Huawei menghadirkan fitur baru bernama Smart Grip untuk mempermudah penggunaan ponsel layar besar dengan satu tangan. Fitur ini dirancang agar tombol penting di layar bisa menyesuaikan posisi jari pengguna saat perangkat digenggam.
Saat ada panggilan masuk atau notifikasi muncul, sistem akan membaca tangan mana yang sedang memegang ponsel dan memperkirakan letak jempol pengguna. Tombol untuk menjawab atau menolak panggilan lalu bergeser ke area yang lebih mudah dijangkau, sehingga pengguna tidak perlu meregangkan jari ke bagian atas atau tengah layar.
Cara kerja Smart Grip di HP Huawei
Berdasarkan informasi yang dimuat Kompas.com dengan sumber Phone Arena, Smart Grip bekerja dengan memadukan sensor kapasitif di sisi bodi ponsel dan sensor 3D Time of Flight atau ToF. Kombinasi ini memungkinkan perangkat mendeteksi pola genggaman, posisi jari, dan tangan dominan pengguna secara real time.
Sensor ToF mengirimkan sinar inframerah lalu menghitung waktu pantulan cahaya untuk mengukur jarak objek dengan akurat. Dalam praktiknya, sensor ini berfungsi seperti “mata” yang memindai tangan pengguna ribuan kali per detik saat posisi genggaman berubah.
Data dari sensor itu kemudian diproses oleh NPU atau Neural Processing Unit. Dari hasil pemrosesan tersebut, elemen antarmuka bisa bergerak bahkan sebelum jari benar-benar menyentuh layar.
Pendekatan ini membuat Smart Grip tidak sekadar menjadi fitur aksesibilitas biasa. Sistemnya bersifat prediktif, karena antarmuka menyesuaikan diri lebih dulu berdasarkan cara pengguna memegang ponsel.
Apa manfaatnya untuk penggunaan sehari-hari
Fitur ini dinilai relevan untuk ponsel modern yang kini banyak memakai layar besar. Semakin besar panel layar, semakin sulit pula pengguna menjangkau bagian tertentu saat mengoperasikan perangkat dengan satu tangan.
Menurut Phone Arena, Smart Grip dapat membantu navigasi ponsel menjadi lebih cepat dan mudah. Manfaat utamanya terasa saat mengangkat telepon, membuka notifikasi, atau mengakses kontrol antarmuka yang biasanya berada di area sulit dijangkau.
Jika genggaman pengguna bergeser dari bagian bawah ke tengah perangkat, antarmuka juga ikut menyesuaikan. Artinya, pengalaman penggunaan akan berubah mengikuti posisi tangan, bukan memaksa pengguna terus menyesuaikan jari terhadap tata letak tombol yang statis.
HP Huawei yang sudah kebagian Smart Grip
Smart Grip tidak tersedia di semua ponsel Huawei. Fitur ini saat ini berjalan pada perangkat yang memakai prosesor Kirin 9030, antarmuka HarmonyOS 6.0, dan dukungan sensor ToF.
Berikut daftar perangkat yang mendukung Smart Grip:
- Huawei Mate 80 Pro
- Huawei Mate 80 Pro Max
- Huawei Mate 80 RS Ultimate Design
Huawei Mate 80 versi reguler belum mendukung fitur ini. Penyebab utamanya adalah model tersebut tidak dibekali sensor ToF, sehingga tidak bisa menunjang mekanisme pendeteksian genggaman yang dibutuhkan Smart Grip.
Mengapa hanya model tertentu yang mendapat fitur ini
Smart Grip membutuhkan kombinasi perangkat keras dan perangkat lunak yang spesifik. Sensor kapasitif dan ToF menjadi komponen utama, sementara NPU memegang peran penting untuk membaca data dan memindahkan elemen antarmuka secara cepat.
Karena itu, fitur ini tidak cukup hanya mengandalkan pembaruan software biasa. Ponsel yang tidak memiliki sensor pendukung tetap tidak akan bisa menjalankannya secara optimal, meski berasal dari lini produk yang sama.
Hal ini menjelaskan mengapa Huawei membatasi Smart Grip pada model kelas atas di keluarga Mate 80. Selain membawa spesifikasi premium, perangkat-perangkat tersebut juga punya ukuran layar yang besar sehingga manfaat fitur ini menjadi lebih terasa.
Sebagai gambaran, Huawei Mate 80 Pro dibekali layar 6,75 inci. Sementara Huawei Mate 80 Pro Max dan Huawei Mate 80 RS Ultimate Design memakai layar 6,90 inci, ukuran yang memang lebih menantang untuk penggunaan satu tangan.
Arah baru antarmuka ponsel
Kehadiran Smart Grip menunjukkan tren baru pada desain antarmuka smartphone. Jika sebelumnya pengguna harus menyesuaikan diri dengan letak tombol di layar, kini ponsel mulai dirancang agar mampu menyesuaikan diri dengan kebiasaan dan posisi tangan pengguna.
Pendekatan seperti ini berpotensi menjadi nilai tambah penting di segmen ponsel premium. Bukan hanya karena terlihat inovatif, tetapi juga karena menjawab kebutuhan praktis yang sering dialami pengguna layar besar dalam aktivitas harian seperti menerima panggilan, memeriksa notifikasi, dan bernavigasi lebih cepat dengan satu tangan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: tekno.kompas.com