Ketiadaan lubang headset 3,5 mm di ponsel kini bukan sekadar soal tren desain tipis. Perubahan ini berkaitan dengan efisiensi ruang, ketahanan perangkat, hingga arah industri yang makin condong ke audio digital dan nirkabel.
Tren ini mulai dikenal luas setelah Apple merilis iPhone 7 tanpa jack audio 3,5 mm. Setelah itu, banyak produsen Android mengikuti langkah serupa dan menjadikannya standar baru di banyak model menengah hingga premium.
Bukan cuma agar bodi lebih ramping
Salah satu alasan paling sering disebut adalah soal desain. Port audio 3,5 mm memang berukuran lebih besar dibanding USB-C, sehingga menghilangkannya memberi ruang lebih fleksibel untuk merancang bodi yang lebih tipis.
Kompas.com mencatat bahwa produsen mendapat keleluasaan lebih besar saat jack audio dihapus. Dampaknya bukan hanya pada tampilan yang lebih ramping, tetapi juga pada ergonomi saat ponsel digenggam lama.
Meski terlihat kecil dari luar, komponen ini memakan volume internal yang tidak sedikit. Di industri ponsel modern, setiap milimeter ruang menjadi penting karena susunan komponen di dalam bodi makin padat.
Ruang internal bisa dipakai untuk komponen lain
Produsen tidak selalu memakai ruang kosong itu untuk menipiskan perangkat. Dalam banyak kasus, ruang tersebut dialihkan untuk komponen yang dianggap lebih penting bagi pengalaman pengguna.
Contohnya adalah baterai berkapasitas lebih besar. Ada juga produsen yang memanfaatkan ruang tambahan untuk sistem pendingin, modul kamera, antena, atau komponen pendukung performa lain.
Logikanya sederhana, satu komponen lama dihapus agar komponen baru bisa dimaksimalkan. Di ponsel yang mengejar performa tinggi, kompromi ruang seperti ini menjadi keputusan desain yang sangat menentukan.
Membantu mengejar sertifikasi tahan air dan debu
Semakin banyak lubang pada bodi ponsel, semakin besar tantangan untuk menjaga perangkat tetap rapat. Karena itu, penghapusan jack audio juga sering dikaitkan dengan upaya mempermudah pencapaian standar ketahanan seperti IP67 atau IP68.
Kompas.com menulis bahwa lebih sedikit celah membuat produsen lebih mudah meningkatkan perlindungan terhadap air dan debu. Ini bukan berarti jack 3,5 mm mustahil dipasang pada ponsel tahan air, tetapi proses rekayasanya menjadi lebih rumit.
Dari sudut pandang manufaktur, menyederhanakan jumlah bukaan fisik adalah langkah logis. Produsen bisa menekan kompleksitas desain tanpa sepenuhnya mengorbankan fungsi utama perangkat.
Industri juga mendorong peralihan ke audio nirkabel
Alasan lain yang tidak kalah penting adalah perubahan ekosistem audio. Earphone dan headphone Bluetooth kini jauh lebih populer karena dianggap praktis, minim kabel, dan mudah dipakai untuk aktivitas harian.
Banyak vendor juga punya kepentingan bisnis di area ini. Apple menjual AirPods, Samsung punya Galaxy Buds, dan merek lain menawarkan TWS dengan integrasi fitur yang makin erat ke ponsel mereka.
Ketika jack audio dihapus, pengguna praktis didorong beralih ke perangkat nirkabel. Strategi ini membuat aksesori audio bukan lagi pelengkap, melainkan bagian dari ekosistem produk yang lebih luas.
Jack 3,5 mm dianggap teknologi lama
Port 3,5 mm sudah dipakai selama puluhan tahun di radio, pemutar musik, komputer, hingga ponsel. Karena usia teknologinya sangat panjang, sebagian produsen kini melihatnya sebagai komponen warisan yang tidak lagi sejalan dengan arah perangkat modern.
Sebagai gantinya, audio dialihkan ke jalur digital melalui USB-C atau koneksi nirkabel. Pendekatan ini memberi produsen lebih banyak kontrol atas fitur, kompatibilitas, dan integrasi perangkat.
Namun, pandangan ini tidak selalu diterima semua pengguna. Sebab bagi penggemar audio kabel, jack 3,5 mm masih dianggap sederhana, andal, dan tidak membutuhkan baterai tambahan.
Mengapa sebagian pengguna masih menginginkan lubang headset
Headset kabel masih punya keunggulan yang sulit diabaikan. Koneksi cenderung stabil, latensi sangat rendah, dan pengguna tidak perlu repot mengisi daya seperti pada perangkat Bluetooth.
Untuk bermain game, memantau audio, atau mendengarkan musik tanpa jeda, solusi kabel masih relevan. Karena itu, absennya jack audio sering tetap menjadi pertimbangan saat memilih ponsel.
Di sejumlah model, kebutuhan ini diatasi lewat adaptor dari USB-C ke jack 3,5 mm. Pada beberapa iPhone lama, fungsi serupa hadir lewat adaptor ke port Lightning.
Berikut opsi yang umum dipakai pengguna ponsel tanpa jack audio:
- Menggunakan earphone USB-C langsung.
- Memakai adaptor USB-C ke jack 3,5 mm.
- Beralih ke headset atau TWS Bluetooth.
- Memakai DAC eksternal untuk kebutuhan audio tertentu.
Solusi adaptor memang praktis, tetapi ada kompromi yang harus diterima. Saat port USB-C dipakai untuk audio, pengguna tidak leluasa memakainya bersamaan untuk pengisian daya atau transfer data kecuali memakai aksesori tambahan.
Di tingkat pasar, keberadaan jack audio kini lebih sering ditemukan pada ponsel entry-level, beberapa model gaming, dan perangkat yang menyasar pengguna audio tertentu. Sementara di kelas menengah atas dan flagship, port ini makin jarang karena produsen mengutamakan efisiensi desain dan integrasi ekosistem.
Itu sebabnya hilangnya lubang headset di HP modern tidak bisa dibaca hanya sebagai upaya membuat bodi lebih tipis. Keputusan itu merupakan gabungan antara pertimbangan desain, ruang komponen, ketahanan fisik, strategi bisnis aksesori, dan pergeseran industri menuju audio digital yang makin dominan.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: tekno.kompas.com








