
Apple dilaporkan menghadapi hambatan teknis baru dalam pengembangan iPhone lipat yang selama ini sudah lama dinantikan pasar. Berdasarkan laporan Nikkei yang dikutip Aktual.co.id, masalah itu muncul saat fase produksi uji coba awal dan berpotensi menunda pengiriman pertama selama berbulan-bulan.
Gangguan tersebut disebut bisa memengaruhi jadwal produksi massal yang sebelumnya dipersiapkan untuk perangkat lipat pertama Apple. Sumber yang dikutip laporan itu menyebut periode antara April hingga awal Mei menjadi tahap yang sangat krusial karena masuk ke proses uji verifikasi teknik.
Masalah muncul di tahap penting produksi
Dalam rantai pengembangan perangkat baru, Apple menjalani sejumlah tahapan verifikasi sebelum masuk ke produksi massal. Masalah yang kini muncul disebut terjadi pada uji verifikasi produksi, yakni salah satu fase penting sebelum perangkat diproduksi lebih luas dan dikirim ke pasar.
Tahap ini menjadi penentu karena iPhone lipat akan memakai desain yang sepenuhnya baru. Artinya, Apple harus memastikan seluruh komponen, termasuk engsel dan lapisan layar, bekerja stabil sebelum melanjutkan ke proses berikutnya.
Sumber internal yang dikutip Nikkei mengatakan solusi yang tersedia saat ini belum cukup untuk menutup tantangan rekayasa yang dihadapi. Tekanan waktu juga disebut sangat tinggi karena Apple dan rantai pasok harus bergerak cepat agar jadwal peluncuran tetap realistis.
Jadwal rilis ikut terancam bergeser
Sejumlah sumber sebelumnya menyebut Apple menargetkan peluncuran iPhone lipat pertama pada musim gugur 2026, bersamaan dengan iPhone 18. Namun, laporan yang sama menegaskan proyek ini masih bisa mundur ke 2027 jika Apple belum menuntaskan persoalan manufaktur atau daya tahan.
Kekhawatiran utama ada pada ketahanan perangkat lipat yang sangat bergantung pada kualitas engsel dan lapisan layar. Pada produk lipat, dua komponen ini menjadi titik paling sensitif karena harus menahan lipatan berulang dalam waktu lama tanpa menurunkan kualitas tampilan.
Berikut gambaran faktor yang paling sering menjadi risiko pada ponsel lipat:
- Ketahanan engsel saat dibuka dan ditutup berkali-kali.
- Daya tahan lapisan layar terhadap tekanan dan lipatan.
- Stabilitas produksi komponen agar konsistensi unit tetap terjaga.
- Kesiapan rantai pasokan untuk memenuhi standar kualitas Apple.
Apple tetap menaruh harapan besar pada perangkat ini
Meski kemungkinan kontribusinya kurang dari 10 persen dari total produksi iPhone, perangkat lipat ini tetap dianggap strategis bagi Apple. Produk tersebut dipandang sebagai salah satu cara untuk menghidupkan kembali minat konsumen terhadap lini iPhone secara keseluruhan.
Laporan Nikkei menyebut Apple berencana memproduksi sekitar tujuh hingga delapan juta unit pada tahap awal. Angka itu menunjukkan perusahaan masih menempatkan perangkat ini sebagai produk premium dengan volume terbatas, bukan sebagai model massal di fase awal peluncuran.
Apple juga dilaporkan memprioritaskan iPhone lipat dan model premium lain untuk acara September tahun ini. Langkah itu berkaitan dengan keterbatasan pasokan komponen, terutama chip memori, yang membuat perusahaan harus mengatur prioritas produksi secara ketat.
Rumor panjang sejak lama, persaingan makin padat
iPhone lipat telah menjadi bahan rumor sejak 2017, sementara Samsung sudah lebih dulu masuk pasar ponsel lipat pada 2019. Kondisi ini membuat ekspektasi publik terhadap Apple semakin tinggi, terlebih karena perusahaan asal Cupertino itu dikenal sangat berhati-hati dalam merilis kategori produk baru.
Hingga kini Apple belum mengumumkan perangkat tersebut secara resmi dan juga belum memberi komentar atas laporan masalah teknis yang beredar. Dalam situasi seperti ini, perkembangan uji produksi akan menjadi penentu apakah jadwal peluncuran masih bisa dipertahankan atau harus kembali bergeser.
Baca selengkapnya mengenai topik ini di: aktual.co.id








