Momentum Earth Hour kembali mengingatkan publik bahwa aksi kecil bisa memberi dampak besar bagi lingkungan. Di tengah dorongan global untuk menekan emisi, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI memperlihatkan bahwa keberlanjutan tidak cukup berhenti pada kampanye, tetapi harus hadir dalam praktik kerja sehari-hari.
Gerakan yang identik dengan mematikan lampu selama satu jam itu telah berkembang menjadi simbol perubahan perilaku kolektif. Sejak pertama kali diinisiasi pada 2007, Earth Hour menjangkau jutaan partisipan di lebih dari 180 negara, dan di Indonesia gerakan ini disebut mampu menghemat sekitar 300 MW listrik dalam satu jam, setara kebutuhan listrik sekitar 200 ribu rumah atau hingga 700 ribu orang.
Aksi sederhana yang berdampak luas
Earth Hour menunjukkan bahwa efisiensi energi bukan sekadar isu seremonial. Dalam berbagai kota dunia, partisipasi pada momen ini disebut dapat menurunkan konsumsi listrik hingga 10–15 persen dalam satu jam, sebuah angka yang menegaskan pentingnya perubahan perilaku dalam skala besar.
Bagi korporasi, momentum seperti ini menjadi pengingat untuk menata ulang cara kerja agar lebih hemat energi. BRI memanfaatkan penguatan pesan tersebut dengan mendorong kebiasaan operasional yang lebih efisien di lingkungan kerja, mulai dari penggunaan lampu LED hingga disiplin mematikan perangkat elektronik saat tidak dipakai.
Langkah BRI tekan emisi di lingkungan kerja
BRI menyebut keberlanjutan telah menjadi bagian dari budaya kerja di seluruh lini Perseroan. Direktur Legal & Compliance BRI, Mahdi Yusuf, menilai keberlanjutan bukan hanya menekan emisi, tetapi juga membentuk budaya kerja yang lebih sadar terhadap lingkungan.
“Keberlanjutan tidak hanya berkontribusi pada penurunan emisi, tetapi juga membentuk budaya kerja yang lebih sadar terhadap lingkungan. Ini menjadi landasan strategis dalam menjalankan bisnis secara bertanggung jawab,” ujarnya.
Pernyataan itu sejalan dengan langkah operasional yang terus dijalankan perusahaan. BRI memperkuat efisiensi lewat optimalisasi fasilitas kantor, percepatan digitalisasi layanan perbankan, penggunaan energi baru terbarukan, dan pengembangan konsep green building.
Rangkaian inisiatif hijau yang sudah berjalan
Melalui implementasi Green Network, BRI melaporkan telah memasang panel surya di 152 unit kerja hingga akhir 2025. Perusahaan juga mengoperasikan 926 kendaraan ramah lingkungan sebagai bagian dari upaya menekan emisi dari aktivitas operasional.
Berikut sejumlah inisiatif yang dijalankan BRI:
- Pemasangan lampu LED dan penghematan energi di area kerja.
- Optimalisasi operasional fasilitas kantor agar konsumsi listrik lebih efisien.
- Penggunaan energi baru terbarukan dalam operasional perusahaan.
- Pengembangan green building untuk mendukung bangunan yang lebih hemat energi.
- Percepatan digitalisasi layanan agar proses bisnis lebih efisien dan minim jejak karbon.
Dari rangkaian inisiatif itu, BRI mengklaim emisi operasional turun 9,6 persen dibandingkan tahun dasar 2022. Capaian ini menunjukkan bahwa perbaikan bertahap dalam operasional harian dapat memberi hasil yang terukur.
Program lanjutan untuk lingkungan dan karbon
Selain menekan emisi dari aktivitas kantor, BRI juga menjalankan program lingkungan yang lebih luas. Melalui program Zero Waste to Landfill, BRI berhasil menghindari emisi sebesar 746,4 ton CO₂e.
Di sisi lain, program BRI Grow and Green telah merealisasikan penanaman 65.300 pohon mangrove hingga 2025. Program ini memiliki potensi penyerapan karbon mencapai 43,43 ton CO₂e per tahun, sekaligus memberi manfaat bagi ekosistem pesisir dan ketahanan lingkungan jangka panjang.
Pendekatan tersebut penting karena tantangan perubahan iklim tidak hanya terkait emisi dari industri besar, tetapi juga dari aktivitas kantor, mobilitas kerja, dan pola konsumsi energi sehari-hari. Dalam konteks itu, langkah perbankan seperti BRI dapat memberi contoh bahwa sektor jasa pun punya peran signifikan dalam agenda keberlanjutan.
Keberlanjutan jadi bagian dari bisnis
BRI menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara kinerja bisnis dan tanggung jawab lingkungan melalui penerapan prinsip ESG secara konsisten. Pendekatan ini dinilai penting untuk mendukung pembangunan berkelanjutan sekaligus memberi nilai tambah bagi pemangku kepentingan.
Momentum Earth Hour pada akhirnya tidak hanya soal memadamkan lampu selama satu jam, tetapi tentang kebiasaan baru yang bertahan lebih lama. Ketika perusahaan besar seperti BRI memperkuat aksi nyata di lingkungan kerja, pesan yang muncul semakin jelas bahwa pengurangan emisi membutuhkan komitmen harian, sistem yang mendukung, dan disiplin yang dijaga secara konsisten.
