Industri smartphone di Indonesia diperkirakan menghadapi kenaikan harga perangkat sepanjang tahun 2026. Kondisi ini membuat konsumen cenderung menunda pembelian smartphone baru meskipun kebutuhan akan perangkat komunikasi tetap ada.
Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (Idiec), Tesar Sandikapura, menyatakan bahwa kenaikan harga berpotensi menurunkan volume penjualan hingga 5%–10% secara tahunan. Ia juga menambahkan bahwa konsumen kemungkinan akan memilih merek lain, model lama, atau turun ke segmen harga lebih rendah.
Faktor Penyebab Kenaikan Harga Smartphone
Ada beberapa faktor yang memicu kenaikan harga smartphone secara global dan domestik. Dari sisi global, kelangkaan pasokan semikonduktor menjadi penyebab utama. Kapasitas produksi chipset banyak dialihkan untuk memenuhi kebutuhan industri kecerdasan buatan, pusat data, dan komputasi berkinerja tinggi.
Sementara itu, kondisi domestik ikut memperberat tekanan harga. Pelemahan nilai tukar rupiah, peningkatan biaya logistik, serta tingginya ketergantungan pada impor komponen menjadi faktor pendukung kenaikan harga. Imbasnya adalah kenaikan harga smartphone yang diperkirakan berada di kisaran 5%–15%.
Dampak pada Segmen Pasar
Kenaikan harga terutama terasa pada segmen menengah dan flagship, yang biasanya memiliki permintaan tinggi. Namun, konsumen di segmen menengah ke bawah paling sensitif terhadap perubahan harga. Segmen ini menghadapi tekanan biaya material yang naik 20%–30% sejak awal tahun, menurut riset Counterpoint.
Counterpoint Research juga menyatakan bahwa pengiriman smartphone global diperkirakan turun 2,1% pada tahun 2026 karena biaya komponen yang meningkat dan melemahnya daya beli konsumen. Pabrikan asal China seperti HONOR, OPPO, dan vivo diperkirakan mendapat dampak signifikan dari revisi perkiraan ini.
Strategi Produsen dan Peran Pemerintah
Untuk merespons situasi ini, produsen smartphone perlu menjalankan berbagai langkah strategis. Beberapa di antaranya adalah efisiensi rantai pasok dan diversifikasi sumber komponen. Selain itu, peningkatan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) dan optimalisasi perakitan lokal juga dianggap penting.
Produsen juga diharapkan menawarkan produk dengan spesifikasi seimbang dan harga lebih kompetitif. Skema pembiayaan yang fleksibel bisa menjadi solusi agar konsumen tetap mampu membeli smartphone meski harga naik.
Pemerintah turut berperan dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan menciptakan iklim impor komponen yang kondusif. Selain itu, insentif untuk industri perakitan lokal dan percepatan pengembangan ekosistem semikonduktor nasional dapat membantu menekan biaya produksi dalam jangka menengah hingga panjang.
Proyeksi Tekanan Biaya pada Industri Smartphone
Peningkatan harga chip memori akibat permintaan dari sektor kecerdasan buatan menjadi faktor lain yang membuat biaya produksi smartphone naik. Xiaomi bahkan memperingatkan kenaikan harga smartphone global yang diperkirakan lebih besar pada 2026 dibandingkan tahun sebelumnya.
Presiden Xiaomi, Lu Weibing, menegaskan bahwa tekanan biaya akan menyebabkan harga eceran produk naik signifikan. Namun, hanya mengandalkan kenaikan harga tidak cukup untuk mengatasi seluruh beban biaya.
Perubahan kondisi pasar ini mengindikasikan bahwa konsumen nasional harus bersiap menghadapi harga smartphone yang lebih tinggi. Di sisi lain, produsen dan pemerintah harus menjalin kolaborasi untuk menjaga keberlanjutan pasar dengan memitigasi dampak kenaikan biaya produksi.
Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com



