Permintaan RAM dan storage yang melonjak akibat pembangunan infrastruktur AI global menyebabkan pasokan RAM untuk gadget semakin langka. Situasi ini menghadapkan produsen smartphone pada pilihan sulit. Mereka harus menyesuaikan strategi agar tetap kompetitif di tengah biaya komponen yang membengkak.
Beberapa merek seperti Xiaomi, TECNO, dan Infinix sudah merasakan dampak kenaikan harga RAM. Mereka merespons dengan berbagai cara untuk menanggulangi biaya produksi yang melonjak tanpa kehilangan daya tarik produk di pasar.
1. Kenaikan Harga Produk
Produsen smartphone banyak yang menaikkan harga untuk menutupi biaya komponen yang membengkak. RAM kini menyumbang persentase biaya jauh lebih besar dari sebelumnya. Misalnya, TECNO Camon 50 yang menggunakan Helio G200 kini dijual sekitar Rp3,5 juta, naik signifikan dari kisaran Rp2,5 juta tahun lalu.
Langkah ini diambil sebagai langkah realistis mengingat pasokan RAM belum menunjukkan tanda membaik. Kenaikan harga membantu menjaga margin keuntungan di tengah tekanan biaya. Xiaomi dan Infinix juga melakukan penyesuaian harga serupa pada model terbaru mereka.
2. Pemangkasan Spesifikasi
Alternatif lain yang dipilih pabrikan adalah memangkas kapasitas RAM pada beberapa model tanpa menaikkan harga secara signifikan. Misalnya, itel City 200 tetap dijual sekitar Rp1,4 juta namun RAM dikurangi dari 8GB ke 4GB.
Strategi ini bertujuan mempertahankan daya saing di segmen harga bawah. Merek seperti itel mengalihkan perhatian konsumen ke fitur lain agar produk tetap menarik meski kapasitas RAM dikurangi.
3. Restrukturisasi Lini Produk
Beberapa produsen besar melakukan restrukturisasi produk agar sesuai dengan tekanan pasokan RAM. Model flagship tetap mempertahankan RAM besar sebagai nilai jual utama. Namun, varian terjangkau dirombak agar lebih hemat penggunaan komponen.
Pendekatan ini memungkinkan produsen menjaga kelas premium sekaligus menyediakan opsi hemat bagi pasar yang lebih sensitif harga. Penataan ulang lini produk ini penting mengingat fluktuasi pasokan RAM yang tak menentu.
4. Kontrak Jangka Panjang dengan Vendor RAM
Untuk memastikan pasokan komponen penting seperti RAM, sejumlah produsen mengamankan kontrak pengadaan jangka panjang dengan vendor chip seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron.
Kontrak ini memberi kepastian alokasi pasokan, walau dengan harga relatif tinggi. Langkah ini menunjukkan kesiapan beberapa Original Equipment Manufacturer (OEM) bersaing dengan cara berinvestasi lebih awal agar tidak kehilangan stok penting di tengah permintaan yang naik.
5. Pengembangan Teknologi Alternatif
Sebagian pabrikan mulai bereksperimen dengan teknologi memori alternatif agar tidak terlalu bergantung pada RAM konvensional. Teknologi manajemen memori berbasis komputasi cerdas sedang dieksplorasi sebagai solusi jangka panjang.
Meski riset ini memerlukan waktu dan investasi besar, strategi tersebut diharapkan membantu produsen tetap kompetitif bila pasar RAM akhirnya stabil. Inovasi teknologi memori bisa menjadi kunci untuk menghadapi tekanan pasokan komponen di masa depan.
Data International Data Corporation (IDC) memperlihatkan bagaimana tekanan pasokan memori akibat fokus produsen RAM ke pasar server dan pusat data AI juga merembet ke rantai pasok smartphone. Hal ini memicu perubahan strategi dari produsen agar tetap bisa menyajikan produk dengan harga dan spesifikasi kompetitif.
Industri smartphone menghadapi tantangan berat di tahap pasokan komponen ini. Keputusan produsen memengaruhi harga, fitur, dan keberlanjutan produk di pasar. Inovasi dan kerja sama pasokan jadi kunci bertahan. Namun, keberhasilan strategi tergantung pada respons konsumen terhadap harga baru dan spesifikasi yang berubah.
Dengan situasi pasar seperti ini, konsumen dihadapkan pada pilihan apakah akan menerima harga smartphone yang naik atau menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap spesifikasi perangkat. Kemampuan produsen untuk beradaptasi dengan krisis pasokan RAM dapat menentukan dinamika industri smartphone dalam jangka menengah.
Source: www.idntimes.com








