Redmi A7 Pro Mengejar Galaxy A06, Xiaomi Pikat Pasar Entry-Level dengan Layar 120Hz

Xiaomi kembali memperketat persaingan di pasar ponsel entry-level Indonesia lewat kehadiran Redmi A7 Pro. Perangkat ini dibidik untuk konsumen dengan dana terbatas di kisaran Rp1,5 juta hingga Rp1,6 juta, sebuah level harga yang kini menjadi arena paling panas di pasar smartphone nasional.

Langkah ini muncul di tengah dominasi segmen harga murah yang masih menyumbang porsi terbesar pengiriman ponsel di Indonesia sepanjang 2025. Data riset pasar yang dikutip menunjukkan, kategori di bawah US$200 atau sekitar Rp3 juta menyumbang lebih dari 60% pangsa pasar, terutama karena permintaan dari pengguna pertama dan pembeli muda di daerah penyangga.

Strategi Xiaomi di Kelas Bawah

Marketing Director Xiaomi Indonesia, Andi Renreng, mengatakan Redmi A7 Pro dirancang untuk mengikuti kebutuhan pengguna yang aktif dan membutuhkan perangkat serba bisa. Ia menegaskan, Xiaomi ingin menawarkan kombinasi baterai besar, performa yang stabil, dan layar yang nyaman untuk dipakai sehari-hari.

“Kami menghadirkan solusi lengkap dengan baterai besar, performa optimal, dan layar imersif yang mendukung gaya hidup mereka,” ujar Andi dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (1/4/2026). Pendekatan ini memperlihatkan upaya Xiaomi menjaga daya saing di segmen yang sangat sensitif terhadap harga namun tetap menuntut spesifikasi menarik.

Fitur yang Menjadi Senjata Redmi A7 Pro

Xiaomi memberi sejumlah fitur yang biasanya jarang ditemukan di kelas harga ini. Salah satunya layar 6,9 inci dengan refresh rate hingga 120Hz yang membuat pengalaman menggulir layar dan bermain gim terasa lebih halus.

Layar tersebut juga didukung tingkat kecerahan 800 nits agar tetap nyaman dipakai di luar ruangan. Selain itu, Redmi A7 Pro membawa baterai 6.000 mAh yang diklaim mampu bertahan hingga dua hari untuk pemakaian normal.

Detail Utama Redmi A7 Pro

  1. Layar 6,9 inci
  2. Refresh rate hingga 120Hz
  3. Kecerahan 800 nits
  4. Baterai 6.000 mAh
  5. Sistem operasi Xiaomi HyperOS 3

Kombinasi spesifikasi itu menunjukkan Xiaomi tidak hanya bersaing lewat harga, tetapi juga lewat pengalaman pakai. Kehadiran HyperOS 3 menjadi sorotan karena sistem ini dirancang untuk membuat multitasking lebih responsif dan mengurangi hambatan saat membuka banyak aplikasi.

Perang Harga di Rp1,5 Jutaan

Persaingan di kelas Rp1,5 jutaan sangat ketat karena hampir semua merek besar menaruh produk andalan di rentang harga tersebut. Samsung Galaxy A06 menjadi salah satu lawan utama dengan tawaran keamanan Knox Vault, sementara Infinix Hot 50i hadir dengan RAM besar dan desain tipis di harga Rp1.499.000.

Tekanan juga datang dari Tecno Spark 30C yang dijual sekitar Rp1.450.000 dengan penekanan pada ketahanan benturan. Oppo A18 varian dasar tetap menjadi penantang penting di harga Rp1.599.000 berkat material yang lebih tahan untuk penggunaan harian.

Di pasar seperti ini, selisih fitur kecil bisa menentukan keputusan pembelian. Pelajar, pekerja sektor informal, dan pembeli ponsel pertama biasanya mencari kombinasi harga terjangkau, baterai awet, dan layar lega yang bisa mendukung aktivitas harian tanpa sering mengisi daya.

Kenapa Segmen Entry-Level Masih Menarik

Pasar entry-level tetap kuat karena kebutuhan dasar smartphone terus meningkat di berbagai lapisan masyarakat. Banyak konsumen kini memakai ponsel murah bukan hanya untuk telepon dan chat, tetapi juga untuk kelas daring, media sosial, pembayaran digital, dan hiburan ringan.

Kondisi itu membuat produsen harus menyeimbangkan biaya produksi dengan fitur yang relevan. Xiaomi mencoba membaca pasar tersebut dengan menonjolkan layar besar, refresh rate tinggi, dan baterai jumbo sebagai nilai jual utama Redmi A7 Pro.

Di level kompetisi saat ini, perang di segmen bawah bukan cuma soal siapa yang paling murah. Konsumen mulai membandingkan umur pakai baterai, kemudahan penggunaan, keamanan perangkat, serta kenyamanan layar sebelum memutuskan membeli satu model tertentu.

Baca selengkapnya di: teknologi.bisnis.com

Berita Terkait

Back to top button