanti-wanti konsumen bahwa produk yang dirilis pada kuartal awal 2026 akan mulai mengikuti pola harga baru.
- Kompetisi ketat antara sektor smartphone dan data center AI dipastikan akan memperpanjang tren kenaikan harga komponen.
Respons Pabrikan Smartphone Terkemuka
Nothing menjadi salah satu perusahaan Android besar pertama yang secara terbuka mengonfirmasi tren kenaikan harga di masa mendatang. Pabrikan besar lain seperti Samsung juga dikabarkan mempertimbangkan revisi harga untuk lini Galaxy S26 yang rencananya dirilis Februari.
Sementara itu, semua produsen kini mengevaluasi strategi penentuan harga supaya tetap kompetitif di tengah lonjakan biaya produksi, namun hingga saat ini tidak ada sinyal bahwa harga memori bakal turun dalam waktu dekat.
Kenaikan harga memori dan komponen lain memaksa konsumen untuk lebih selektif dalam memilih ponsel baru, terutama bagi yang berada di segmen harga menengah. Industri smartphone sedang mengalami perubahan fundamental yang memengaruhi perilaku pasar, strategi manufaktur, dan peta persaingan global.




