Perang Iran-Perang Harga HP Memanas, DRAM Dan NAND Bikin Smartphone Makin Mahal

Pengamat gadget dan teknologi Aryo Meidianto menilai perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel ikut membuat harga smartphone makin tidak nyaman bagi pasar. Tekanan itu datang saat industri ponsel sudah lebih dulu menghadapi kenaikan biaya komponen, terutama memori DRAM dan NAND Flash.

Aryo menyebut kondisi tersebut memperparah kenaikan harga smartphone yang sebelumnya sudah terdorong kelangkaan memori. Ia mengatakan kepada Selular pada Kamis (2/4/2026), “Dampak perang tentu juga akan memperparah kenaikan harga smartphone yang sebelumnya sudah naik karena kelangkaan memori.”

Tekanan biaya datang dari banyak sisi

Kelangkaan DRAM dan NAND Flash tidak terlepas dari lonjakan permintaan untuk kebutuhan kecerdasan buatan atau AI. Teknologi AI tidak hanya menyerap kapasitas produksi chip memori, tetapi juga bersaing langsung dengan industri smartphone dalam mendapatkan pasokan komponen yang sama.

Di saat yang sama, perang ikut menambah tekanan melalui jalur logistik dan operasional. Aryo menjelaskan bahwa biaya distribusi dan pengemasan berpotensi membengkak karena harga energi meningkat.

“Dengan harga energi yang meningkat tentu akan berpengaruh ke biaya distribusi hingga packaging,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa harga plastik naik 100 persen, sementara pengemasan smartphone masih sangat bergantung pada material berbasis plastik.

Kenaikan harga sudah terlihat di pasar Indonesia

Dampaknya sudah terasa di Indonesia pada awal April 2026. Sejumlah vendor smartphone mulai menaikkan harga produk mereka, dan kenaikan itu tidak hanya terjadi di satu segmen, tetapi merata dari kelas entry-level hingga kelas menengah.

Dalam pantauan Selular, dua merek besar yang sangat kuat di pasar Indonesia, Xiaomi dan Samsung, juga ikut menyesuaikan harga. Kenaikan yang tercatat bervariasi, mulai dari Rp100.000 hingga lebih dari Rp1 juta, tergantung model dan spesifikasinya.

Beberapa contoh yang sudah terlihat adalah Samsung Galaxy A07 RAM 4GB dan ROM 64GB, yang saat rilis dijual Rp1,399 juta lalu naik menjadi Rp1,599 juta. Xiaomi Redmi A5 RAM 4GB dan ROM 128GB juga bergerak dari Rp1,4 juta menjadi Rp1,6 juta.

Kenaikan komponen memori jadi faktor utama

Laporan terbaru Counterpoint Research memperlihatkan harga memori mobile melonjak tajam pada kuartal pertama 2026. Data itu mencatat harga DRAM naik lebih dari 50 persen secara kuartalan, sedangkan NAND Flash melonjak lebih dari 90 persen QoQ.

Lonjakan itu kemudian memengaruhi struktur biaya produksi atau Bill of Materials (BOM). Dalam analisis Counterpoint Research, kenaikan harga memori menjadi salah satu faktor utama yang mendorong ongkos produksi smartphone, baik di kelas murah maupun flagship.

Dampak paling berat ada di kelas entry-level

Tekanan terbesar justru terjadi pada ponsel murah. Pada smartphone entry-level dengan harga grosir di bawah US$200, konfigurasi umum seperti 6GB LPDDR4X dan 128GB eMMC diperkirakan bisa mendorong total biaya BOM naik hingga 25 persen secara kuartalan pada kuartal pertama 2026.

Dalam skenario itu, komponen memori bahkan bisa menyumbang hingga 43 persen dari total biaya produksi perangkat. Berikut gambaran singkat dampaknya:

FaktorDampak Utama
DRAM naik >50% QoQBiaya produksi ikut terdorong
NAND Flash naik >90% QoQStruktur BOM makin mahal
Harga energi meningkatDistribusi dan packaging ikut naik
Harga plastik naik 100%Biaya kemasan bertambah
Permintaan AI melonjakPasokan memori makin ketat

Vendor mulai mengubah strategi harga

Kondisi ini membuat vendor sulit menahan harga terlalu lama, terutama jika mereka ingin mempertahankan margin produksi. Kenaikan harga di beberapa produk menunjukkan bahwa industri mulai menyesuaikan diri dengan realitas baru di rantai pasok global.

Di sisi lain, tidak semua produsen bergerak serempak. Ada juga brand yang memilih menahan harga pada model tertentu, tetapi tekanan biaya yang datang bersamaan dari perang, energi, dan pasokan komponen membuat ruang untuk bertahan semakin sempit.

Saat ini, pasar smartphone masih berada dalam fase penyesuaian harga yang didorong oleh kombinasi faktor geopolitik dan industri semikonduktor. Selama pasokan memori belum longgar dan biaya logistik tetap tinggi, harga smartphone berpotensi tetap berada di level yang lebih panas dari biasanya.

Source: selular.id

Berita Terkait

Back to top button