Kapasitas penyimpanan smartphone diperkirakan terus naik meski biaya memori sedang meningkat. Arah pasar ini berbalik dari perkiraan sebelumnya, ketika banyak analis menilai produsen akan menahan kapasitas storage untuk menjaga margin keuntungan.
Laporan TrendForce menyebut rata-rata kapasitas penyimpanan smartphone berpotensi tumbuh 4,8 persen secara tahunan. Kenaikan itu terjadi di tengah harga NAND flash, RAM, dan komponen lain yang sama-sama mengalami tekanan biaya.
Kapasitas penyimpanan naik karena pasokan berubah
Salah satu pemicu utama datang dari sisi pasokan memori. Produsen NAND disebut mulai mengurangi produksi chip berkapasitas rendah seiring peningkatan proses manufaktur, sehingga ketersediaan storage dengan densitas kecil makin terbatas.
Situasi ini mendorong vendor ponsel untuk beralih ke opsi kapasitas dasar yang lebih besar. Dengan kata lain, kenaikan storage bukan hanya keputusan pemasaran, tetapi juga hasil dari perubahan struktur industri memori.
Trend ini penting karena konfigurasi dasar sering menentukan standar pasar. Jika modul berkapasitas rendah makin sulit didapat, produsen akan lebih mudah mengarahkan lini produknya ke 128GB, 256GB, atau bahkan lebih tinggi.
AI di perangkat ikut mendorong kebutuhan storage
Faktor lain yang sangat menentukan adalah hadirnya fitur AI yang berjalan langsung di perangkat. Menurut TrendForce, sistem AI on-device dapat membutuhkan sekitar 40GB hingga 60GB ruang penyimpanan untuk pemrosesan lokal.
Kebutuhan sebesar itu membuat storage besar tidak lagi identik dengan segmen premium semata. Fitur ringkasan otomatis, pengolahan foto berbasis AI, asisten cerdas, dan pemrosesan bahasa di perangkat menuntut ruang yang jauh lebih besar dibanding penggunaan smartphone konvensional.
Karena itu, produsen besar mulai menyesuaikan konfigurasi memori. Apple, Samsung, dan Huawei disebut ikut meningkatkan kapasitas dasar di model-model baru mereka, dengan banyak flagship bergerak ke 256GB atau lebih.
Huawei bahkan dilaporkan mendorong varian 512GB pada lini Mate 80. Langkah ini menunjukkan bahwa storage kini menjadi bagian penting dari strategi fitur, bukan sekadar spesifikasi pelengkap.
Flagship dan kelas menengah ikut terdampak
Perubahan ini tidak terbatas pada ponsel kelas atas. Laporan yang sama menyebut dampaknya juga akan terasa pada model mainstream, karena produsen harus menyesuaikan perangkat dengan pola penggunaan baru.
Beberapa merek juga mulai mengurangi pengiriman model berkapasitas rendah. Alasannya sederhana, margin untuk varian storage kecil dinilai makin lemah, sementara konsumen cenderung melihat kapasitas besar sebagai nilai tambah yang lebih relevan.
Di sisi lain, merek premium dinilai lebih siap menyerap kenaikan biaya memori. Mereka dapat memakai storage lebih besar untuk menopang fitur AI sekaligus memperkuat posisi harga produk.
Untuk kelas menengah dan entry level, pendekatannya kemungkinan berbeda. Varian storage besar diperkirakan tetap tersedia, tetapi lebih sering ditempatkan sebagai opsi upgrade ketimbang standar dasar di semua model.
Arah baru standar kapasitas smartphone
Jika proyeksi ini berjalan sesuai perkiraan, 256GB bisa menjadi standar baru di lebih banyak perangkat. TrendForce bahkan menilai 128GB berpotensi mulai tersisih dari smartphone Android mainstream pada akhir 2026.
Perubahan ini akan menggeser ekspektasi konsumen. Dulu 128GB dianggap cukup luas untuk mayoritas kebutuhan, tetapi kombinasi file foto resolusi tinggi, video, game besar, dan AI on-device membuat batas itu semakin cepat tercapai.
Berikut gambaran tren kapasitas yang mulai terlihat:
- Flagship bergerak ke 256GB sebagai basis minimum.
- Varian 512GB makin sering dipakai untuk membedakan model premium.
- Ponsel mainstream berangsur meninggalkan konfigurasi kecil.
- Model entry level masih bisa mempertahankan opsi rendah, tetapi tidak dominan.
Tren ini juga dapat memengaruhi cara produsen menyusun portofolio produk. Semakin besar storage dasar, semakin kuat dorongan untuk mengurangi jumlah varian yang terlalu banyak agar rantai pasok lebih efisien.
Mengapa iPhone bisa tumbuh lebih cepat dari Android
TrendForce menilai pertumbuhan rata-rata storage iPhone dapat bergerak lebih cepat dibanding ponsel Android. Pemicunya adalah langkah Apple yang disebut mengarah ke model dasar 256GB, sehingga rata-rata kapasitas penyimpanan di lini iPhone terdorong lebih cepat.
Pada ekosistem Android, transisi diperkirakan lebih bertahap. Alasannya, pasar Android sangat luas dan mencakup banyak segmen harga, sehingga produsen masih perlu menjaga keseimbangan antara biaya komponen dan daya beli konsumen.
Meski begitu, arah utamanya tetap sama. Saat AI lokal menjadi fitur yang makin umum dan modul memori kecil makin berkurang, smartphone dengan kapasitas besar akan semakin lazim di pasar global.
Kondisi ini membuat storage tidak lagi sekadar angka spesifikasi di lembar pemasaran. Kapasitas penyimpanan kini menjadi salah satu fondasi utama untuk menjalankan fitur modern, menjaga umur pakai perangkat lebih panjang, dan menyesuaikan smartphone dengan kebutuhan komputasi yang terus berkembang.
Source: www.gadgets360.com