iPhone Air Lebih Diminati Ketimbang Plus, Strategi Baru Apple Mulai Terbukti?

Apple tampaknya mulai menemukan formula baru untuk lini iPhone non-Pro melalui iPhone Air. Data terbaru dari Ookla menunjukkan model ini jauh lebih diminati dibandingkan iPhone 16 Plus, dengan tingkat penggunaan yang bahkan nyaris menyamai iPhone 17 standar.

Temuan itu menarik karena Apple sebelumnya kerap kesulitan membuat varian “tengah” yang cukup kuat di pasar. Setelah iPhone mini tidak bertahan lama dan model Plus sering tertinggal dari seri utama, iPhone Air kini muncul sebagai kandidat yang lebih tepat untuk mengisi celah di antara model standar dan Pro.

iPhone Air unggul jauh dari Plus

Ookla mengumpulkan data dari jaringan seluler dan analisis penggunaan aplikasi Speedtest di iPhone milik pengguna sehari-hari. Dari sana, perusahaan tersebut membandingkan jumlah sampel uji Speedtest pada masing-masing model untuk memperkirakan minat pasar terhadap iPhone Air dan iPhone 16 Plus.

Hasilnya cukup jelas. iPhone 16 Plus hanya mencatat porsi penggunaan 3% pada periode peluncuran iPhone 16 di akhir tahun lalu. Angka itu tertinggal dari iPhone 16 standar yang mencapai 5,9%, lalu sangat jauh dibandingkan varian Pro dan Pro Max yang masing-masing berada di 34% dan 56%.

Sebaliknya, iPhone Air melonjak ke 6,8% pada periode yang sama di tahun berikutnya. Dengan angka itu, iPhone Air hampir tiga kali lebih populer dibanding iPhone 16 Plus dan posisinya makin dekat dengan iPhone 17 standar.

Mengapa strategi Apple tampak berhasil

Apple tampaknya belajar dari pengalaman sebelumnya dengan model Mini dan Plus. Keduanya menawarkan alternatif harga dan ukuran, tetapi tidak pernah benar-benar menciptakan daya tarik yang cukup kuat dibandingkan model utama dan varian Pro.

iPhone Air hadir dengan pendekatan berbeda karena menonjolkan desain super tipis, bukan sekadar varian “lebih besar” atau “lebih kecil”. Strategi ini memberi identitas yang lebih jelas, sehingga konsumen punya alasan emosional dan fungsional untuk memilihnya.

Dari sudut pandang pemasaran, langkah itu penting karena pembeli iPhone sering mencari pembeda yang terasa nyata. Jika Plus hanya dipandang sebagai versi besar dari model standar, iPhone Air justru membawa citra baru yang lebih segar dan terlihat premium.

Data wilayah menunjukkan permintaan lebih luas

Ookla juga menemukan bahwa daya tarik iPhone Air tidak hanya kuat di Amerika Serikat. Di Korea Selatan, pangsa iPhone Air bahkan mencapai 11,2%, sedangkan perangkat ini juga dikenal populer di Jepang, Swedia, dan Singapura.

Pola ini menunjukkan bahwa desain super tipis punya resonansi yang berbeda di sejumlah pasar. Konsumen di negara-negara tersebut tampaknya lebih responsif terhadap ponsel dengan profil ramping, yang memberi nilai tambah di luar sekadar spesifikasi teknis.

Berikut perbandingan singkat yang disebut dalam data Ookla:

  1. iPhone 16 Plus: 3%
  2. iPhone 16 standar: 5,9%
  3. iPhone Air: 6,8%
  4. iPhone 16 Pro: 34%
  5. iPhone 16 Pro Max: 56%

Performa modem ikut memperkuat posisi iPhone Air

Selain desain, Ookla juga menyoroti modem C1X yang dipakai di iPhone Air. Modem ini disebut membawa kemajuan besar dibandingkan C1, dengan kecepatan unduh di jaringan 5G yang mendekati performa modem Qualcomm pada iPhone 17 Pro.

Fakta ini penting karena minat pasar terhadap desain tipis biasanya akan cepat turun jika performa jaringan atau daya tahan tidak seimbang. Dalam kasus iPhone Air, Apple tampak berhasil menjaga keseimbangan antara bentuk, pengalaman pakai, dan konektivitas.

Dengan kombinasi itu, iPhone Air bukan hanya terlihat lebih menarik di atas kertas, tetapi juga punya landasan teknis yang bisa mendukung penjualannya. Jika tren ini bertahan, Apple bisa saja menganggap Air sebagai penerus paling sukses untuk celah pasar yang dulu ditempati Plus.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: inet.detik.com

Berita Terkait

Back to top button