Pengalaman menggunakan Samsung Galaxy S26 Ultra menegaskan satu hal yang cukup jelas: ponsel ini sangat kuat, sangat mahal, tetapi daya tahan baterainya belum selevel dengan ekspektasi untuk kelas superphone. Di saat sejumlah ponsel Android kontemporer justru menawarkan ketahanan yang jauh lebih meyakinkan, kelemahan ini terasa semakin menonjol.
Masalah baterai bukan selalu soal angka kapasitas semata, melainkan bagaimana perangkat mengelola konsumsi daya saat dipakai berat. Pada Galaxy S26 Ultra, kapasitas 5.000mAh sudah tidak lagi terasa istimewa ketika banyak ponsel lain mulai membawa baterai lebih besar, sementara fitur kelas atas, chip bertenaga, layar canggih, dan komponen internal lain ikut menguras daya lebih cepat.
Baterai Galaxy S26 Ultra terasa biasa saja di kelasnya
Dalam penggunaan harian, Galaxy S26 Ultra dilaporkan sering turun daya lebih cepat dari yang diharapkan. Saat dipakai untuk navigasi di kota baru, memotret dalam perjalanan kerja, atau bermain gim saat bepergian, persentase baterai bisa merosot tajam dan memaksa pengisian ulang pada sore hari.
Bahkan saat pemakaian lebih ringan, perangkat ini masih disebut sulit bertahan sampai satu hari penuh. Kondisi itu terasa janggal untuk ponsel premium yang diposisikan sebagai perangkat andalan, apalagi perangkat ini juga membawa stylus dan komponen kelas atas yang semestinya mendukung pengalaman produktif tanpa sering mencari colokan.
Sumber referensi juga menyoroti bahwa panas ikut berperan dalam konsumsi daya. Perangkat tercatat cukup hangat saat digunakan, dan panas pada perangkat elektronik umumnya berarti energi ikut terbuang, sehingga efisiensi baterai makin menurun.
Dua ponsel murah yang justru menaikkan standar
Perbandingan paling tajam datang dari dua ponsel kontemporer yang jauh lebih murah dibanding superphone Samsung tersebut. OnePlus 15R, misalnya, membawa baterai 7.400mAh dan memberi pengalaman yang sangat berbeda dalam penggunaan harian.
Selama periode penggunaan intensif, ponsel itu dilaporkan mampu bertahan berhari-hari tanpa perlu sering diisi ulang. Pengguna bahkan bisa melupakan kebiasaan mengisi daya setiap malam, karena perangkat masih menyisakan cadangan baterai yang sangat lega pada akhir hari.
Lebih jauh lagi, Poco X8 Pro Max mendorong ekspektasi itu ke level yang lebih ekstrem. Ponsel ini membawa baterai 8.500mAh, angka yang disebut dua kali kapasitas iPhone 17 Pro, dan tetap hadir dalam bodi setebal 8,2mm.
Perbandingan kapasitas baterai
- Samsung Galaxy S26 Ultra: 5.000mAh
- OnePlus 15R: 7.400mAh
- Poco X8 Pro Max: 8.500mAh
Selain kapasitas yang besar, Poco X8 Pro Max juga menawarkan pengisian cepat 100W. Kombinasi ini membuat jeda pengisian jadi singkat, sehingga pengguna tidak perlu lama menunggu untuk kembali memakai perangkat.
Kenapa ponsel kelas atas masih kalah efisien
Kenyataannya, ponsel premium sering membawa beban desain yang lebih berat. Layar resolusi tinggi, fitur tambahan seperti Privacy Display, chipset paling kencang, serta integrasi stylus memberi nilai tambah, tetapi juga meningkatkan konsumsi energi.
Samsung Galaxy S26 Ultra tidak tampil buruk secara keseluruhan. Namun, ketika dua ponsel dengan harga dan kelas pasar berbeda mampu memberikan ketahanan yang lebih nyaman, pembeli wajar mempertanyakan mengapa flagship seharga tinggi masih bergantung pada baterai yang terasa standar.
Faktor yang paling memengaruhi daya tahan
- Chipset dan beban komputasi tinggi
- Layar dan fitur visual tambahan
- Manajemen panas perangkat
- Kapasitas baterai yang tidak lagi unggul di kelasnya
- Pola penggunaan berat seperti navigasi, foto, dan gim
Menurut halaman Android Police yang menjadi sumber referensi, pergeseran pasar ini penting karena kapasitas besar kini mulai muncul lebih luas, bukan hanya di ponsel khusus tahan lama. Artinya, standar baterai di kelas flagship juga ikut berubah, dan pengguna makin mudah melihat perbedaan antara perangkat mahal yang “cukup” dan perangkat yang benar-benar awet.
Di titik ini, Samsung Galaxy S26 Ultra tetap menjadi ponsel Android yang impresif, tetapi isu baterai membuatnya terasa kurang meyakinkan saat dibandingkan dengan ponsel-ponsel murah yang justru lebih unggul dalam durabilitas daya. Jika tren baterai besar dan pengisian cepat terus berkembang, tekanan bagi flagship mahal akan semakin besar agar tidak sekadar unggul di kamera dan performa, tetapi juga di aspek yang paling sering dipakai setiap hari.









