Pasar ponsel lipat global mengalami perlambatan penjualan meski teknologi terus berkembang pada tahun 2025. Samsung dan Huawei sebagai dua pemain utama menghadapi tekanan serius dalam mempertahankan penjualan model foldable mereka.
Perangkat ponsel lipat kini memiliki desain yang lebih matang dan daya tahan lebih baik, termasuk engsel yang kokoh dan layar lipat yang hampir tanpa bekas. Namun, volume penjualan masih jauh dari ekspektasi pasar massal dan masih dikategorikan sebagai produk niche.
Teknologi Meningkat, Penjualan Masih Terbatas
Menurut laporan dari lembaga riset seperti IDC dan Counterpoint Research, pangsa pasar ponsel lipat global masih di bawah 5 persen dari total pengiriman smartphone tahunan. Meski ada pertumbuhan dua digit di awal kemunculannya, penjualan foldable tidak berhasil menembus pasar yang lebih luas.
Samsung tetap memimpin segmen ini lewat lini Galaxy Z Fold dan Galaxy Z Flip yang mengusung fokus pada desain inovatif dan fitur produktivitas untuk pengguna premium. Sementara Huawei mengandalkan pasar domestik Tiongkok dengan berbagai model lipat ke dalam dan ke luar yang beragam.
Hambatan Harga dan Persepsi Konsumen
Harga tinggi menjadi hambatan utama adopsi ponsel lipat secara massal. Rata-rata harga perangkat foldable jauh lebih mahal bahkan dua kali lipat dibanding smartphone flagship konvensional. Kondisi ini membuat konsumen lebih cenderung memilih perangkat dengan spesifikasi tinggi namun harga lebih terjangkau.
Selain harga, kebutuhan pasar juga belum sepenuhnya mendorong penggunaan layar lipat dan fitur multitasking yang kompleks. Banyak pengguna menilai smartphone dengan layar konvensional yang besar sudah cukup memenuhi kebutuhan hiburan dan produktivitas tanpa harus berinvestasi pada teknologi lipat.
Tantangan dan Peluang untuk Masa Depan
Produsen masih kesulitan menjadikan ponsel lipat sebagai kebutuhan utama bagi konsumen. Foldable saat ini lebih diposisikan sebagai produk aspiratif, sehingga edukasi pasar dan penyadaran akan manfaat penggunaan jadi kunci untuk memperluas penetrasi.
Siklus penggantian smartphone yang semakin lama juga memperlambat laju adopsi teknologi baru ini. Ponsel lipat diperkirakan baru bisa menjangkau pasar massal jika harga produksi turun dan desain inovatif baru muncul.
Faktor yang Menentukan Perkembangan Selanjutnya
- Penurunan biaya produksi layar fleksibel dan komponennya untuk menekan harga jual.
- Skala produksi yang lebih besar agar harga perangkat bisa lebih terjangkau.
- Inovasi desain seperti model tri-fold atau form factor baru untuk memperkaya fungsi dan gaya penggunaan.
- Pengoptimalan sistem operasi dan aplikasi agar mendukung fitur multitasking lebih baik.
Samsung dan Huawei tetap melihat ponsel lipat sebagai bagian penting dari strategi diferensiasi produk premium mereka. Meskipun kontribusinya terhadap total volume pengiriman smartphone global masih kecil, foldable menjadi etalase teknologi dan inovasi perusahaan.
Dengan respons pasar yang positif terhadap generasi berikutnya dan dinamika harga yang lebih agresif, peluang bagi ponsel lipat untuk menembus pasar yang lebih luas akan semakin terbuka. Namun, tantangan utama yaitu harga tinggi dan kebutuhan pasar yang belum sepenuhnya matang masih harus diatasi.
Hingga kini, ponsel lipat masih dalam fase transisi dari inovasi teknologi menuju penerimaan dan penggunaan yang lebih luas di kalangan konsumennya.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: selular.id






