
OpenAI resmi menghentikan Sora, model AI pembuat video dari teks yang sempat menyedot perhatian industri teknologi. Keputusan ini mengejutkan karena Sora sebelumnya dipandang sebagai salah satu produk paling ambisius dari OpenAI dalam mendorong generasi baru konten visual berbasis kecerdasan buatan.
Penghentian itu memunculkan pertanyaan besar di kalangan publik dan pelaku industri, mulai dari soal biaya operasional hingga tekanan etika akibat risiko deepfake. Laporan The Wall Street Journal menyebut penutupan Sora lebih banyak dipicu oleh persoalan bisnis dan strategi, bukan semata-mata masalah teknis.
Biaya Operasional Jadi Beban Terbesar
Sora disebut membutuhkan biaya operasional yang sangat besar untuk tetap berjalan. OpenAI dikabarkan mengeluarkan sekitar 1 juta dolar AS per hari hanya untuk menopang layanan tersebut, terutama untuk kebutuhan komputasi berat dan GPU berperforma tinggi.
Di sisi lain, jumlah pengguna aktif Sora juga menurun tajam. Dari sekitar satu juta pengguna aktif, angka itu turun menjadi di bawah 500.000, sehingga beban biaya tidak lagi sebanding dengan tingkat pemakaian.
Kondisi ini membuat Sora sulit dipertahankan sebagai produk yang efisien secara bisnis. Dalam industri AI, biaya infrastruktur yang tinggi bisa menjadi penentu apakah sebuah layanan layak diteruskan atau harus dihentikan.
Arah Bisnis OpenAI Mulai Bergeser
Keputusan menutup Sora juga menunjukkan perubahan fokus OpenAI. Perusahaan disebut ingin memusatkan sumber daya pada model berbasis teks dan penalaran yang dinilai lebih matang dan lebih dekat dengan kebutuhan pasar saat ini.
Langkah ini sejalan dengan strategi sejumlah pesaing yang memilih memperkuat lini produk inti. Anthropic, misalnya, lebih fokus pada pengembangan model berbasis teks dan pemrograman, dan pendekatan itu berhasil menarik minat pengguna korporasi serta developer.
Perbandingan tersebut menjadi sinyal penting bagi OpenAI bahwa ekspansi ke banyak lini produk tidak selalu menghasilkan efisiensi. Dalam persaingan AI yang makin ketat, fokus pada area dengan potensi pendapatan paling jelas kerap lebih menguntungkan daripada mempertahankan produk berbiaya tinggi.
Dampak ke Rencana Kerja Sama Besar
Penutupan Sora juga menghantam rencana kerja sama besar dengan The Walt Disney Company. Pada Desember lalu, Disney dikabarkan tengah mempersiapkan investasi hingga 1 miliar dolar AS ke OpenAI untuk memanfaatkan potensi Sora dalam menghadirkan karakter ikonik Disney ke ekosistem video AI.
Rencana itu juga sempat dikaitkan dengan pengembangan pengalaman yang lebih interaktif untuk layanan streaming Disney+. Namun, keputusan OpenAI membuat jalur kerja sama tersebut terhenti mendadak.
Laporan menyebut Disney bahkan baru mengetahui kabar penutupan Sora kurang dari satu jam sebelum pengumuman resmi dirilis. Meski begitu, Disney merespons dengan tetap membuka peluang kolaborasi teknologi di masa depan selama dilakukan secara bertanggung jawab.
Tekanan IPO dan Kekhawatiran Deepfake
Selain biaya, tekanan menuju penawaran saham perdana atau IPO juga diduga ikut mendorong keputusan ini. Dengan valuasi OpenAI yang disebut mencapai ratusan miliar dolar AS, perusahaan perlu menunjukkan efisiensi operasional agar lebih meyakinkan di mata calon investor.
Dalam situasi seperti itu, produk yang belum menghasilkan keuntungan optimal kerap menjadi beban dalam laporan bisnis. Menghentikan Sora bisa dibaca sebagai upaya memperbaiki struktur biaya sekaligus memperkuat narasi pertumbuhan jangka panjang.
Ada pula faktor risiko penyalahgunaan teknologi yang tak bisa diabaikan. Sora memunculkan kekhawatiran luas karena kemampuannya menghasilkan video realistis, termasuk potensi pembuatan deepfake yang dapat menimbulkan persoalan hak cipta, etika, dan keamanan informasi.
Tekanan regulasi terhadap teknologi generatif juga terus meningkat di banyak negara. Dalam konteks itu, menghentikan Sora dapat membantu OpenAI mengurangi risiko hukum sekaligus meredam sorotan publik terhadap penyalahgunaan AI visual.
Faktor-Faktor yang Diduga Mendorong Penutupan Sora
- Biaya komputasi yang sangat tinggi, sekitar 1 juta dolar AS per hari.
- Penurunan pengguna aktif dari sekitar satu juta menjadi di bawah 500.000.
- Pergeseran strategi ke model teks dan penalaran yang dinilai lebih menjanjikan.
- Tekanan menuju IPO yang menuntut efisiensi dan profitabilitas.
- Kekhawatiran publik dan regulator atas risiko deepfake dan penyalahgunaan konten.
Sebelumnya, Kepala Proyek Sora, Bill Peebles, juga sempat menyinggung keterbatasan pasokan chip sebagai salah satu tantangan pengembangan. Dalam praktiknya, kombinasi biaya tinggi, tekanan pasar, dan risiko etika tampaknya membuat Sora lebih sulit dipertahankan dibandingkan proyek AI OpenAI yang lain.
Source: www.gadgetdiva.id








