Samsung dikabarkan mulai menghentikan produksi Galaxy Z TriFold hanya sekitar tiga bulan setelah perangkat tiga lipatan itu diperkenalkan. Langkah ini dipicu oleh penjualan yang melambat, terutama di pasar Korea Selatan, sementara distribusi di negara lain seperti Amerika Serikat diperkirakan akan berakhir saat stok yang tersedia habis.
Meski terlihat seperti penarikan cepat, keputusan itu tidak otomatis menandakan akhir dari eksperimen ponsel lipat tiga. Perangkat dengan harga premium sekitar $2.899 tersebut sejak awal memang diposisikan sebagai produk eksperimental, bukan model massal untuk pasar luas.
Produksi dihentikan, stok tinggal menunggu habis
Laporan yang beredar menyebut Samsung menghentikan produksi Galaxy Z TriFold setelah respons pasar tidak sekuat yang diharapkan. Situasi ini paling terlihat di Korea Selatan, yang menjadi salah satu pasar awal sekaligus indikator penting bagi lini produk premium Samsung.
Di pasar lain, termasuk Amerika Serikat, skemanya diperkirakan serupa. Distribusi tidak langsung ditarik, tetapi akan mengikuti ketersediaan unit yang ada hingga stok habis terjual.
Minat konsumen tetap ada meski perangkat sangat mahal
Harga $2.899 membuat Galaxy Z TriFold berada di level yang sangat tinggi, bahkan untuk ukuran perangkat flagship. Namun, keterbatasan populasi penjualan tidak berarti minat pasar benar-benar hilang.
Laporan menyebut unit yang sempat tersedia justru habis dalam jumlah terbatas. Fakta ini menunjukkan ada segmen konsumen yang penasaran dengan format tiga lipatan, terutama mereka yang mencari perangkat berbeda dari ponsel lipat konvensional.
Samsung belum meninggalkan konsep tri-fold
Langkah produksi yang berhenti lebih dulu tidak menghentikan arah riset Samsung di sektor ini. Berdasarkan laporan tipster Korea yeux1122, perusahaan disebut sudah memulai pengembangan Galaxy Z TriFold 2 meski masih berada pada tahap prototipe awal.
Fokus pengembangan itu ada pada engsel, yang menjadi komponen paling krusial pada desain tiga lipatan. Samsung ingin menyempurnakan mekanisme buka-tutup agar perangkat lebih nyaman dipakai dan lebih tahan dalam pemakaian jangka panjang.
Tantangan utama generasi pertama
Galaxy Z TriFold generasi pertama memiliki ketebalan sekitar 12,9 mm saat dilipat. Ukuran itu membuat perangkat terasa lebih besar dibandingkan ponsel lipat biasa, sehingga wajar jika Samsung menempatkannya sebagai perangkat eksperimental.
Untuk generasi berikutnya, Samsung disebut menargetkan desain yang lebih tipis dan ringan. Meski begitu, perangkat baru itu tetap diperkirakan sedikit lebih tebal dibanding lini Galaxy Z Fold 7 karena struktur lipatan tiga yang jauh lebih kompleks.
Beberapa tantangan teknis yang masih harus dibenahi antara lain:
- Ketahanan engsel dalam pemakaian harian.
- Visibilitas lipatan pada layar fleksibel.
- Bobot dan ketebalan perangkat.
- Stabilitas desain saat dibuka penuh.
- Kenyamanan saat perangkat dibawa dalam mode terlipat.
Arah inovasi belum berhenti di layar lipat tiga
Samsung juga dikabarkan terus menjajaki format layar lain di luar tri-fold. Perusahaan disebut mengembangkan perangkat dengan layar OLED geser atau rollable yang memakai mekanisme manual, bukan mesin otomatis seperti yang pernah dipamerkan di ajang Consumer Electronics Show.
Ketika diperluas, layar perangkat itu bisa mencapai sekitar 7 inci, sehingga memberi ruang bagi transisi dari ponsel ke tablet mini dengan cara yang lebih fleksibel. Pendekatan ini menunjukkan Samsung masih aktif mencari format baru untuk perangkat premium masa depan.
Perjalanan Galaxy Z TriFold generasi pertama memperlihatkan bahwa pasar ponsel lipat masih berada pada tahap eksplorasi. Meski penjualannya terbatas dan produksinya dikabarkan berhenti, Samsung tetap memiliki pijakan untuk mengembangkan tri-fold yang lebih matang, lebih tipis, dan lebih siap bersaing jika nanti dibawa ke tahap komersial yang lebih luas.
