Samsung Tergelincir di Q1 2026, Pasar Smartphone Melemah dan Takhta Lepas

Pasar smartphone global melemah pada kuartal pertama, dan Samsung menjadi salah satu merek yang paling terdampak. Data Counterpoint Research menunjukkan pengiriman ponsel Samsung turun 6 persen secara tahunan, sehingga pangsa pasarnya menyusut menjadi 20 persen dari sebelumnya 21 persen.

Tekanan ini datang saat Samsung baru merilis lini flagship terbarunya. Meski begitu, peluncuran seri Galaxy S26 yang tidak sepenuhnya tepat waktu ikut menahan volume pengiriman perusahaan sepanjang periode tersebut.

Samsung turun ke posisi kedua

Penurunan pengiriman membuat Samsung kehilangan posisi puncak pasar smartphone global. Apple kini memimpin dengan pangsa pasar 21 persen, atau unggul tipis dari Samsung yang berada di angka 20 persen.

Perubahan posisi ini menandai kompetisi yang semakin ketat di segmen premium dan pasar massal. Samsung disebut menghadapi permintaan yang lebih lemah di segmen entry-level hingga menengah, yang selama ini menjadi salah satu penopang volume pengiriman.

Menurut laporan yang mengutip Counterpoint Research, tekanan pada segmen pasar massal menjadi faktor utama. Di sisi lain, keterlambatan peluncuran seri Galaxy S26 juga membatasi kontribusi model baru terhadap total pengiriman kuartalan.

Namun, kondisi ini tidak sepenuhnya mencerminkan lemahnya minat pada ponsel premium Samsung. Permintaan global untuk Galaxy S26 disebut tetap solid, terutama untuk model Ultra yang menjadi varian paling menonjol di jajaran terbaru tersebut.

Samsung bahkan dilaporkan meningkatkan volume produksi model flagship terbaru untuk April. Langkah ini membuka peluang pemulihan pengiriman pada kuartal berikutnya, meski hasil akhirnya masih akan sangat bergantung pada kondisi permintaan pasar global.

Pasar smartphone global ikut melambat

Tidak hanya Samsung yang menghadapi tekanan. Secara keseluruhan, pengiriman smartphone global pada kuartal pertama juga turun 6 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Counterpoint Research menilai perlambatan ini terkait perubahan prioritas di industri komponen. Senior Analyst Shilpi Jain mengatakan penurunan pengiriman terutama dipicu oleh pemain memori yang lebih memprioritaskan pusat data AI dibanding elektronik konsumen.

Dalam pernyataannya, Shilpi Jain menyebut kondisi itu membuat margin produsen perangkat tertekan. Biaya Bill of Materials atau BOM yang meningkat kemudian diteruskan langsung ke konsumen oleh banyak OEM.

Kenaikan biaya komponen menjadi isu penting karena memengaruhi strategi harga banyak vendor. Saat biaya produksi naik, perusahaan harus memilih antara menjaga harga tetap kompetitif atau mempertahankan margin keuntungan.

Tekanan harga dan strategi Samsung

Samsung juga menghadapi situasi serupa seperti vendor lain. Kenaikan harga chip memori disebut menekan struktur biaya dan margin perusahaan, terutama pada lini produk yang sensitif terhadap harga.

Untuk merespons tekanan itu, Samsung mulai merapikan pilihan di segmen entry-level. Perusahaan juga lebih fokus pada konfigurasi yang lebih tinggi, sebuah strategi yang mendorong harga awal naik sekaligus memperkuat posisi premium pada lini produknya.

Strategi ini dapat membantu menjaga profitabilitas. Namun, pendekatan tersebut juga berisiko mengurangi daya tarik pada konsumen yang mencari ponsel dengan harga lebih terjangkau.

Di banyak pasar berkembang, segmen harga massal masih menjadi motor volume utama. Karena itu, pelemahan permintaan di kelas ini bisa berdampak langsung pada total pengiriman, meski penjualan model premium tetap kuat.

Peta persaingan merek global

Selain Apple dan Samsung, pemain besar lain juga mencatat dinamika yang berbeda. Xiaomi berada di posisi ketiga dengan pangsa pasar 12 persen, tetapi mengalami penurunan tahunan paling tajam di antara lima besar, yakni 19 persen.

OPPO menempati posisi keempat dengan pangsa 11 persen. Sementara itu, vivo berada di urutan kelima dengan pangsa pasar 8 persen.

Berikut gambaran pangsa pasar smartphone global pada kuartal pertama menurut Counterpoint Research:

  1. Apple: 21 persen
  2. Samsung: 20 persen
  3. Xiaomi: 12 persen
  4. OPPO: 11 persen
  5. vivo: 8 persen

Keunggulan Apple disebut ditopang oleh permintaan kuat untuk seri iPhone 17. Selain itu, program trade-in yang agresif dan kekuatan ekosistem dinilai membantu perusahaan menarik konsumen sekaligus mempertahankan pengguna lama.

Bagi Samsung, tantangan berikutnya bukan hanya merebut kembali posisi nomor satu. Perusahaan juga perlu menyeimbangkan pertumbuhan volume, strategi harga, dan momentum seri Galaxy S26 di tengah pasar global yang belum sepenuhnya pulih.

Jika produksi Galaxy S26 yang ditingkatkan pada April mampu diterjemahkan menjadi penjualan yang kuat, ruang perbaikan masih terbuka. Namun arah pasar smartphone tetap sangat ditentukan oleh biaya komponen, daya beli konsumen, dan keberhasilan vendor membaca pergeseran permintaan di segmen premium maupun pasar massal.

Source: sammyguru.com
Terkait