Krisis RAM Menghantam Ponsel, Penjualan Anjlok 9% Saat Konsumen Mulai Menahan Diri

Pasar smartphone India sedang menghadapi tekanan besar akibat kenaikan biaya memori, terutama RAM, yang mendorong harga perangkat naik dan menahan minat beli konsumen. Laporan terbaru Counterpoint Research menunjukkan penjualan smartphone di India turun 9 persen secara tahunan pada sembilan pekan pertama kuartal pertama.

Penurunan ini menjadi sinyal bahwa pasar yang biasanya sangat aktif justru mulai kehilangan momentum. Kenaikan harga komponen membuat pabrikan sulit menjaga rasio nilai dan harga, terutama pada segmen ponsel terjangkau dan kelas menengah yang selama ini menjadi tulang punggung pasar India.

Penjualan Turun Saat Harga Naik

Counterpoint Research menilai krisis RAM menjadi pemicu utama melemahnya pasar. Pasokan memori untuk industri smartphone tertekan karena pusat data AI menyerap stok dalam jumlah besar, sehingga produsen ponsel harus membeli komponen dengan harga jauh lebih tinggi.

Dampaknya langsung terasa pada harga jual perangkat. Dalam artikel rujukan, disebutkan bahwa harga ponsel yang sama rata-rata meningkat sekitar Rs 1,500 dibanding periode sebelumnya.

Kenaikan ini mengubah perilaku konsumen. Banyak pembeli memilih menunda upgrade karena manfaat perangkat baru tidak lagi terasa sebanding dengan harga yang harus dibayar.

Kondisi tersebut paling terasa pada segmen affordable dan mid-range. Di dua kelas harga ini, konsumen cenderung sangat sensitif terhadap selisih harga kecil sekalipun.

Tekanan dari Sisi Pasokan dan Permintaan

Masalah pasar India bukan hanya soal penawaran yang mahal, tetapi juga soal daya beli yang melemah. Ketika harga produk naik, tingkat konversi di ritel menurun karena konsumen lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran.

Counterpoint juga menyoroti perubahan sentimen konsumen di pasar smartphone India. Meski peluncuran produk baru tetap berlangsung rutin, dorongan untuk mengganti perangkat tidak sekuat sebelumnya.

Direktur Counterpoint Research, Tarun Pathak, mengatakan situasi geopolitik yang berlangsung ikut memperluas tekanan terhadap pasar. Menurut dia, kenaikan biaya barang esensial seperti gas memasak dan bahan bakar kendaraan berpotensi membuat konsumen makin menahan pembelian smartphone baru.

Faktor itu penting karena smartphone bukan lagi pengeluaran prioritas bagi banyak rumah tangga. Saat biaya hidup naik, belanja perangkat elektronik biasanya menjadi salah satu pos yang pertama kali ditunda.

Jeda Sementara dari Promo Online

Pasar sempat mendapat dorongan pada periode promo Hari Republik. Saat itu, volume penjualan tertinggi tercatat lewat kanal online karena adanya penawaran bank, cashback, dan skema cicilan EMI yang lebih fleksibel.

Namun, dorongan tersebut belum cukup untuk mengubah arah pasar secara keseluruhan. Promo hanya memberi jeda sementara, bukan pemulihan yang berkelanjutan.

Model penjualan berbasis diskon juga menunjukkan bahwa konsumen kini menunggu momen harga terbaik. Artinya, pembelian impulsif makin berkurang dan keputusan belanja menjadi lebih rasional.

Merek yang Masih Tumbuh di Tengah Pelemahan

Meski pasar secara umum turun, beberapa merek masih mampu mencatat pertumbuhan. Vivo muncul sebagai pemimpin pasar dalam periode ini dengan pertumbuhan penjualan tahunan 19 persen.

Kinerja Vivo ditopang oleh peluncuran seri Y dan T, termasuk Vivo T5x 5G dan Vivo Y11 5G. Strategi menghadirkan model baru di segmen populer tampaknya masih efektif untuk menjaga volume.

Apple juga tetap tumbuh di tengah perlambatan pasar. Menurut data yang dikutip dari laporan tersebut, penjualan Apple naik 12 persen secara tahunan berkat diskon di kanal ritel dan stabilnya permintaan untuk seri iPhone 17, terutama model standar.

Kinerja dua merek itu menunjukkan bahwa pasar India belum sepenuhnya melemah secara merata. Merek dengan strategi distribusi kuat, promosi agresif, dan portofolio produk yang tepat masih bisa mencuri peluang.

Fakta Utama dari Laporan Counterpoint

Berikut poin penting yang menggambarkan kondisi pasar smartphone India saat ini:

  1. Penjualan smartphone India turun 9 persen secara tahunan pada sembilan pekan pertama kuartal pertama.
  2. Krisis RAM disebut sebagai penyebab utama kenaikan biaya produksi perangkat.
  3. Harga ponsel yang sama rata-rata naik sekitar Rs 1,500.
  4. Kanal online menjadi penopang utama penjualan selama periode promo Hari Republik.
  5. Vivo tumbuh 19 persen secara tahunan dan menjadi merek terdepan.
  6. Apple naik 12 persen secara tahunan, didorong diskon ritel dan popularitas iPhone 17.

Mengapa Segmen Menengah Paling Terpukul

Segmen menengah dan entry-level sangat bergantung pada efisiensi biaya komponen. Saat RAM dan memori naik tajam, produsen punya ruang yang lebih sempit untuk menawarkan spesifikasi menarik tanpa menaikkan harga.

Dalam situasi seperti ini, konsumen sering memilih dua opsi. Mereka menunda pembelian atau memperpanjang masa pakai ponsel lama.

Tren itu juga sejalan dengan kondisi pasar global yang mulai lebih matang. Banyak pengguna merasa perangkat lama masih cukup untuk kebutuhan harian seperti pesan instan, video, media sosial, dan transaksi digital.

Jika biaya memori tetap tinggi dan tekanan biaya hidup berlanjut, pasar India berpotensi menghadapi perlambatan yang lebih dalam pada periode berikutnya. Fokus industri kini tertuju pada kemampuan merek menjaga harga tetap kompetitif sambil mengandalkan promosi, pembiayaan ringan, dan peluncuran model yang benar-benar relevan dengan kebutuhan konsumen.

Source: gadgets.beebom.com

Berita Terkait

Back to top button