
Harga memori DDR4 kini mengalami lonjakan signifikan dan melampaui harga DDR5. Pergerakan ini dipicu oleh ketatnya pasokan DRAM di pasar global, sehingga para pembeli berlomba memperoleh stok yang terbatas.
Data dari Goldman Sachs mengungkapkan, harga spot DDR4 melonjak hingga 172% di atas level kontrak sejak September, sedangkan DDR5 meningkat 76%. Lonjakan harga ini berkaitan erat dengan permintaan tinggi dari sektor kecerdasan buatan (AI) dan pusat data.
Produsen utama seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron memprioritaskan produksi memori bandwidth tinggi (HBM) yang digunakan di pusat data AI. Akibatnya, produksi modul DDR4 yang biasanya untuk konsumen menurun drastis dan menekan ketersediaan stok DDR4.
Pergeseran Prioritas Produksi dan Dampaknya pada Pasokan DDR4
Banyak produsen mengurangi kapasitas pembuatan DDR4 dan lebih fokus pada teknologi DDR5 serta HBM yang lebih menguntungkan. Langkah ini mengurangi suplai DDR4 meski permintaan dari segmen konsumen dan bisnis masih kuat.
Harga DDR5 yang tergolong mahal membuat perakit komputer dan gamer memilih DDR4 untuk menghemat biaya. Platform lama seperti AMD AM4 dan prosesor Intel generasi sebelumnya masih banyak menggunakan DDR4 sebagai standar memori.
Karena basis instalasi platform berbasis DDR4 masih besar, pembeli kini menimbun modul DDR4 yang tersedia. Hal ini menyebabkan harga DDR4 melonjak melebihi DDR5 meski teknologi DDR5 lebih baru.
Faktor-faktor Penyebab Kenaikan Harga DDR4
- Permintaan tinggi dari pusat data AI dan cloud computing.
- Prioritas produsen yang beralih ke DDR5 dan HBM.
- Basis pengguna besar yang masih memakai DDR4.
- Harga DDR5 yang relatif mahal sehingga pemilihan DDR4 sebagai alternatif ekonomis.
Dengan ketatnya suplai DRAM dan permintaan yang tetap tinggi di berbagai segmen, tren kenaikan harga DDR4 diperkirakan akan berlanjut hingga beberapa waktu ke depan. Konsumen dan pelaku industri harus menyiapkan anggaran lebih untuk kebutuhan memori atau mencari strategi alternatif pengadaan.
Fenomena ini juga menyoroti bagaimana dinamika pasar semikonduktor dan perubahan fokus produksi dapat berdampak pada harga produk yang seharusnya lebih tua dan tercatat lebih murah. Ketidakseimbangan pasokan dan permintaan berpadu dengan kebijakan manufaktur kini menjadi faktor utama yang menggerakkan harga memori komputer secara global.
Sementara itu, beberapa perusahaan juga merespon kondisi ini dengan langkah inovatif, seperti Asus yang memasuki bisnis RAM untuk mengatasi tekanan harga. Produsen kartu grafis seperti AMD juga diperkirakan menyesuaikan prioritas produksi sebagai respon terhadap lonjakan biaya memori.
Pasar DRAM yang semakin dinamis ini menunjukkan kompleksitas rantai pasok teknologi dan kebutuhan penyesuaian strategi bisnis yang cepat. Para pembeli, mulai dari pengguna rumahan hingga perusahaan, perlu memantau perkembangan harga dan pasokan agar dapat mengambil keputusan yang efektif terkait investasi perangkat keras.





