
ITSEC Asia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada terhadap berbagai jenis penipuan digital yang kerap meningkat selama Ramadan. Momen ini menjadi rentang waktu aktivitas digital yang sangat tinggi di Indonesia, mulai dari transaksi belanja online hingga donasi digital yang berpotensi dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Meskipun data dari ITSEC Asia menunjukkan tren serangan siber turun dibandingkan tahun sebelumnya, ancaman modus penipuan digital tetap sulit diabaikan. Pada Maret 2026, tercatat 23 kasus defacement situs, 65 kasus kebocoran data, dan satu kasus ransomware, turun signifikan dibandingkan Maret 2025 yang mencapai 45, 77, dan 2 kasus secara berurutan.
Modus Penipuan Digital yang Marak Selama Ramadan
Tim Threat Intelligence ITSEC Asia mencatat berbagai strategi penipuan yang memanfaatkan momentum Ramadan dan menjelang Lebaran. Berikut modus yang paling umum ditemukan:
- Donasi amal palsu yang mengelabui masyarakat untuk menyerahkan dana ke rekening tidak resmi.
- Promo Ramadan atau diskon Lebaran palsu yang mengiming-imingi harga jauh lebih murah dari pasaran.
- Penipuan undian hadiah berupa mobil, emas, atau perjalanan umrah melalui akun media sosial palsu.
- Penipuan belanja online yang menjanjikan barang dengan harga miring namun tidak mengirimkan produk.
- Pesan palsu terkait pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) yang mengarahkan korban ke tautan berbahaya.
Selain itu, pelaku juga menyebarkan file APK berbahaya yang menyamar sebagai aplikasi kurir pengiriman paket atau tawaran pekerjaan paruh waktu dengan janji komisi tinggi yang ternyata skema penipuan.
Teknologi AI Memperkuat Taktik Penipuan
ITSEC Asia mencatat perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang semakin dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber. Dengan bantuan AI, para pelaku dapat menghasilkan pesan phishing yang sangat natural dan sulit dibedakan dari komunikasi resmi bank atau instansi pemerintah. Mereka juga menciptakan situs web palsu yang sangat mirip dengan layanan resmi, menggunakan teknologi voice cloning, serta deepfake untuk meniru identitas seseorang.
Fenomena ini membuat masyarakat harus makin jeli dalam menerima dan memverifikasi setiap informasi digital, karena serangan siber kini semakin meyakinkan dan kompleks.
Sektor Pemerintah Jadi Target Utama
Data dari 18 Februari hingga 13 Maret 2026 menunjukkan sektor pemerintah menjadi yang paling sering terkena serangan siber. Ada 56 insiden keamanan, mayoritas terkait kebocoran data dan defacement situs web. Sektor lain yang juga menjadi sasaran antara lain pendidikan, layanan keuangan, logistik, perdagangan, dan organisasi sosial.
Menurut Patrick Dannacher dari ITSEC Asia, peningkatan aktivitas digital di bulan Ramadan harus diiringi dengan kewaspadaan dan upaya bersama semua pihak untuk memperkuat ketahanan siber nasional. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, sektor industri, dan masyarakat agar ruang digital tetap aman.
Rekomendasi Keamanan Digital dari ITSEC Asia
Untuk menghadapi berbagai ancaman ini, ITSEC Asia menyarankan langkah-langkah keamanan sederhana namun efektif berikut:
- Verifikasi tautan, nomor rekening, atau QRIS sebelum melakukan transaksi atau donasi.
- Hindari mengunduh file APK yang diterima melalui pesan WhatsApp, SMS, atau email.
- Aktifkan two-factor authentication untuk akun penting, termasuk email dan mobile banking.
- Cek ulang nama penerima sebelum menyelesaikan pembayaran menggunakan QRIS.
- Gunakan solusi keamanan digital seperti IntelliBron Aman dari ITSEC Asia untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan.
Kesadaran dan penggunaan langkah perlindungan yang tepat adalah kunci supaya setiap pengguna teknologi dapat berperan aktif menjaga keamanan digital. Dengan begitu, masyarakat dapat menjalankan aktivitas rutin di bulan Ramadan tanpa khawatir menjadi korban penipuan digital.









