Motorola Bangkit dari Kubur, Taklukkan Pasar HP Lipat Samsung dan Apple

Motorola kembali mencuri perhatian di pasar ponsel lipat, sebuah segmen yang dulu sempat identik dengan kejayaan RAZR V3 di awal era 2000-an. Setelah lama kalah pamor dari Samsung dan pemain lain, merek ini kini mulai bangkit lewat strategi yang lebih agresif dan produk lipat generasi baru.

Laporan terbaru menunjukkan Motorola tidak lagi sekadar nama nostalgia. Di Amerika Serikat, perusahaan ini disebut menguasai 50% pasar ponsel lipat, lalu meraih 55% pangsa pasar di Amerika Latin dan 13% di Eropa.

Motorola memanfaatkan kekuatan nama lama

Kebangkitan Motorola tidak terjadi begitu saja. Nama Razr masih punya daya tarik kuat di benak konsumen, terutama bagi pengguna yang pernah mengenal ponsel lipat klasik dengan desain ikonik dan bodi tipis.

Di saat yang sama, Motorola tidak lagi mengandalkan model flip konvensional seperti masa lalu. Perusahaan ini bergerak ke arah perangkat lipat modern dengan layar fleksibel yang lebih fungsional, mengikuti arah perkembangan pasar yang kini didominasi format lipat berbentuk buku dan clamshell premium.

Berdasarkan laporan IDC, Motorola berhasil mengungguli merek yang lebih dulu aktif di pasar ponsel lipat seperti Samsung dan Google di Amerika Serikat. Secara total, pangsa pasar HP lipat Motorola juga mencapai 14%, menunjukkan posisi yang makin serius di segmen ini.

Peta persaingan berubah, Samsung tetap kuat

Samsung masih menjadi pemain utama dalam ponsel lipat generasi baru. Perusahaan asal Korea Selatan itu lebih dulu mendorong adopsi layar fleksibel yang benar-benar bisa dilipat, dan selama ini menjadi acuan industri untuk kategori foldable.

Namun, dominasi Samsung tidak lagi tanpa tekanan. Motorola mulai mengambil ruang di beberapa wilayah penting, terutama di pasar yang masih memberi perhatian besar pada desain, identitas merek, dan harga yang dianggap kompetitif di kelas premium.

Peta persaingan juga berpotensi makin ketat karena Apple dikabarkan akan segera masuk ke pasar ponsel lipat. Selain itu, Honor masih menjadi penantang yang harus diperhitungkan dalam perebutan konsumen kelas atas.

Spesifikasi Razr Fold mulai jadi sorotan

Motorola disebut tengah menyiapkan Razr Fold, ponsel lipat berbentuk buku yang ditujukan untuk pasar premium. Perangkat ini kabarnya memakai chipset Snapdragon 8 Generasi ke-5, baterai 6.000 mAh, serta dukungan pengisian cepat 80W dan nirkabel 50W.

Dari sisi layar, perangkat itu disebut membawa panel depan 6,6 inci dan layar utama 8,1 inci. Konfigurasi ini menempatkan Razr Fold sebagai perangkat yang tidak hanya mengandalkan desain, tetapi juga diarahkan untuk kenyamanan kerja dan konsumsi konten.

Susunan kameranya juga dibuat lengkap untuk kelas flagship. Di bagian luar terdapat kamera depan 32MP, lalu kamera 20MP di bagian dalam, sementara kamera belakangnya terdiri dari sensor utama 50MP Sony LYTIA, ultrawide 50MP, dan telefoto 3x 50MP.

Faktor yang mendorong kebangkitan Motorola

Ada beberapa alasan yang membuat Motorola kini kembali relevan di pasar ponsel lipat, khususnya di saat minat konsumen pada perangkat premium terus tumbuh.

  1. Kekuatan merek legendaris
    Nama Razr masih memiliki nilai emosional yang tinggi di pasar global.

  2. Momentum pasar foldable
    Segmen ponsel lipat terus berkembang dan mulai masuk ke tahap adopsi yang lebih luas.

  3. Strategi produk yang lebih jelas
    Motorola kini menawarkan desain lipat modern, bukan sekadar mengulang model lawas.

  4. Daya saing regional
    Dominasi di Amerika Serikat dan Amerika Latin memberi fondasi kuat untuk ekspansi lebih lanjut.

  5. Peningkatan fitur kelas atas
    Spesifikasi premium membantu Motorola bersaing di segmen yang sangat sensitif terhadap inovasi.

Harga dan posisi pasar

Razr Fold akan diluncurkan bersama Pen Stylus dan dibanderol sekitar 1.999 euro. Hingga kini, belum ada tanggal pasti peluncurannya, tetapi informasi yang beredar sudah cukup untuk menunjukkan bahwa Motorola menargetkan segmen premium secara langsung.

Langkah ini menegaskan bahwa Motorola tidak lagi ingin dikenal hanya sebagai merek nostalgia. Dengan pangsa pasar yang kini menanjak dan produk baru yang lebih ambisius, perusahaan ini tengah berusaha mengubah citra lama menjadi kekuatan baru di pasar ponsel lipat yang semakin kompetitif.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button