Setahun dengan Motorola Razr Ultra 2026, Layar Depannya Sulit Ditinggalkan Meski Cacatnya Nyata

Motorola Razr Ultra 2025 menunjukkan satu hal penting setelah dipakai dalam jangka panjang. Ponsel lipat model clamshell ini bukan lagi sekadar perangkat bergaya, tetapi sudah cukup matang untuk menjadi ponsel utama harian.

Namun, pengalaman setahun penuh juga memperlihatkan sisi yang belum selesai. Di satu sisi, Motorola berhasil menghadirkan desain, performa, dan layar luar yang sangat kuat, tetapi di sisi lain, software, AI, dan ekosistem aksesori masih tertinggal dari para pesaing utama.

1. Pengalaman foldable-nya terasa paling matang

Salah satu catatan terbesar dari Razr Ultra 2025 adalah rasa “flagship” yang kini jauh lebih utuh. Android Central menilai perangkat ini sebagai Razr terbaik dan paling populer dari Motorola sejauh ini, dengan desain yang lebih rapi dan spesifikasi yang bahkan disebut mampu menyaingi ponsel premium kelas atas.

Performa menjadi faktor penting di balik kesan itu. Chip Snapdragon 8 Elite yang dipadukan dengan RAM 16GB membuat navigasi terasa cepat, responsif, dan tetap kuat untuk beban berat seperti gaming.

Layar utama 1224p Super HD OLED juga dinilai tetap prima setelah pemakaian panjang. Dibanding pengalaman model Razr generasi sebelumnya yang sempat menunjukkan masalah pada engsel atau pelindung layar, panel Razr Ultra 2025 disebut masih terlihat sangat baik setelah setahun.

Bahan belakang juga memberi karakter tersendiri. Motorola memakai opsi finishing vegan leather dan kayu pada varian tertentu, meski ada laporan kecil soal lapisan “leather” yang mulai mengelupas.

2. Kamera akhirnya cukup andal untuk dipakai sebagai ponsel utama

Peningkatan kamera menjadi perubahan yang paling terasa dibanding Razr lawas. Menurut ulasan referensi, inilah Razr pertama yang tidak lagi menuntut keberadaan ponsel kedua untuk menutup kekurangan kamera.

Motorola memilih kamera ultrawide sebagai sensor sekunder, bukan telephoto seperti pada Razr Plus 2024. Pendekatan ini dianggap lebih berguna untuk pemakaian harian, apalagi kualitas zoom optik 2x sudah dinilai cukup.

Hasil kameranya memang belum diposisikan setara dengan flagship kamera terbaik dari merek seperti Vivo atau Oppo. Meski begitu, kualitasnya disebut sudah “menyelesaikan pekerjaan” dengan baik dan tanpa keluhan besar untuk kebutuhan normal.

Keunggulan lain datang dari form factor lipat itu sendiri. Layar luar membuat pengambilan foto dan video menjadi lebih fleksibel, termasuk untuk selfie dengan kamera utama yang biasanya menghasilkan kualitas lebih baik.

3. Cover screen adalah fitur paling menonjol

Bila harus menunjuk fitur yang paling membedakan Razr Ultra 2025 dari pesaing, jawabannya ada pada cover screen. Dalam artikel referensi, layar luar ini bahkan disebut dipakai sekitar 80 persen dari total penggunaan sehari-hari.

Motorola memberi akses aplikasi langsung dari layar luar tanpa perlu trik tambahan. Perpindahan aplikasi dari layar utama ke cover screen juga disebut mulus, dengan skala tampilan yang umumnya tetap nyaman.

Keunggulan itu terasa penting karena tidak semua ponsel lipat memiliki pendekatan serupa. Dibanding Galaxy Z Flip, cover screen Razr Ultra 2025 dinilai lebih baik dalam menangani notifikasi dan bahkan mendukung multitasking.

Tetap ada batasnya. Layar utama masih lebih nyaman untuk game, pengaturan yang lebih rinci, email penting, atau menonton video dalam durasi panjang.

Setelah pembaruan Android 16, ada laporan glitch antarmuka di layar luar, terutama pada kolom teks. Meski begitu, pengalaman umumnya masih dianggap sebagai cara terbaik menikmati perangkat ini.

4. Software-nya rapi, tetapi belum terasa istimewa

Motorola memang membawa Hello UX yang ringan dan cukup bersih. Ada beberapa elemen yang disukai, seperti pemisahan quick settings dan notification shade, integrasi layanan Google, serta gesture khas Motorola untuk menyalakan senter atau membuka kamera.

Masalahnya, pengalaman itu dinilai terlalu aman. Android Central menyoroti bahwa software Motorola terasa halus dan fungsional, tetapi kurang punya identitas kuat atau sentuhan yang membuatnya menonjol seperti One UI milik Samsung.

Pembaruan Android 16 memang hadir lebih cepat dibanding beberapa model Motorola sebelumnya. Namun, pembaruan itu disebut hanya membawa perubahan terbatas, dengan tambahan seperti Modes dan Notification Cooldown, sementara rasa keseluruhan sistem tidak jauh berbeda dari Android 15.

Ada juga sorotan soal konsistensi update. Artikel referensi menyebut patch keamanan sempat tertahan di Desember, yang menegaskan bahwa jadwal update dua bulanan Motorola masih belum stabil.

5. Moto AI dan aksesori masih jadi titik lemah

Motorola ikut mendorong fitur AI lewat Moto AI. Beberapa fiturnya cukup berguna, terutama Catch Me Up yang bisa merangkum notifikasi secara cepat.

Tetapi banyak fitur lain masih terasa setengah matang. Pay Attention disebut mirip perekam AI, sedangkan Remember This dinilai kurang praktis karena harus dipicu secara manual dan belum terintegrasi alami ke kamera atau tangkapan layar.

Masalah yang lebih besar adalah integrasi. Ketika Samsung dan Google menanamkan AI lebih dalam ke antarmuka, Motorola masih terkesan menaruh banyak fungsi di aplikasi terpisah, sehingga pengalaman AI-nya kalah mulus dari Gemini dan fitur Google seperti Circle to Search.

Di luar software, aksesori juga menjadi persoalan nyata. Pilihan case dan screen protector untuk Razr Ultra 2025 disebut sangat terbatas, bahkan dari merek besar seperti Spigen, Thinborne, OtterBox, atau Casetify.

Kondisi ini penting karena ponsel lipat sangat bergantung pada perlindungan tambahan. Tanpa dukungan aksesori yang luas, pengalaman kepemilikan jangka panjang terasa kurang nyaman meski perangkat intinya sangat kuat.

Dalam gambaran besar, Razr Ultra 2025 menunjukkan bahwa Motorola sudah sangat dekat dengan formula ponsel lipat ideal. Perangkat ini unggul pada desain, performa, kamera yang semakin matang, dan terutama cover screen yang benar-benar berguna dalam aktivitas harian.

Source: www.androidcentral.com

Berita Terkait

Back to top button