BRIN Prediksi Hujan Lebat Jabodetabek Kembali Meningkat Februari 2026, Waspada Angin Utara Kuat

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan masyarakat Jabodetabek untuk waspada terhadap peningkatan intensitas hujan mulai pertengahan hingga akhir Februari. Penguatan angin dari arah utara menjadi faktor utama yang memicu curah hujan tinggi di wilayah metropolitan tersebut.

Menurut Erma Yulihastin, peneliti klimatologi BRIN, meskipun terjadi penurunan curah hujan sementara, potensi hujan lebat akan kembali meningkat akibat penguatan angin utara. Kondisi ini berpeluang menyebabkan banjir dan gangguan aktivitas masyarakat.

Penguatan Angin Utara dan Dampaknya
Fenomena penguatan angin dari utara diperkirakan berlangsung pada paruh kedua Februari. BRIN menyebutkan bahwa angin ini meningkatkan kelembapan dan pembentukan awan hujan sehingga curah hujan di Jabodetabek kembali meningkat. Erma menjelaskan, "Penguatan angin dari utara akan menyebabkan hujan lebih intensif di Jabodetabek pada periode tersebut."

Selain Jabodetabek, wilayah Bogor dan Bandung diperkirakan mengalami curah hujan tinggi hingga bulan April. Potensi banjir dan longsor di daerah ini menjadi perhatian serius karena topografi dan intensitas hujan yang tinggi. Warga di kedua daerah tersebut disarankan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi.

Potensi Cuaca Ekstrem di Sumatera
BRIN juga mencermati potensi peningkatan curah hujan di beberapa wilayah Sumatera, seperti Kabupaten Agam dan Kota Padang di Sumatera Barat serta kawasan Tapanuli di Sumatera Utara. Faktor utama adalah aktivitas vortex yang menguat di Samudra Hindia pada periode Maret hingga April, yang dapat memicu hujan deras dan angin kencang.

BRIN membedakan dua jenis angin kencang yang berpotensi terjadi. Pertama, angin kencang yang muncul tanpa hujan, biasanya terkait dengan fenomena angin darat dan laut akibat aktivitas badai di perairan. Kedua, angin kencang yang disertai hujan, biasanya berasal dari awan cumulonimbus. Fenomena ini dapat menyebabkan gangguan seperti pohon tumbang dan kerusakan ringan pada bangunan.

Peringatan BMKG: Ancaman Banjir Rob di Pesisir
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan risiko banjir pesisir atau rob yang meningkat akibat fenomena perigee dan bulan purnama. Pada akhir Januari, posisi bulan berada paling dekat dengan bumi sehingga berpengaruh terhadap peningkatan pasang air laut.

Fenomena ini dikombinasikan dengan fase bulan purnama pada awal Februari, meningkatkan potensi banjir rob di 22 wilayah pesisir Indonesia. Dampaknya meliputi gangguan aktivitas pelabuhan, permukiman pesisir, usaha tambak garam, dan perikanan darat. Masyarakat pesisir di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua diminta meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan terjadinya rob.

Langkah-Langkah Kesiapsiagaan yang Disarankan

  1. Masyarakat Jabodetabek dan sekitarnya meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir dan longsor.
  2. Pemerintah daerah memperkuat sistem peringatan dini dan evakuasi di daerah rentan.
  3. Pemantauan kondisi cuaca secara rutin oleh BMKG dan BRIN agar informasi terkini dapat disebarluaskan secara cepat.
  4. Pengelolaan tata air dan saluran drainase di wilayah metropolitan diprioritaskan untuk mengurangi genangan.
  5. Masyarakat pesisir menyiapkan sarana dan prasarana untuk menghadapi banjir rob.

Peningkatan intensitas hujan di Jabodetabek, bersama potensi cuaca ekstrem di wilayah lain, mengingatkan pentingnya kesiapan dan kewaspadaan bersama. Pemahaman yang tepat mengenai fenomena angin utara dan dampaknya dapat membantu meminimalisasi risiko dan kerugian akibat bencana hidrometeorologi. Informasi dari BRIN dan BMKG menjadi acuan utama dalam pengelolaan risiko cuaca ekstrem bagi masyarakat dan pemerintah.

Exit mobile version