Apple meluncurkan iPhone Air sebagai perangkat paling tipis di lini iPhone terbaru, dengan bodi setebal 5,6 milimeter. Namun, desain ramping itu langsung memicu sorotan karena ponsel ini membawa baterai berkapasitas 3.149 mAh, yang dinilai terlalu kecil untuk kebutuhan harian banyak pengguna.
Kondisi tersebut membuat isu daya tahan menjadi perbincangan utama sejak awal peluncuran. Apple memang mengklaim iPhone Air bisa bertahan seharian, tetapi perusahaan juga menyiapkan aksesori MagSafe Battery sebagai penopang daya tambahan, yang justru menambah ketebalan perangkat saat dipakai.
Baterai kecil yang mengikuti desain supertipis
Keputusan Apple menempatkan baterai kecil bukan tanpa alasan. Produsen asal Cupertino itu menyesuaikan komponen daya dengan sasis logam yang sangat tipis, sehingga ruang internal menjadi terbatas dan kapasitas baterai ikut terpangkas.
Menurut laporan The Information, daya tahan baterai iPhone Air hanya berada di kisaran 60—70 persen untuk pemakaian penuh sehari. Angka itu memperkuat kekhawatiran bahwa pengguna masih perlu mencari sumber daya tambahan, terutama jika ponsel digunakan untuk streaming, navigasi, atau bermain gim.
Aksesori baterai yang membantu, tetapi mengubah pengalaman pakai
Apple merespons keterbatasan ini dengan MagSafe Battery, powerbank magnetik yang bisa ditempelkan di bagian belakang iPhone Air. Aksesori ini diklaim mampu menambah daya penggunaan video hingga 40 jam saat dipasangkan dengan perangkat.
Tom’s Guide juga mencatat Apple MagSafe Battery dapat memberi tambahan daya 65 persen dengan harga 99 dolar atau sekitar Rp1,6 juta. Dalam pengujian mereka, daya gabungan perangkat itu bisa memberi waktu pakai hingga 17 jam 15 menit, cukup membantu saat pengguna berada jauh dari stopkontak.
Namun, solusi itu bukan tanpa kompromi. Begitu powerbank menempel di belakang ponsel, tujuan utama desain tipis iPhone Air ikut hilang karena perangkat menjadi jauh lebih tebal dan kurang nyaman digenggam.
Strategi desain yang menuai kritik
Sejumlah pengamat menilai iPhone Air memperlihatkan pola lama Apple, yakni mengutamakan desain dan estetika lalu menjual aksesori tambahan sebagai pelengkap. Kritik ini muncul karena pengguna seolah dipaksa menerima baterai kecil demi mendapatkan ponsel supertipis.
Berikut beberapa hal yang paling sering disorot dari iPhone Air:
- Baterai bawaan hanya 3.149 mAh.
- Bodinya sangat tipis, yakni 5,6 milimeter.
- Hanya menyematkan satu kamera belakang.
- Memakai pengeras suara tunggal.
- Mengandalkan powerbank magnetik untuk penggunaan lebih lama.
Kombinasi itu membuat sebagian konsumen mempertanyakan nilai jual perangkat ini. Di pasar ponsel premium, banyak pengguna kini justru lebih menaruh perhatian pada efisiensi baterai dibanding sekadar desain yang tipis.
iOS 26 hadir dengan fitur penghemat daya
Untuk menyeimbangkan keterbatasan perangkat keras, Apple membekali iPhone Air dengan iOS 26 dan fitur Adaptive Power Mode. Sistem ini mempelajari pola konsumsi baterai pengguna dari hari ke hari, lalu menyesuaikan pengelolaan daya agar ponsel lebih hemat.
Fitur semacam ini penting karena beban utama iPhone Air bukan hanya pada ukuran baterai, tetapi juga pada ekspektasi pengguna terhadap perangkat premium. Banyak konsumen ingin ponsel tipis, tetapi tetap tahan lama tanpa perlu membawa aksesori tambahan setiap saat.
Persaingan dengan produsen lain makin ketat
Masalah baterai kecil pada iPhone Air juga memperlihatkan arah berbeda dalam industri ponsel ultratipis. Sejumlah produsen asal China sudah mulai mengadopsi teknologi silicon-carbon untuk menyimpan daya lebih besar dalam bodi yang tipis.
Sebagai pembanding, TECNO disebut berhasil memasang baterai 5.160 mAh pada Pova Slim 5G dengan ketebalan 5,95 milimeter. Data ini menunjukkan bahwa inovasi baterai kini menjadi medan persaingan penting, bukan sekadar perlombaan membuat ponsel setipis mungkin.
Di sisi lain, Apple tampaknya masih berhati-hati memakai teknologi baru karena alasan stabilitas dan keamanan struktur bodi. Pilihan itu membuat iPhone Air tetap menonjol sebagai perangkat premium yang sangat tipis, tetapi juga memunculkan pertanyaan apakah desain tersebut benar-benar menjawab kebutuhan utama pengguna modern.
Source: www.idntimes.com