
Valve, pembuat platform Steam yang dikenal luas sebagai toko game digital terbesar di dunia, kini menghadapi gugatan class-action senilai £656 juta di Inggris. Gugatan ini diajukan oleh Vicki Shotbolt, seorang aktivis hak digital dan CEO Parent Zone, bersama firma hukum Milberg London. Gugatan ditujukan untuk mewakili seluruh pengguna Steam di Inggris yang melakukan pembelian game atau konten dalam game sejak 5 Juni 2018.
Kasus ini baru-baru ini mendapatkan izin untuk dilanjutkan oleh Competition Appeal Tribunal (CAT) di Inggris. Gugatan menuding Valve melakukan praktik-praktik yang merugikan konsumen dan menghalangi persaingan pasar yang sehat. Berikut adalah penjelasan rinci terkait gugatan ini dan apa saja yang menjadi dasar klaim terhadap Valve.
Alasan Gugatan Class-Action terhadap Valve
Vicki Shotbolt menyatakan bahwa Valve "mengatur pasar" dan mengeksploitasi pemain di Inggris. Beberapa tuduhan utama yang diajukan dalam gugatan meliputi:
-
Komisi Berlebihan hingga 30%
Valve mengambil potongan hingga 30% dari penjualan game dan DLC oleh penerbit di Steam. Biaya tinggi ini mendorong penerbit menaikkan harga jual yang akhirnya dibebankan kepada konsumen. -
Pembatasan Penjualan Penerbit
Steam diduga memaksa penerbit menjual game dengan harga sama atau lebih tinggi dari platform lain. Valve juga diduga melakukan geo-blocking, membatasi akses gamer untuk membeli game dengan harga lebih murah dari wilayah lain. - Penguncian Konten Tambahan Eksklusif
Setelah pembelian game dasar di Steam, pengguna wajib membeli DLC atau konten tambahan lainnya melalui Steam juga, walaupun tersedia dengan harga lebih murah di toko lain.
Tuduhan ini menyiratkan bahwa Valve menggunakan dominasi platformnya untuk menjaga harga tetap tinggi dan membatasi pilihan konsumen di pasar Inggris.
Peran dan Pernyataan Firma Hukum Milberg London
Natasha Pearman, Kepala Litigasi Kompetisi di Milberg London, menegaskan bahwa hukum persaingan hadir untuk melindungi konsumen dan memastikan ekosistem pasar yang sehat. "Ketika pasar tidak berjalan dengan baik dan konsumen dirugikan, tindakan kolektif seperti gugatan ini menjadi saluran bagi konsumen untuk mendapatkan keadilan dan menuntut pertanggungjawaban perusahaan besar seperti Valve," jelasnya.
Proses Hukum Saat Ini dan Langkah Selanjutnya
Kompetisi Appeal Tribunal di Inggris memberikan sertifikasi pada kasus ini sehingga dapat diproses sebagai gugatan class-action pada tanggal 26 Januari 2026. Valve berupaya menolak kelanjutan kasus ini agar tidak sampai ke pengadilan. Namun permohonan penolakan tersebut telah ditolak oleh tribunal.
Tahapan selanjutnya adalah penetapan tata kelola proses hukum, termasuk pengungkapan bukti dan persiapan sidang pra-peradilan. Setelah itu, akan ada sidang lebih lanjut untuk membahas substansi dan merit atau poin utama kasus ini.
Kasus Serupa di Amerika Serikat
Selain gugatan di Inggris, Valve juga menghadapi gugatan serupa di Amerika Serikat dari empat gamer di California, Florida, dan Missouri. Gugatan yang diajukan tahun 2024 ini juga menyoroti masalah harga dan komisi Steam yang dianggap memberatkan konsumen.
Klaim dalam gugatan AS menuduh bahwa keuntungan besar Valve diperoleh dengan membebani konsumen yang membeli game dan konten digital dengan harga yang dinaikkan secara tidak wajar di platform Steam.
Dampak Potensial Gugatan Terhadap Valve dan Industri Game
Jika gugatan ini berhasil, Valve kemungkinan harus membayar ganti rugi miliaran pound dan juga bisa menghadapi perubahan aturan terkait model bisnis Steam. Penentuan hasil perkara akan menjadi preseden penting bagi hak konsumen dan regulasi pasar digital di negara-negara besar.
Selain itu, kasus ini membuka diskusi lebih luas tentang transparansi harga dan praktik anti-persaingan di ekosistem game digital. Kemenangan konsumen bisa mendorong lebih banyak pilihan harga yang adil dan kebijakan distribusi yang lebih bebas.
Kasus ini menjadi perhatian penting bukan hanya bagi pengguna Steam di Inggris, tetapi juga di seluruh dunia. Selanjutnya, putusan hukum yang akan diambil tribun akan dipantau ketat oleh industri teknologi dan game global. Pengguna Steam di berbagai negara pun menunggu perkembangan lebih lanjut dan dampak potensial bagi pengalaman bermain serta pembelian game di platform tersebut.





