Dua bulan setelah pembelian, Samsung Galaxy S25+ mengalami insiden serius saat mengisi daya. Ponsel flagship ini tiba-tiba meledak dan terbakar di rumah pengguna, menimbulkan kerusakan dan dampak kesehatan bagi penghuni. Samsung akhirnya mengakui tanggung jawab atas kejadian ini setelah proses investigasi yang panjang.
Kondisi thermal runaway membuat baterai lithium-ion pada Galaxy S25+ mengalami kegagalan tak terkendali. Panas berlebih melonjak pesat dan memicu api yang membakar karpet di sekitarnya. Insiden terjadi saat perangkat diisi dengan charger dan kabel resmi Samsung, sehingga faktor eksternal seperti aksesori palsu dapat dikesampingkan.
Proses Investigasi dan Tindakan Samsung
Tim pemadam kebakaran setempat melakukan pemeriksaan dan mengonfirmasi adanya thermal runaway berdasarkan sisa ponsel yang hangus. Keluarga yang tinggal di rumah menghirup asap berbahaya dan harus menjalani perawatan medis akibat gangguan pernapasan. Setelah dua bulan meneliti kronologi dan bukti kejadian, Samsung mengakui kesalahan dan menawarkan penyelesaian.
Samsung melalui unit Fire and Marine Insurance menyediakan beberapa kompensasi utama sebagai berikut:
- Penggantian total biaya Galaxy S25+ yang rusak.
- Pembayaran biaya pembersihan dan restorasi rumah.
- Penggantian biaya medis yang timbul karena insiden.
- Kompensasi tambahan berupa uang US$500 per orang untuk "rasa sakit dan penderitaan."
Namun, berbagai pengguna dan pengamat menilai kompensasi ini masih kurang memadai. Eksposur terhadap asap baterai lithium-ion yang beracun dapat menyebabkan risiko kesehatan jangka panjang, yang belum sepenuhnya diperhitungkan dalam besaran ganti rugi.
Dampak Lebih Luas pada Seri Galaxy S25
Kasus meledaknya Galaxy S25+ ini juga membuka sorotan bagi isu panas berlebih pada seri Galaxy S25 secara umum. Beberapa laporan lain menyebutkan gejala serupa berupa overheating dan risiko kebakaran. Hal ini memunculkan kekhawatiran akan standar keselamatan baterai meski perangkat ini adalah flagship premium.
Samsung selama ini menegaskan komitmen mereka terhadap uji ketat dan protokol keamanan baterai. Namun, hingga kini perusahaan belum mengeluarkan pernyataan resmi secara terbuka selain pengakuan atas kasus ini dan penanganan langsung dengan konsumen terdampak. Belum ada indikasi yang kuat bahwa masalah ini bersifat sistemik dan meluas ke semua produk S25.
Apa yang Perlu Diperhatikan Pengguna?
Pengguna smartphone flagship, terutama yang menggunakan Galaxy S25 series, dianjurkan untuk memantau kondisi perangkat secara rutin. Berikut beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk meminimalkan risiko:
- Gunakan charger dan kabel resmi dari Samsung.
- Hindari pengisian daya selama tidur agar mudah memantau kondisi perangkat.
- Jaga suhu lingkungan agar tetap sejuk dan ventilasi baik saat charging.
- Segera hentikan penggunaan perangkat jika ada tanda suhu meningkat drastis atau bau aneh.
Samsung telah menunjukkan langkah bertanggung jawab dengan memberikan kompensasi kepada korban. Namun, konsumen tetap perlu waspada dan memantau perkembangan terbaru terkait isu keamanan baterai ini agar terhindar dari risiko serupa.
Informasi mengenai insiden Galaxy S25+ yang terbakar ini menegaskan pentingnya pengujian keselamatan baterai yang terus diperbarui oleh produsen smartphone. Kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi sudah canggih, risiko baterai lithium-ion tetap ada dan memerlukan perhatian serius.





