Pernyataan bos Xiaomi, Lei Jun, menandai arah baru persaingan smartphone yang semakin bertumpu pada kecerdasan buatan. Ia menilai AIOS atau Artificial Intelligence Operating System akan menjadi elemen utama yang mengubah cara ponsel bekerja dan berinteraksi dengan pengguna.
Pandangan itu disampaikan Lei Jun saat berbicara di hadapan anggota Kongres Rakyat Nasional China. Dalam penjelasannya, industri smartphone disebut tidak lagi hanya bertarung di spesifikasi hardware, tetapi pada kemampuan AI yang benar-benar berguna dalam aktivitas harian.
AIOS disebut akan mengubah pusat persaingan smartphone
Lei Jun menolak anggapan bahwa pasar smartphone sudah masuk fase jenuh. Menurut dia, industri justru sedang menuju transisi inovasi besar yang dipicu oleh sistem operasi berbasis AI.
Fokus utamanya bukan lagi sekadar kamera lebih besar, chipset lebih cepat, atau baterai lebih besar. Xiaomi melihat masa depan smartphone akan ditentukan oleh seberapa cerdas sistem bisa memahami kebutuhan pengguna dan menjalankan tugas dengan lebih otomatis.
Dalam wawancara dengan media lokal China yang dikutip GizChina, Lei Jun mengatakan, “Xiaomi menggunakan AI sebagai pusat kecerdasan untuk menggerakkan ekosistem mobil, rumah, dan ponsel.” Ia juga menambahkan bahwa Xiaomi menyediakan “agent base” melalui model berbasis cloud dan mengimplementasikannya di perangkat lewat sistem operasinya.
Apa yang dimaksud AIOS dan Agentic AI
Konsep AIOS yang dibicarakan Lei Jun bertumpu pada AI Agent atau Agentic AI. Teknologi ini berbeda dari chatbot AI biasa yang cenderung pasif dan menunggu perintah satu per satu dari pengguna.
Dalam model ini, AI ditanam di lapisan dasar sistem operasi. Artinya, AI bukan lagi fitur tambahan, melainkan bagian inti yang mengelola cara perangkat memahami konteks, mengambil keputusan, lalu menjalankan tindakan lintas aplikasi.
Secara sederhana, smartphone masa depan versi Xiaomi diproyeksikan mampu membaca niat pengguna. Setelah itu, sistem dapat menyusun langkah kerja secara logis dan mengeksekusinya tanpa pengguna harus memberi instruksi berulang kali.
Contohnya, sistem bisa membantu menyusun agenda, membuka aplikasi yang relevan, mengatur perangkat rumah pintar, hingga menyesuaikan kebutuhan mobilitas dalam satu alur. Pendekatan ini membuat ponsel berpotensi berubah dari alat responsif menjadi asisten digital yang lebih proaktif.
HyperOS jadi fondasi pengembangan
Lei Jun juga menyebut HyperOS sebagai pondasi penting bagi arah AIOS Xiaomi. Sistem operasi internal itu dipersiapkan untuk menopang tugas-tugas kompleks yang dijalankan AI secara mandiri.
Dalam wawancara terpisah dengan CCTV, Lei Jun menyebut AIOS akan menjadi pilar utama dalam ekosistem OS Xiaomi ke depan. HyperOS diyakini akan menjadi basis yang menghubungkan ponsel, perangkat rumah pintar, dan kendaraan dalam satu pusat kecerdasan.
Arah itu sejalan dengan strategi Xiaomi yang selama ini tidak hanya berbisnis smartphone. Perusahaan tersebut juga membangun ekosistem perangkat terhubung, mulai dari wearable, TV, smart home, hingga kendaraan listrik.
Dengan struktur seperti itu, AIOS berpotensi menjadi penghubung utama agar semua perangkat bekerja lebih intuitif. Pengguna nantinya tidak hanya memakai ponsel sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai pusat kontrol ekosistem digital yang lebih luas.
Mengapa langkah Xiaomi ini penting
Pernyataan Lei Jun muncul di tengah pergeseran besar industri teknologi global ke AI generatif dan AI agent. Sejumlah pemain besar seperti Google, Apple, Samsung, OpenAI, dan Microsoft juga berlomba memasukkan AI lebih dalam ke produk konsumen mereka.
Bedanya, Xiaomi secara terbuka menekankan bahwa yang akan berubah bukan hanya fitur AI di aplikasi, tetapi struktur sistem operasi itu sendiri. Jika pendekatan ini berhasil, pergeseran industri bisa terjadi di tiga area utama:
- Persaingan tidak lagi murni soal hardware.
- Sistem operasi menjadi pusat pengalaman AI.
- Ekosistem antarperangkat menjadi nilai jual utama.
Model seperti ini juga membuka pertanyaan baru soal privasi data, komputasi cloud, serta kesiapan perangkat untuk menjalankan tugas AI yang semakin berat. Karena itu, keberhasilan AIOS nantinya tidak hanya bergantung pada visi, tetapi juga pada eksekusi teknis dan kepercayaan pengguna.
Xiaomi siapkan dana riset besar
Untuk mendukung ambisi tersebut, Xiaomi menyiapkan investasi riset dan pengembangan dalam skala besar. Lei Jun mengatakan perusahaan siap menggelontorkan sekitar 200 miliar yuan untuk riset dan pengembangan dalam lima tahun ke depan.
Angka itu menunjukkan bahwa Xiaomi tidak melihat AIOS sebagai eksperimen jangka pendek. Dana besar tersebut diposisikan sebagai modal utama untuk membangun teknologi yang bisa menopang masa depan smartphone dan ekosistem perangkat terhubung.
Di tengah banyak analisis yang menyebut inovasi smartphone mulai melambat, Xiaomi justru mengambil posisi sebaliknya. Perusahaan ini menilai gelombang baru persaingan sudah dimulai, dan AIOS dipandang sebagai senjata utama untuk mengubah peta industri smartphone global.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: tekno.kompas.com








