
Samsung akhirnya memperbaiki salah satu kelemahan yang paling sering dikeluhkan pada lini ponsel flagship-nya, yakni pengisian daya nirkabel yang terlalu lambat. Perubahan ini hadir lewat Galaxy S26 Ultra, yang kini mendukung wireless charging 25W setelah bertahun-tahun bertahan di 15W.
Perubahan itu penting karena 15W selama ini membuat wireless charging terasa kurang praktis untuk penggunaan harian. Dalam banyak kasus, pengguna harus menunggu cukup lama hanya untuk mendapat tambahan baterai yang relatif kecil, sehingga pengisian kabel tetap menjadi pilihan utama.
Samsung akhirnya menaikkan standar wireless charging
Pada Galaxy S26 Ultra, Samsung meningkatkan kecepatan pengisian daya nirkabel menjadi 25W. Angka ini setara dengan kecepatan wired charging pada sejumlah ponsel flagship Samsung yang masih bertahan di 25W, termasuk model lipat premium seperti Galaxy Z Fold 7.
Dikutip dari artikel referensi, dampaknya terasa langsung dalam pemakaian sehari-hari. Dengan charger nirkabel 25W, Galaxy S26 Ultra bisa mengisi baterai hingga sekitar 40 persen sampai 45 persen dalam waktu kurang lebih setengah jam.
Dalam durasi sekitar satu jam, daya baterai dapat mencapai hampir 80 persen. Sementara itu, pengisian penuh membutuhkan waktu sekitar satu jam dua puluh menit, sebuah peningkatan besar dibanding 15W yang selama ini dianggap terlalu lambat.
Kecepatan itu memang masih belum sepenuhnya menyamai pengisian kabel 25W. Namun selisihnya dinilai sudah cukup dekat untuk membuat pengguna tidak selalu perlu mencari kabel saat ingin mengisi daya dengan cepat.
Mengapa 15W dianggap membuat wireless charging kurang berguna
Masalah utama dari wireless charging 15W bukan hanya soal angka spesifikasi. Persoalannya ada pada pengalaman pengguna, karena pengisian terasa lambat saat ponsel ditinggal sebentar lalu diambil kembali.
Dalam skenario umum, ponsel diletakkan di pad wireless charging selama sekitar tiga puluh menit, tetapi kapasitas baterai hanya naik sekitar 10 persen. Dalam situasi seperti itu, keunggulan kenyamanan tanpa kabel menjadi kurang berarti karena waktu tunggu tidak sebanding dengan hasilnya.
Samsung selama ini terlihat sangat berhati-hati dalam urusan baterai. Sikap konservatif itu kerap dikaitkan dengan dampak jangka panjang dari kasus Galaxy Note 7, ketika perusahaan menghadapi krisis besar akibat masalah baterai yang memicu perangkat terbakar.
Selain itu, Samsung juga beberapa tahun terakhir lebih menonjolkan penyempurnaan pengalaman penggunaan daripada sekadar menaikkan angka spesifikasi tiap generasi. Pendekatan ini mirip dengan strategi yang sering diasosiasikan dengan Apple, meski dalam konteks charging, peningkatan kecepatan justru juga berpengaruh langsung pada pengalaman pengguna.
Masih tertinggal dari rival
Kenaikan ke 25W patut dicatat sebagai langkah maju, tetapi belum menjadikan Samsung pemimpin dalam kategori ini. Artikel referensi menegaskan bahwa sejumlah merek asal China sudah menawarkan wireless charging dengan daya jauh lebih tinggi selama beberapa tahun.
Bukan hanya itu, merek besar lain juga sudah lebih dulu bergerak. Apple dan Google, menurut artikel tersebut, telah menghadirkan wireless charging di atas 20W selama sekitar dua hingga tiga tahun.
Samsung juga belum memberi peningkatan merata pada seluruh seri Galaxy S26. Hanya Galaxy S26 Ultra yang mendapat 25W, sedangkan Galaxy S26+ berada di 20W dan Galaxy S26 standar masih tertahan di 15W.
Perbedaan ini membuat strategi Samsung terlihat belum konsisten. Di saat kompetitor mulai menaikkan kecepatan charging lebih luas di berbagai model, Samsung masih membagi fitur berdasarkan kasta perangkat.
Perbandingan singkat kecepatan wireless charging
- Galaxy S26 Ultra: 25W
- Galaxy S26+: 20W
- Galaxy S26: 15W
- iPhone 17 reguler: 25W
Artikel referensi juga menyebut iPhone 17 reguler sudah mendukung wireless charging 25W dan wired charging 40W. Fakta itu menunjukkan Samsung masih perlu mengejar ketertinggalan, terutama pada model non-Ultra yang belum mendapat peningkatan seagresif pesaing.
Apa arti peningkatan ini bagi pengguna
Bagi pengguna yang rutin menaruh ponsel di charging pad saat bekerja, menonton, atau tidur, peningkatan dari 15W ke 25W mengubah fungsi wireless charging dari fitur pelengkap menjadi opsi yang benar-benar berguna. Pengguna kini bisa mendapatkan tambahan daya yang signifikan dalam waktu singkat tanpa harus bergantung pada kabel setiap saat.
Dari sisi praktis, perubahan ini juga membuat wireless charging lebih masuk akal untuk top-up baterai di sela aktivitas. Saat jeda singkat sudah cukup untuk menambah puluhan persen daya, maka alasan utama memakai pengisian nirkabel, yaitu kemudahan, akhirnya kembali relevan pada flagship Samsung.
Samsung memang masih punya pekerjaan rumah dalam meningkatkan charging kabel dan nirkabel secara lebih merata di seluruh lini premium. Namun pada Galaxy S26 Ultra, perusahaan setidaknya sudah membuktikan bahwa wireless charging tidak harus lagi terasa lambat dan setengah hati.
Source: www.sammobile.com








