Samsung kembali memperluas lini ponsel kelas menengahnya lewat Galaxy A37 dan Galaxy A57, dua model yang terlihat mirip tetapi ditujukan untuk segmen harga yang berbeda. Dari sesi hands-on, Galaxy A37 justru memberi kesan paling menarik karena menawarkan banyak fitur yang terasa lebih dekat ke ponsel premium tanpa membuat banderolnya naik terlalu tinggi.
Di atas kertas, Galaxy A37 dibanderol mulai dari $450 untuk varian 6GB/128GB, sedangkan versi 8GB/256GB dijual $540. Galaxy A57 berada satu tingkat di atasnya, dengan harga awal $550 untuk 8GB/128GB dan $610 untuk 8GB/256GB, sehingga jarak harga keduanya tidak terlalu jauh tetapi cukup untuk memengaruhi pilihan pembeli.
Spesifikasi yang jadi pembeda
Samsung memberi inti perangkat keras yang berbeda pada dua model ini. Galaxy A37 memakai Exynos 1480, chip yang lebih baru dan lebih bertenaga dibanding pendahulunya, sementara Galaxy A57 membawa Exynos 1680 yang sedikit lebih kencang dan mendukung pengalaman yang lebih premium.
Berikut ringkasan perbedaan utamanya:
- Galaxy A37: Exynos 1480, RAM 6GB atau 8GB, penyimpanan 128GB atau 256GB.
- Galaxy A57: Exynos 1680, RAM 8GB, penyimpanan 128GB atau 256GB.
- Keduanya: layar AMOLED 6,7 inci dengan refresh rate 120Hz, baterai 5.000mAh, tiga kamera belakang, dan sertifikasi IP68.
- Pengisian daya: keduanya mendukung kabel hingga 45 watt, tetapi tidak mendukung wireless charging.
Bagi banyak calon pembeli, dukungan pengisian 45 watt menjadi nilai penting karena angka itu lebih cepat daripada batas 25 watt pada Galaxy S26 dasar. Dalam praktiknya, Samsung menempatkan dua model ini sebagai opsi yang tetap kompetitif untuk pengguna yang menginginkan daya tahan baterai dan pengisian cepat tanpa masuk ke kelas atas.
A37 terasa lebih masuk akal untuk banyak orang
Kesan paling kuat dari sesi hands-on datang dari Galaxy A37. Meski memakai rangka plastik, ponsel ini tetap terasa rapi dan hampir tidak berbeda jauh dari A57 saat dilihat sekilas, kecuali bezel yang sedikit lebih tebal dan rasa bodi yang tidak sedingin aluminium.
Perbedaan material memang ada, tetapi Samsung berhasil menyamarkannya dengan baik. Desain tombol, ukuran layar, dan tata letak kamera dibuat nyaris identik, sehingga kesan visual keduanya tetap seragam dan modern.
Yang membuat A37 menonjol adalah rasio fitur terhadap harga. Ponsel ini terasa jauh lebih gesit dibanding Galaxy A17, terutama saat dipakai untuk multitasking dan tugas berbasis AI seperti menghapus objek yang mengganggu di foto. Samsung juga memberi A37 layar besar, speaker stereo, dan kamera depan hole-punch, yang semuanya meningkatkan pengalaman harian.
Fitur AI mulai turun ke kelas menengah
Samsung tidak hanya menjual spesifikasi inti, tetapi juga membawa beberapa fitur AI dari lini flagship ke kedua perangkat ini. Di antaranya ada peningkatan dukungan Circle to Search, Object Eraser, serta transkripsi dan terjemahan yang lebih baik di aplikasi Samsung Voice Recorder.
Pada penggunaan awal, fitur-fitur tersebut memang belum terasa seperti gimmick. Justru, kemampuan menghapus objek dan memasukkan hasil edit secara cepat memberi nilai tambah yang relevan untuk pengguna umum, terutama mereka yang sering mengandalkan kamera ponsel untuk media sosial atau pekerjaan ringan.
A57 lebih premium, tetapi kena serang harga
Galaxy A57 menawarkan chassis aluminium, Bluetooth 6, Wi‑Fi 6E, sensor ultrawide 12MP, dan fitur Best Face yang tidak dimiliki A37. Namun, sebagian besar keunggulan itu tidak langsung terasa dalam penggunaan awal, sehingga selisih harga $100 dari A37 terasa kurang mudah dibenarkan.
Samsung memang memberi A57 tampilan lebih premium dan opsi teknis yang lebih lengkap, tetapi ponsel ini masuk ke segmen yang sangat ramai. Pixel 10a diposisikan sebagai rival yang lebih murah dengan wireless charging, antarmuka lebih bersih, kapasitas baterai sedikit lebih besar, dan kualitas foto yang sangat kuat. Di sisi lain, Galaxy S25 FE juga jadi pesaing internal yang berat karena sering didiskon di bawah $600 sambil membawa desain lebih menarik, update software lebih panjang, dan kamera telefoto sungguhan.
Pilihan warna dan strategi pasar
Galaxy A37 hadir dalam empat warna, yaitu charcoal, white, lavender, dan graygreen, meski dua opsi terakhir punya batasan distribusi di ritel tertentu. Galaxy A57 justru hanya tersedia dalam warna navy, yang membuat opsi personalisasi di model yang lebih mahal ini terasa lebih sempit.
Pilihan warna yang lebih banyak pada A37 memberi sinyal bahwa Samsung mungkin melihat model ini sebagai produk utama di keluarga baru A-series. Dengan harga yang lebih rendah, spesifikasi yang tetap kuat, layar besar, dan sejumlah fitur AI yang ikut turun, A37 tampil sebagai perangkat yang paling seimbang untuk pasar menengah.
Kedua model ini akan mulai dijual pada 9 April, dan dari impresi awal, Galaxy A37 tampak seperti ponsel yang paling berpotensi mencuri perhatian karena menawarkan pengalaman yang sangat dekat dengan A57, tetapi dengan harga awal yang jauh lebih mudah diterima.








