Galaxy A57 membawa satu perubahan layar yang cukup mencuri perhatian. Samsung kembali memakai panel Super AMOLED+, menggantikan Super AMOLED yang digunakan generasi sebelumnya.
Perubahan ini memicu pertanyaan sederhana yang juga paling banyak dicari pembaca. Apakah Super AMOLED+ benar-benar lebih baik, atau hanya nama lama yang dihidupkan lagi untuk memberi kesan baru?
Kembalinya label Super AMOLED+ cukup mengejutkan karena Samsung sudah jarang memakainya dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu ponsel Galaxy terakhir yang diketahui memakai teknologi ini adalah Galaxy A73, yang diperkenalkan pada Maret.
Artinya, Samsung sempat terlihat meninggalkan penamaan tersebut. Karena itu, kemunculannya di Galaxy A57 langsung memancing perhatian, terutama bagi pengguna yang mengikuti evolusi layar AMOLED Samsung dari waktu ke waktu.
Apa bedanya Super AMOLED dan Super AMOLED+?
Secara historis, Super AMOLED+ diperkenalkan Samsung sekitar 15 tahun lalu sebagai peningkatan dari Super AMOLED. Perbedaan utamanya ada pada susunan subpiksel di panel.
Super AMOLED lama menggunakan pola PenTile. Sementara itu, Super AMOLED+ memakai RGB Strip, yang pada masanya dinilai mampu menghadirkan gambar lebih tajam dan efisiensi daya yang lebih baik.
Pada era awal smartphone AMOLED, perbedaan itu relatif mudah dikenali. Teks dan garis halus pada panel RGB Strip biasanya tampak lebih rapi dibanding panel PenTile dengan resolusi serupa.
Namun konteks pasar layar saat ini sudah berbeda. Banyak panel AMOLED modern Samsung kini memakai tata letak PenTile versi yang lebih maju, yang kerap disebut Diamond PenTile.
Karena teknologi panel sudah berkembang jauh, selisih visual antara Super AMOLED dan Super AMOLED+ tidak sesederhana dulu. Secara teori, AMOLED+ tetap terdengar seperti peningkatan, tetapi dalam praktiknya belum tentu memberi lompatan kualitas yang jelas.
Apakah layar Galaxy A57 benar-benar meningkat?
Berdasarkan data dari artikel referensi SamMobile, Galaxy A57 tetap membawa refresh rate 120Hz. Tingkat kecerahan puncaknya juga disebut mencapai 1.900 nits, sama seperti Galaxy A56.
Data itu penting karena menunjukkan satu hal utama. Jika angka refresh rate dan brightness masih sama, maka kehadiran Super AMOLED+ belum otomatis berarti pengalaman layar naik drastis hanya dari sisi spesifikasi inti.
Dengan kata lain, klaim “lebih baik” harus dilihat lebih hati-hati. Nama panel memang berubah, tetapi pembaca perlu memisahkan antara perubahan istilah pemasaran dan peningkatan yang benar-benar terasa saat dipakai sehari-hari.
Peningkatan yang lebih nyata justru ada di desain layar
Jika manfaat Super AMOLED+ pada Galaxy A57 masih sulit diukur secara langsung, ada peningkatan lain yang lebih mudah dilihat. SamMobile menyebut Galaxy A57 hadir dengan bezel yang lebih tipis di semua sisi.
Bagian dagu layar memang masih ada, tetapi ukurannya lebih ramping. Bezel atas dan samping juga dibuat lebih tipis serta tampak lebih simetris, sehingga memberi kesan visual yang lebih modern.
Bagi banyak pengguna, aspek ini justru lebih terasa dalam penggunaan harian. Layar yang terlihat lebih penuh sering kali memberi pengalaman menonton, bermain gim, dan menggulir media sosial yang lebih imersif dibanding perubahan nama panel semata.
Mengapa istilah ini tetap penting?
Label Super AMOLED+ masih punya nilai historis yang kuat di ekosistem Samsung. Nama itu pernah identik dengan peningkatan kualitas tampilan pada masa ketika perbedaan jenis panel jauh lebih mudah terlihat oleh mata.
Kini, situasinya tidak sesederhana itu. Resolusi tinggi, kalibrasi warna yang lebih matang, refresh rate tinggi, dan peningkatan algoritma tampilan membuat pengalaman layar modern ditentukan oleh banyak faktor sekaligus.
Karena itu, menilai Galaxy A57 hanya dari embel-embel Super AMOLED+ bisa menyesatkan. Penamaan tersebut tetap menarik, tetapi pembaca perlu melihat paket keseluruhannya, termasuk kecerahan, kelancaran animasi, dan rancangan bezel.
Poin yang bisa dicermati sebelum menilai layar Galaxy A57
- Super AMOLED+ dulu memang identik dengan RGB Strip.
- RGB Strip pada masanya dikenal lebih tajam dibanding PenTile.
- Panel AMOLED modern sudah berkembang, sehingga selisihnya kini lebih sulit dibedakan.
- Galaxy A57 memiliki 120Hz dan 1.900 nits, sama seperti A56 menurut SamMobile.
- Peningkatan paling kasatmata justru ada pada bezel yang lebih tipis dan lebih simetris.
Dengan posisi seperti itu, Galaxy A57 menghadirkan kombinasi menarik antara nostalgia teknologi lama dan pendekatan desain yang lebih modern. Super AMOLED+ bisa saja menjadi peningkatan teknis, tetapi bukti yang paling jelas untuk saat ini justru ada pada tampilan depan yang lebih rapi, bezel yang menipis, dan presentasi layar yang terasa lebih premium dibanding pendahulunya.
Source: www.sammobile.com