Apple menunjukkan kemajuan besar lewat modem C1X yang dipasang di iPhone Air. Data terbaru dari Ookla menyebut kinerja modem buatan Apple itu kini sudah sangat dekat dengan Qualcomm X80 dalam pemakaian harian.
Temuan yang paling menarik datang dari sisi latensi. Di Indonesia, iPhone Air dengan modem C1X mencatat keunggulan latensi sekitar 6 ms dibanding generasi modem Apple sebelumnya, sehingga respons jaringan terlihat makin baik dalam penggunaan nyata.
Latensi iPhone Air Jadi Sorotan
Ookla, perusahaan di balik platform Speedtest, mengevaluasi performa C1X memakai data global dari berbagai pasar. Pengujian itu mencakup tiga kondisi, yakni persentil ke-10 untuk sinyal terburuk, median untuk penggunaan harian, dan persentil ke-90 untuk jaringan optimal.
Hasilnya, C1X bukan sekadar peningkatan kecil dari C1. Modem ini disebut sebagai lompatan generasi yang nyata, terutama pada kestabilan performa dan waktu respons jaringan.
Dalam laporan tersebut, iPhone Air bahkan unggul dari iPhone 17 Pro Max yang memakai Qualcomm X80 dalam urusan latensi di 19 dari 22 pasar. Hanya Taiwan dan Jepang yang menjadi pengecualian, sementara Indonesia justru masuk daftar pasar yang menunjukkan perbaikan nyata.
Bagi pengguna, latensi rendah berarti koneksi terasa lebih sigap saat membuka peta, bermain gim, melakukan panggilan video, atau memakai layanan AI berbasis cloud. Ookla menilai aspek ini akan makin penting seiring meningkatnya penggunaan komputasi real-time di perangkat mobile.
Performa Harian Kian Dekat ke Qualcomm
Pada skenario penggunaan sehari-hari, C1X mencatat peningkatan hampir di seluruh pasar yang diuji. Kenaikan paling terasa terlihat di UAE, Amerika Serikat, Arab Saudi, China, Swedia, Singapura, dan Jepang.
Ookla menilai peningkatan itu berkaitan dengan efisiensi C1X saat memanfaatkan spektrum mid-band 5G pada jam sibuk. Mid-band selama ini dianggap penting karena menawarkan keseimbangan antara cakupan dan kecepatan.
Meski begitu, hasilnya tidak seragam di semua negara. Di Brazil, India, dan Malaysia, peningkatan dari C1 ke C1X disebut tipis karena strategi jaringan 5G lokal masih banyak mengandalkan low-band DSS atau menghadapi kepadatan trafik yang lebih tinggi.
Saat dibandingkan dengan Qualcomm X80 di iPhone 17 Pro Max, C1X memang belum selalu unggul. Namun pada kecepatan unduh median, selisih di banyak pasar dinilai cukup kecil sehingga sebagian besar pengguna kemungkinan tidak akan merasakan perbedaan besar.
Lebih Tangguh Saat Sinyal Lemah
Keunggulan lain C1X terlihat pada kondisi sinyal buruk. Ini mencakup area pinggir cakupan menara atau lokasi dalam gedung beton yang biasanya membuat koneksi turun drastis.
Menurut Ookla, C1X lebih baik dalam menghindari “usability cliff”. Istilah ini merujuk pada titik saat kecepatan unduh jatuh terlalu rendah hingga aplikasi penting seperti navigasi dan video call mulai terganggu.
Peningkatan pada kondisi sinyal lemah paling jelas terlihat di pasar dengan jaringan 5G Standalone dan 5G Advanced yang lebih matang. Contohnya meliputi UAE, Singapura, China, Amerika Serikat, Prancis, dan Arab Saudi.
Untuk kecepatan unggah pada sinyal lemah, C1X juga menunjukkan hasil positif. Di Singapura, misalnya, peningkatannya mencapai 4,3 Mbps dibanding C1 dan disebut mampu menyamai performa X80.
Saat Jaringan Optimal, C1X Tembus Kelas Gigabit
Pada kondisi jaringan terbaik, C1X mampu mendekati bahkan melampaui kecepatan gigabit di sejumlah pasar. Ini menjadi pencapaian penting karena C1 pada iPhone 16e disebut belum bisa mencapai level itu.
Berikut beberapa data yang dicatat Ookla pada kondisi optimal:
- UAE: iPhone Air 1.832,3 Mbps, unggul 643,9 Mbps dari iPhone 16e.
- Arab Saudi: iPhone Air 970,0 Mbps, unggul 362,8 Mbps.
- Amerika Serikat: iPhone Air 818,0 Mbps, unggul 264,4 Mbps.
Di pasar maju seperti Swedia, China, Jerman, Jepang, dan Inggris, C1X memberi peningkatan 30 hingga 40 persen atas C1. Malaysia menjadi kasus berbeda karena iPhone 16e justru sedikit lebih baik, yang diduga terkait konfigurasi jaringan lokal.
Dalam perbandingan dengan Qualcomm X80, gap performa C1X pada kondisi ideal disebut makin tipis. Di Prancis, Swedia, Australia, Thailand, Arab Saudi, Inggris, dan Jepang, perbedaan kecepatan unggah antara keduanya dinilai terlalu kecil untuk terasa bagi kebanyakan pengguna.
Dampaknya untuk Pengguna di Indonesia
Bagi pasar Indonesia, sorotan utamanya ada pada latensi yang membaik. Perbaikan sekitar 6 ms mungkin terdengar kecil di atas kertas, tetapi dalam koneksi seluler modern, selisih itu bisa membuat respons aplikasi terasa lebih cepat dan stabil.
Hal ini penting karena pengalaman internet seluler tidak hanya ditentukan oleh angka download besar. Respons jaringan yang lebih rendah sering kali justru lebih terasa saat dipakai untuk aktivitas harian, mulai dari chat, panggilan video, navigasi, hingga layanan AI generatif.
Laporan Ookla juga menegaskan bahwa desain tipis iPhone Air tidak membuat modemnya kewalahan. Apple disebut tetap membekali perangkat ini dengan vapor chamber dan rangka titanium untuk menjaga suhu dan kestabilan performa modem saat digunakan terus-menerus.
Secara lebih luas, kemajuan C1X menunjukkan Apple makin dekat untuk mengurangi ketergantungan pada Qualcomm. Ookla menyebut program modem Apple kini sudah mencapai paritas nyata dengan Qualcomm X80 dalam banyak skenario penggunaan harian, meski Qualcomm masih punya keunggulan di beberapa area teknis seperti uplink carrier aggregation.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: inet.detik.com







