Penjualan ponsel OPPO dan Vivo diproyeksikan melemah setelah biaya komponen memori terus naik. Tekanan paling besar datang dari harga RAM yang disebut mulai mengganggu strategi produk dan harga di pasar smartphone global.
Lembaga riset Counterpoint menilai dampaknya tidak hanya terasa pada satu atau dua merek. Namun, OPPO dan Vivo termasuk yang sebelumnya diperkirakan tumbuh, lalu kini menghadapi risiko penurunan penjualan karena krisis RAM dan penyesuaian harga jual perangkat.
Krisis RAM mulai menekan pasar smartphone
Kenaikan harga RAM membuat produsen ponsel harus menghitung ulang komposisi biaya produksi. Di saat yang sama, memori kini menjadi salah satu komponen penting karena konsumen semakin menuntut kapasitas besar untuk multitasking, kamera, gim, dan fitur AI.
Menurut data yang dikutip dari laporan Counterpoint melalui GSM Arena, proyeksi average selling price atau ASP smartphone untuk 2026 direvisi naik lebih tinggi. Jika sebelumnya diperkirakan tumbuh 3,9%, kini proyeksinya menjadi 6,9%.
Angka itu memberi sinyal bahwa produsen kemungkinan akan menaikkan harga jual lebih agresif. Strategi ini terutama diarahkan ke segmen premium, karena beban biaya memori pada ponsel kelas atas relatif lebih kecil dibanding total ongkos produksinya.
Untuk merek yang kuat di kelas menengah, tekanan tersebut menjadi lebih rumit. OPPO dan Vivo selama ini dikenal aktif bermain di segmen menengah hingga menengah atas, sehingga kenaikan biaya RAM berpotensi langsung memukul daya saing harga.
Mengapa OPPO dan Vivo berisiko turun
Kedua merek ini bergantung pada volume penjualan besar di pasar yang sensitif terhadap harga. Saat harga naik terlalu cepat, konsumen kelas menengah cenderung menunda pembelian atau beralih ke model yang lebih murah.
Di sisi lain, produsen juga tidak leluasa mempertahankan spesifikasi tinggi jika biaya memori terus meningkat. Akibatnya, mereka bisa menghadapi dilema antara menaikkan harga atau menurunkan sebagian fitur agar margin tetap terjaga.
Counterpoint menyebut produsen smartphone mulai melakukan restrukturisasi lini produk. Langkah ini dilakukan dengan memangkas spesifikasi tertentu untuk menahan tekanan biaya yang belum mereda.
Pemangkasan itu dilaporkan menyasar beberapa area penting pada perangkat. Mulai dari kualitas modul kamera, solusi periskop, layar, komponen audio, hingga konfigurasi memori.
RAM menjadi target efisiensi yang paling masuk akal karena harganya sedang naik. Namun, keputusan ini juga berisiko menurunkan daya tarik produk, terutama di pasar yang sangat kompetitif dan cepat membandingkan spesifikasi.
Harga mulai bergerak naik di pasar
Sinyal kenaikan harga sudah terlihat pada produk yang masuk ke Indonesia. Mengutip CNN Indonesia, Vivo baru merilis ponsel kelas menengah Vivo V70 di pasar domestik dengan harga Rp 8,999 juta untuk varian 12/256GB.
Angka itu lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Vivo V60 dengan konfigurasi serupa dibanderol Rp 7,499 juta, sehingga terdapat selisih Rp 1,5 juta dalam satu generasi.
Product Manager Vivo, Fendy Tanjaya, mengatakan kenaikan tersebut berkaitan dengan kondisi industri. “Seperti yang kita tahu, industri smartphone sekarang sedang menghadapi isu yang cukup sulit, terutama di bagian RAM dan ROM. Salah satu faktor terbesar yang memengaruhi harga adalah memori,” ujar Fendy seperti dikutip CNN Indonesia.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa lonjakan harga bukan semata strategi pemasaran. Ada faktor hulu yang ikut mendorong harga perangkat menjadi lebih mahal di level ritel.
Dampak yang kemungkinan dirasakan konsumen
Bagi pembeli, krisis RAM bisa memunculkan beberapa perubahan di pasar. Efeknya tidak selalu terlihat dari harga saja, tetapi juga dari paket spesifikasi yang diterima konsumen.
- Harga ponsel baru cenderung naik, terutama di kelas menengah.
- Varian memori besar bisa menjadi lebih mahal dari biasanya.
- Beberapa fitur seperti kamera, layar, atau audio berpotensi disesuaikan.
- Konsumen mungkin melihat lebih banyak model premium didorong ke pasar.
Pola ini membuat persaingan di segmen menengah menjadi semakin ketat. Merek harus menjaga keseimbangan antara harga, performa, dan persepsi nilai di mata konsumen.
Bukan hanya OPPO dan Vivo
Walau sorotan tertuju pada OPPO dan Vivo, tantangan ini bersifat industri. Merek lain juga menghadapi masalah yang sama karena rantai pasok komponen memori memengaruhi hampir semua vendor smartphone.
Perbedaannya terletak pada kemampuan tiap merek menyerap kenaikan biaya. Vendor dengan portofolio premium yang kuat biasanya punya ruang lebih besar untuk mengalihkan beban biaya ke konsumen tanpa terlalu merusak permintaan.
Sebaliknya, merek yang sangat bergantung pada pasar menengah harus lebih hati-hati. Jika harga terlalu tinggi, konsumen bisa menilai peningkatan dari generasi ke generasi tidak lagi sepadan.
Dalam kondisi seperti ini, arah pasar smartphone pada 2026 diperkirakan akan semakin bergeser ke strategi efisiensi dan premiumisasi. OPPO dan Vivo masih punya peluang menahan tekanan lewat penyesuaian produk, tetapi kenaikan harga RAM membuat setiap keputusan spesifikasi dan harga kini menjadi jauh lebih krusial bagi penjualan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: inet.detik.com