
Ponsel Android murah berpotensi makin sulit ditemukan karena harga RAM dan penyimpanan memori naik tajam. Laporan terbaru Counterpoint Research menandai tekanan biaya ini sebagai faktor utama yang bisa mengakhiri era ponsel “value for money” di banyak pasar.
Dampaknya paling terasa di segmen entry-level dan budget yang selama ini menjadi tulang punggung penjualan Android. Di pasar seperti India, ponsel dalam rentang harga terjangkau disebut masih menguasai sekitar 60% pasar smartphone saat ini.
Harga RAM dan NAND menekan biaya produksi
Counterpoint Research, dalam analisis berbasis data kuartal pertama, mencatat komponen memori kini menyerap porsi biaya yang jauh lebih besar pada ponsel murah. Untuk smartphone entry-level dan budget, komposisi bill of materials atau BoM kini hampir 43% terserap ke memori.
Artinya, pada ponsel dengan harga di bawah Rs 30.000 di India, porsi besar harga jual akhir kini berasal dari RAM dan penyimpanan. Kondisi ini berbeda dari beberapa tahun terakhir ketika merek masih bisa menawarkan spesifikasi kompetitif dengan harga agresif.
Tekanan biaya datang dari lonjakan harga dua komponen utama. Counterpoint mencatat harga DRAM naik 50%, sedangkan NAND Flash melonjak hingga 90% hanya dalam hitungan bulan.
Kenaikan setajam itu membuat produsen sulit menjaga formula lama di kelas terjangkau. Merek seperti Oppo, Realme, Vivo, iQOO, dan Samsung disebut menghadapi tantangan yang sama dalam mengendalikan ongkos produksi.
Segmen murah diprediksi paling terasa bagi konsumen
Counterpoint memperkirakan segmen budget akan mengalami kenaikan harga minimum $30 untuk spesifikasi yang setara dengan generasi sebelumnya. Dengan kata lain, konsumen kemungkinan harus membayar lebih mahal untuk RAM, storage, dan performa yang kurang lebih sama.
Laporan itu juga menunjukkan biaya ponsel di bawah $200 naik setidaknya 25% secara quarter-on-quarter. Kenaikan ini bahkan terjadi pada model yang masih memakai LPDDR4x RAM dan eMMC storage, dua teknologi yang sudah tergolong lama.
Situasi tersebut memberi sinyal penting bagi pasar Android. Jika komponen lawas saja ikut terdorong naik, ruang bagi vendor untuk mempertahankan harga rendah menjadi semakin sempit.
Bukan hanya ponsel murah yang terdampak
Kelas menengah juga ikut tertekan karena konfigurasi memori modern memiliki biaya yang lebih tinggi. Untuk ponsel di bawah $600, variasi RAM dan storage bisa menyumbang hingga 14% dari total BoM.
Counterpoint memberi contoh perangkat dengan LPDDR5x RAM dan UFS 4.0 storage yang bisa naik ke sekitar $550 dari $480. Selisih ini menunjukkan bahwa peningkatan harga tidak selalu datang dari fitur baru, tetapi juga dari biaya komponen inti.
Lembaga riset itu juga memproyeksikan disparitas biaya bisa meningkat hingga 20% pada kuartal berikutnya. Ini berarti tekanan belum tentu berhenti dalam waktu dekat.
Flagship menghadapi tekanan ganda
Meski segmen murah paling sensitif bagi pembeli, Counterpoint menyebut kelas premium dan flagship justru menghadapi tekanan paling besar dari sisi pengadaan komponen. Kategori $800 ke atas diperkirakan mengalami “tekanan ganda” karena memakai memori kelas tinggi dalam kapasitas besar.
Untuk konfigurasi 8 GB LPDDR5X dan 256 GB UFS 4.0, porsi DRAM dalam BoM disebut naik ke 14% dan NAND ke 11% pada kuartal pertama. Pada kuartal berikutnya, angkanya diproyeksikan naik lagi menjadi 20% untuk DRAM dan 16% untuk NAND.
Data itu menjelaskan mengapa ponsel premium juga berpotensi mengalami penyesuaian harga. Namun bagi pasar massal, efek psikologis terbesar tetap ada di segmen murah karena konsumen di kelas ini cenderung paling sensitif terhadap kenaikan harga kecil sekalipun.
Mengapa era ponsel “murah meriah” bisa berakhir
Selama bertahun-tahun, strategi utama vendor Android adalah memberi spesifikasi tinggi di harga kompetitif. Model ini berhasil mendorong pertumbuhan besar di pasar berkembang, terutama ketika RAM besar dan storage lega menjadi nilai jual utama.
Kini pendekatan itu makin sulit dipertahankan. Saat komponen memori mengambil porsi biaya produksi yang sangat besar, produsen biasanya hanya punya beberapa pilihan.
- Menaikkan harga jual.
- Mengurangi kapasitas RAM atau storage.
- Memangkas fitur lain seperti kamera, layar, atau pengisian cepat.
- Mengandalkan promosi yang lebih pendek dan tidak stabil.
Tidak semua merek akan memilih langkah yang sama. Namun arah umumnya terlihat serupa, yakni harga naik atau spesifikasi menjadi lebih konservatif.
Apa arti tren ini bagi pembeli Android
Bagi konsumen, istilah “ponsel murah” kemungkinan tidak langsung hilang dari etalase. Yang berubah adalah standar nilai yang didapat pada harga tertentu.
Harga yang dulu cukup untuk membeli perangkat dengan RAM besar dan storage lega mungkin hanya cukup untuk konfigurasi yang lebih rendah. Di sisi lain, daya beli masyarakat tidak otomatis naik secepat biaya komponen, sehingga tekanan berpindah langsung ke pembeli akhir.
Karena itu, pasar smartphone dalam waktu dekat kemungkinan akan diisi oleh perangkat yang lebih mahal untuk spesifikasi setara. Jika tren harga DRAM dan NAND belum mereda, ponsel Android terjangkau tidak benar-benar lenyap, tetapi definisi “terjangkau” bisa berubah drastis di hampir semua kelas harga.
Source: gadgets.beebom.com







