Sejumlah vendor smartphone besar asal China mulai menekan target pengiriman perangkat untuk pasar global. Oppo, Vivo, Xiaomi, dan Transsion disebut ikut menyesuaikan rencana produksi karena biaya komponen memori naik tajam dan menggerus ruang laba.
Tekanan itu terutama datang dari lonjakan harga DRAM dan chip memori lain yang dipakai hampir di semua ponsel modern. Di tengah kondisi tersebut, industri melihat adanya pergeseran strategi dari mengejar volume ke menjaga profitabilitas.
Pemangkasan Produksi Tidak Sebesar Laporan Awal
Sejumlah laporan industri sebelumnya menyebut penyesuaian target dari Xiaomi dan Oppo bisa melampaui 20 persen, sementara Vivo diperkirakan memangkas sekitar 15 persen. Namun, sumber internal industri yang dikutip Medcom menilai penurunan riil produksi para vendor itu kemungkinan berada di sekitar 10 persen.
Perbedaan angka itu tidak lepas dari praktik overreporting yang kerap terjadi di industri komponen. Dalam praktik ini, vendor menyampaikan proyeksi yang lebih tinggi agar suplai dari pemasok tetap aman dan prioritas distribusi komponen tidak terganggu.
Fokus Beralih ke Segmen Premium
Pemangkasan produksi tidak dilakukan secara merata di semua lini produk. Vendor cenderung menekan output pada ponsel kelas menengah ke bawah dan pasar tertentu di luar negeri.
Sebaliknya, perangkat flagship dan premium tetap dipertahankan karena segmen ini dinilai punya peluang margin yang lebih sehat. Langkah ini menunjukkan bahwa vendor besar China kini lebih berhati-hati dalam mengelola portofolio produk di tengah biaya produksi yang makin berat.
Berikut arah penyesuaian yang terlihat di pasar:
- Mengurangi produksi ponsel kelas menengah ke bawah.
- Mempertahankan atau memprioritaskan lini flagship.
- Menyesuaikan target pengiriman di pasar global tertentu.
- Menjaga margin keuntungan di tengah kenaikan biaya komponen.
Strategi tersebut menandai perubahan penting dalam persaingan smartphone global. Jika sebelumnya volume pengiriman menjadi tolok ukur utama, kini efisiensi dan profitabilitas ikut menentukan arah produksi.
Kenaikan Harga Memori Jadi Pemicu Utama
Produsen memori besar seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron disebut telah menyiapkan kenaikan harga DRAM hingga 60–70 persen mulai kuartal pertama 2026. Lonjakan ini membuat vendor smartphone harus menghitung ulang biaya bahan baku lebih dini.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi harga jual perangkat di pasar. Saat biaya komponen naik terlalu cepat, produsen biasanya menghadapi dua pilihan sulit, yakni menaikkan harga ritel atau memangkas margin untuk menjaga daya saing.
Tidak Semua Merek Menghadapi Tekanan yang Sama
Huawei, Honor, dan Lenovo dikabarkan memiliki pendekatan rantai pasok yang berbeda sehingga lebih fleksibel dalam menghadapi situasi ini. Beberapa di antaranya bahkan punya ruang lebih besar untuk menyesuaikan strategi harga dan distribusi.
Huawei disebut juga mempertimbangkan penyesuaian harga untuk meningkatkan daya saing produknya. Langkah ini menunjukkan bahwa setiap vendor memiliki respons yang berbeda tergantung struktur rantai pasok, kekuatan merek, dan posisi di pasar.
Gambaran Dampak ke Industri Smartphone
Perubahan target produksi dari vendor China memberi sinyal bahwa pasar smartphone memasuki fase yang lebih selektif. Permintaan masih ada, tetapi tekanan biaya membuat produsen tidak lagi agresif mengejar volume sebanyak mungkin.
Jika harga memori terus naik, penyesuaian serupa bisa meluas ke lebih banyak merek dan segmen. Dalam situasi ini, keberhasilan vendor akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga keseimbangan antara harga jual, kapasitas produksi, dan daya saing produk di pasar global.







