Studi: Siswa Lebih Sering Gunakan HP di Sekolah untuk Hiburan daripada Belajar

Penggunaan ponsel oleh pelajar di lingkungan sekolah kembali menjadi sorotan. Rata-rata remaja ternyata menghabiskan waktu lebih dari satu jam setiap hari hanya untuk menggunakan ponsel selama berada di sekolah.

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal JAMA mengungkap temuan menarik terkait perilaku digital pelajar tersebut. Hasilnya mencengangkan: sebagian besar waktu layar ponsel di sekolah ternyata tidak dimanfaatkan untuk mendukung pembelajaran.

Dominasi Hiburan di Jam Sekolah

Dari hasil pengamatan langsung menggunakan aplikasi monitor pada ponsel para responden, para peneliti menemukan bahwa remaja rata-rata menggunakan ponsel selama sekitar 70 menit selama berada di lingkungan sekolah. Durasi tersebut mayoritas dihabiskan untuk mengakses aplikasi media sosial.

Beberapa aplikasi yang paling sering dibuka adalah:

  1. TikTok
  2. Snapchat
  3. Instagram

Ketiga platform media sosial tersebut jika diakumulasi menyita kurang lebih 30 menit per hari dalam jam sekolah. Bahkan, selain media sosial, waktu layar remaja juga banyak dihabiskan untuk streaming video, bermain game, atau aktivitas hiburan lain yang tidak berkontribusi langsung pada proses pembelajaran.

Penggunaan Ponsel untuk Belajar Nyaris Tak Terlihat

Fakta paling mencolok dari penelitian ini, waktu yang dipakai siswa untuk menggunakan ponsel membantu proses pendidikan sangat rendah. Rata-rata pelajar hanya menggunakan perangkat mereka untuk keperluan belajar selama 1,5 menit per hari.

Data tersebut memperlihatkan ponsel sangat jarang dipakai sebagai sarana mendukung pembelajaran di dalam kelas maupun selama jam sekolah. Padahal, masyarakat banyak berharap adopsi teknologi gadget pada pelajar bakal memicu inovasi dan membantu pendidikan menjadi lebih modern.

Ponsel Jadi Sumber Gangguan, Bukan Dukungan Belajar

Peneliti menyimpulkan, alih-alih menjadi alat bantu belajar seperti yang banyak diharapkan, ponsel justru lebih sering berperan sebagai sumber distraksi yang bisa mengganggu konsentrasi siswa di sekolah. Stimulasi konstan dari notifikasi media sosial dan kemudahan akses ke konten hiburan disebut berperan kuat dalam membentuk pola perilaku digital remaja selama jam sekolah.

Dikutip dari Kompas.com, implementasi aplikasi pemantau aktivitas ini memberikan gambaran yang lebih nyata tentang bagaimana ponsel digunakan di dunia nyata oleh pelajar. Studi menyoroti bahwa upaya pembatasan penggunaan ponsel di kelas perlu dipertimbangkan ulang, terutama jika pihak sekolah ingin menciptakan lingkungan belajar efektif dan minim gangguan.

Perbandingan Waktu Pemanfaatan Ponsel oleh Pelajar

Aktivitas Waktu Rata-rata/Hari
Media sosial ±30 menit
Streaming & gaming >20 menit
Keperluan belajar 1,5 menit

Dengan rincian data seperti di atas, terlihat adanya kesenjangan signifikan antara potensi manfaat ponsel untuk belajar dan pemanfaatannya yang sesungguhnya di sekolah.

Faktor Penyebab dan Tantangan Pendidikan

Maraknya penggunaan ponsel untuk hiburan dipengaruhi oleh beberapa hal. Sifat adiktif media sosial, keinginan remaja untuk selalu terhubung secara sosial, serta lemahnya kontrol dan pengawasan penggunaan perangkat elektronik selama jam sekolah, menjadi penyebab utama mengapa ponsel lebih banyak diakses untuk hal di luar pembelajaran.

Di satu sisi, terdapat tantangan besar bagi pendidik dan orang tua untuk mengarahkan penggunaan ponsel remaja secara lebih produktif. Solusi yang kerap diambil, seperti membatasi akses perangkat selama pelajaran, dianggap efektif oleh sebagian sekolah di berbagai negara. Namun, strategi itu juga memunculkan pro dan kontra karena khawatir membatasi akses informasi dan teknologi belajar yang justru bisa memperkuat literasi digital siswa.

Rekomendasi Langkah untuk Sekolah dan Orang Tua

Untuk menjawab tantangan ini, ada beberapa pendekatan yang bisa dipertimbangkan:

  1. Meningkatkan literasi digital dan kesadaran mengenai manfaat ponsel untuk pendidikan.
  2. Membuat aturan pemakaian ponsel yang jelas dan konsisten di lingkungan sekolah.
  3. Membimbing siswa memanfaatkan fitur dan aplikasi pendukung belajar secara lebih intensif.
  4. Menerapkan program pendampingan dan pengawasan, baik oleh guru maupun orang tua.

Di tengah derasnya arus digitalisasi, peran semua pihak penting demi memastikan ponsel tidak hanya menjadi alat hiburan belaka di tangan pelajar. Dengan langkah yang tepat, penggunaan ponsel bisa diarahkan kembali untuk mendukung proses belajar tanpa mengabaikan hak anak menikmati hiburan yang sehat dalam batas wajar.

Baca selengkapnya di: tekno.kompas.com

Berita Terkait

Back to top button