Samsung merupakan salah satu pemain utama di industri ponsel dunia, namun kapasitas baterai dalam perangkatnya sering menuai pertanyaan. Saat banyak kompetitor menghadirkan baterai berkapasitas besar hingga 7.000 mAh, Samsung masih mengandalkan baterai berkapasitas 4.000 hingga 5.000 mAh. Kenapa HP Samsung baterainya cenderung “segitu-segitu saja”? Ada alasan yang jarang diketahui umum di balik strategi ini.
Pertama, Samsung sangat memperhatikan regulasi ketat di pasar utama mereka, terutama Amerika Serikat dan Eropa. Di Amerika Serikat, baterai ponsel tidak boleh melebihi 20Wh atau sekitar 5.000 mAh, karena perangkat dengan baterai lebih besar dikategorikan sebagai barang berbahaya (dangerous goods). Hal tersebut tidak hanya mempersulit proses pengiriman, tetapi juga menambah biaya dan risiko dalam distribusi. Oleh karena itu, Samsung berusaha agar produknya memenuhi standar ini demi kelancaran pasar global.
Selain itu, Samsung masih menyimpan dampak besar dari insiden Galaxy Note 7 di 2016. Saat itu, Galaxy Note 7 dilengkapi baterai besar 3.500 mAh yang menyebabkan beberapa unit mengalami overheating dan meledak. Tragedi ini berimbas pada penarikan besar-besaran perangkat serta kerugian fantastis bagi perusahaan. Sejak peristiwa tersebut, keamanan baterai menjadi prioritas utama Samsung, bahkan mengalahkan keinginan untuk menaikkan kapasitas secara drastis.
Samsung juga meyakini bahwa baterai dengan kapasitas 4.000 hingga 5.000 mAh masih sangat memadai untuk kebutuhan sehari-hari. Hal ini didukung oleh perangkat Samsung seperti Galaxy S25 Ultra yang dibekali baterai 5.000 mAh dan mampu bertahan seharian untuk aktivitas normal seperti browsing, media sosial, streaming, dan gaming ringan. Optimalisasi perangkat keras dan perangkat lunak turut membantu efisiensi daya, sehingga kapasitas tambahan tidak dianggap terlalu mendesak.
Salah satu alasan teknis lainnya adalah sikap Samsung terhadap teknologi baterai silicon carbon. Banyak ponsel asal China mulai mengadopsi teknologi tersebut untuk mendukung baterai besar dengan bodi yang lebih tipis. Namun, Samsung memilih tidak segera mengadopsi teknologi ini. Mereka menilai silicon carbon masih terlalu baru, belum teruji jangka panjang, dan berpotensi menimbulkan masalah daya tahan baterai. Pendekatan konservatif ini menegaskan fokus Samsung pada keandalan dan keamanan.
Meski kapasitas baterai Samsung dinilai lebih kecil jika dibandingkan kompetitor yang bahkan menghadirkan baterai 6.000 mAh ke atas, Samsung tetap kompetitif dalam hal daya tahan. Contohnya, pengujian GSMArena menunjukkan vivo X200 Pro dengan baterai 6.000 mAh tahan sekitar 15 jam, Xiaomi 17 Pro Max dengan 7.500 mAh bertahan 20 jam 50 menit, dan OnePlus 15 dengan 7.300 mAh sampai 23 jam 7 menit. Sedangkan Samsung Galaxy S25 Ultra dan model sejenis hanya mencapai 11 sampai 14 jam. Perbedaan ini terutama terasa saat penggunaan intensif tanpa pengisian daya.
Samsung juga tengah mengembangkan teknologi baterai masa depan dengan kapasitas lebih besar. Rumor menyebutkan Samsung bakal meluncurkan perangkat dengan baterai silicon carbon berkekuatan hingga 20.000 mAh. Selain itu, Galaxy S26 Ultra diprediksi akan membawa peningkatan kapasitas baterai hingga 5.400 mAh. Ini menandakan Samsung mulai membuka diri terhadap inovasi teknologi sambil tetap menjaga keamanan.
Jadi, keputusan Samsung mempertahankan kapasitas baterai saat ini bukan semata masalah teknologi tertinggal. Faktor regulasi global, trauma insiden sebelumnya, serta kehati-hatian dalam adopsi teknologi baru menjadi kunci alasan di baliknya. Strategi ini menyeimbangkan keamanan, kepatuhan regulasi, dan kebutuhan pengguna sehari-hari. Ke depan, penggemar Samsung perlu menantikan perkembangan kapasitas baterai yang lebih besar, tetapi tanpa mengorbankan keandalan dan keselamatan perangkat.
