Studi dari Cambridge University memunculkan perhatian baru soal mainan berbasis AI untuk anak usia dini. Alih-alih selalu membantu, mainan jenis ini dinilai berpotensi mengganggu perkembangan karena bisa salah menafsirkan emosi dan memberi respons yang kurang tepat saat anak berinteraksi.
Temuan itu menjadi penting di tengah meningkatnya minat orang tua terhadap mainan pintar yang dilengkapi chatbot AI. Bagi anak berusia 0-6 tahun, masa bermain tidak hanya soal hiburan, tetapi juga bagian dari pembentukan bahasa, komunikasi, dan kemampuan sosial.
Apa yang ditemukan peneliti
Dalam studi tersebut, para peneliti menilai mainan AI belum cukup mampu memahami isyarat emosional anak. Saat anak menunjukkan ekspresi atau ucapan yang mengandung emosi, respons mainan tidak selalu sesuai dengan maksud yang ingin disampaikan.
Peneliti juga menyoroti bahwa mainan AI belum efektif mendukung perkembangan penting anak. Meski bisa membantu pada aspek tertentu seperti bahasa dan komunikasi, risikonya tetap muncul ketika sistem menanggapi anak secara kaku atau salah arah.
Salah satu contoh yang diangkat adalah ketika anak berkata, “Aku menyayangimu,” lalu mainan AI justru membalas dengan kalimat bernada prosedural. Respons seperti itu menunjukkan keterbatasan AI dalam membaca konteks emosional yang bagi anak sangat penting.
Risiko yang perlu diwaspadai orang tua
Jenny Gibson, profesor neurodiversity dan psikologi perkembangan di Fakultas Pendidikan Cambridge University, menegaskan bahwa manfaat edukasi dari mainan AI memang ada. Namun, ia menilai dampak yang mengkhawatirkan jauh lebih banyak dan perlu diperhatikan serius oleh keluarga.
Gibson juga mempertanyakan tujuan di balik pengembangan mainan AI untuk anak, terutama jika orientasinya hanya mengejar keuntungan. Ia mengaku heran dengan antusiasme sebagian orang tua, padahal riset tentang efek jangka panjang mainan seperti ini masih terbatas.
Berikut sejumlah risiko yang disorot peneliti:
- Mainan bisa salah membaca emosi anak.
- Respons AI dapat terasa dingin atau tidak tepat.
- Interaksi anak berisiko tidak mendukung perkembangan sosial yang sehat.
- Program privasi dan kemampuan produk sering tidak dipahami orang tua secara utuh.
Saran dari peneliti
Para peneliti merekomendasikan agar mainan AI disimpan di ruangan yang mudah dipantau orang tua. Mereka juga menilai label produk harus dibuat jelas, terutama soal kemampuan sistem dan kebijakan privasi yang berlaku.
Saran lain yang muncul adalah perlunya keterlibatan lebih luas dari anak, orang tua, dan pakar perkembangan anak saat produsen merancang produk. Langkah ini dinilai penting agar mainan tidak hanya menarik secara teknologi, tetapi juga aman dan sesuai tahap tumbuh kembang.
Mainan AI dan manfaat yang tidak sepenuhnya hilang
Studi Cambridge tidak menutup kemungkinan adanya manfaat dari mainan AI. Teknologi ini memang bisa mendorong anak berlatih berbicara, menjawab pertanyaan, dan mengenal bentuk interaksi dasar yang bersifat edukatif.
Namun, manfaat tersebut tidak otomatis meniadakan risiko. Pada usia dini, kualitas respons dan kepekaan terhadap emosi jauh lebih krusial karena anak masih belajar memahami bahasa, perasaan, dan hubungan sosial secara bersamaan.
Mengapa isu ini relevan sekarang
Mainan AI mulai diposisikan sebagai teman bermain sekaligus alat belajar. Di pasar, produk semacam ini menawarkan pengalaman interaktif yang lebih canggih dibanding mainan konvensional, sehingga mudah menarik minat keluarga yang ingin memberi stimulasi tambahan untuk anak.
Meski begitu, studi Cambridge mengingatkan bahwa kecanggihan teknologi tidak selalu berarti lebih baik untuk perkembangan anak. Dalam konteks usia dini, pendampingan manusia tetap menjadi faktor yang paling menentukan agar interaksi bermain tidak bergeser menjadi ketergantungan pada jawaban mesin yang belum tentu memahami kebutuhan emosional anak.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: tekno.kompas.com








