Harga hard disk dan SSD belum menunjukkan tanda akan murah dalam waktu dekat. Seagate bahkan menyebut kenaikan harga storage yang berkepanjangan sebagai “normal baru” di era AI.
Pernyataan itu muncul saat industri penyimpanan menghadapi lonjakan permintaan dari pusat data AI. Seagate menilai pola lama, ketika harga naik lalu turun karena siklus pasokan, kini berubah menjadi fase yang jauh lebih panjang dan tidak biasa.
Permintaan AI mengubah pola lama industri storage
Chief Commercial Officer Seagate, Ban-Seng Teh, mengatakan kepada South China Morning Post bahwa siklus saat ini “sangat tidak biasa”. Menurut dia, industri sebelumnya terbiasa melewati fase kekurangan lalu kelebihan pasokan, tetapi sekarang dorongan dari AI menciptakan apa yang ia sebut sebagai “supercycle”.
Istilah itu penting karena menjelaskan kenapa tekanan harga tidak lagi bersifat sementara. Permintaan penyimpanan tumbuh bukan hanya dari PC atau konsumen, melainkan dari operator cloud dan pusat data hyperscale yang membangun infrastruktur AI dalam skala sangat besar.
Di sisi lain, AI tidak hanya membutuhkan chip komputasi seperti GPU. Sistem ini juga memerlukan kapasitas storage besar untuk menyimpan dataset pelatihan, data inferensi, cadangan, serta arsip jangka panjang.
Kondisi ini membuat vendor storage berada dalam posisi yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Saat kebutuhan data center terus bertambah, pasokan komponen dan kapasitas produksi tidak selalu bisa mengejar dengan cepat.
DRAM ikut mendorong biaya naik
Seagate mengakui biaya mereka ikut tertekan oleh kenaikan harga DRAM. Walau kebutuhan DRAM produsen hard disk tidak sebesar pembuat PC atau operator cloud, dampaknya tetap terasa pada struktur biaya.
Firma riset TrendForce memberi gambaran lebih tegas soal tekanan tersebut. Mereka memproyeksikan harga kontrak server DRAM melonjak sekitar 90% secara quarter-over-quarter pada kuartal pertama 2026.
Proyeksi itu bahkan lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya yang berada di kisaran 55% sampai 60%. TrendForce menyebut ketidakseimbangan pasokan dan permintaan makin memburuk karena penyedia layanan cloud mempercepat pemesanan untuk mengamankan alokasi.
Bukan hanya server DRAM yang terdampak. Harga PC DRAM juga diperkirakan melonjak lebih dari dua kali lipat secara quarter-over-quarter pada periode yang sama.
Kenaikan di level komponen biasanya tidak berhenti di pabrik. Biaya itu pada akhirnya berpotensi diteruskan ke harga perangkat jadi, mulai dari laptop, konsol handheld, hingga produk gaming dengan kapasitas penyimpanan besar.
Tekanan datang dari logistik dan energi
Masalah industri storage tidak berhenti di memori. Seagate juga menyoroti kompleksitas logistik yang dipengaruhi gejolak harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Menurut keterangan perusahaan, harga minyak mentah sempat mendekati 120 dolar AS per barel sebelum turun kembali ke bawah 100 dolar AS. Fluktuasi itu memaksa peninjauan ulang rute pengiriman dan menambah ketidakpastian biaya distribusi.
Artinya, kenaikan harga storage lahir dari banyak faktor sekaligus. Tekanan muncul dari komponen, transportasi, rantai pasok global, dan permintaan AI yang terus menanjak.
Kapasitas besar makin diburu cloud
Di tengah tekanan biaya, permintaan storage justru terus menguat. Ban-Seng Teh mengatakan proyeksi pertumbuhan tahunan permintaan penyimpanan yang semula diperkirakan di bawah 20% kini bergerak di kisaran pertengahan 20-an persen.
Kenaikan itu menjelaskan kenapa produsen storage berlomba meningkatkan kepadatan data per drive. Seagate baru mulai mengirimkan platform Mozaic 4+ berbasis teknologi heat-assisted magnetic recording atau HAMR kepada dua penyedia cloud hyperscale.
Platform tersebut menawarkan kapasitas hingga 44TB per drive. Untuk pasar pusat data, angka ini penting karena semakin besar kapasitas per drive, semakin efisien penggunaan ruang rak, daya, dan biaya operasional.
CEO Seagate Dave Mosley juga memberi sinyal bahwa permintaan masih sangat kuat. Menurut dia, kapasitas hard drive nearline perusahaan telah dialokasikan hingga akhir 2026, dengan perjanjian pasokan untuk pelanggan cloud besar yang berlaku sampai 2027.
Informasi itu menunjukkan satu hal sederhana. Pasar enterprise dan hyperscale sudah memesan jauh-jauh hari, sehingga ruang longgar untuk penurunan harga dalam waktu dekat menjadi makin terbatas.
Dampaknya ke konsumen dan pelaku industri
Bagi konsumen, situasi ini berpotensi membuat storage berkapasitas besar tetap mahal. Laporan dalam referensi yang sama menyebut harga hard drive sudah naik rata-rata 46% sejak September, sementara Seagate BarraCuda 24TB dibanderol sekitar 500 dolar AS.
Efeknya juga bisa meluas ke beberapa segmen berikut:
- Smartphone flagship dengan storage besar berpotensi makin mahal.
- Laptop gaming dan handheld PC bisa terdampak kenaikan biaya memori.
- Kreator konten menghadapi biaya arsip proyek yang lebih tinggi.
- Startup dan perusahaan digital berisiko membayar tagihan cloud lebih besar.
Di level yang lebih luas, storage kini tidak lagi dipandang sebagai komoditas murah. Di era AI, data menjadi aset utama, dan infrastruktur untuk menyimpannya ikut naik nilainya ketika pusat data global terus berebut kapasitas.
Source: telset.id






