Samsung Galaxy S26 hadir sebagai ponsel flagship yang solid, tetapi peningkatan yang ditawarkan terasa tidak sebanding dengan lonjakan harganya. Model dasar ini dibanderol mulai dari $899.99 untuk varian 256GB, naik $100 dibanding Galaxy S25 saat peluncuran, sementara opsi 512GB mencapai $1,099.
Perubahan paling terlihat ada pada desain dan ukuran. Layar kini membesar menjadi 6,3 inci dari 6,2 inci, sehingga Galaxy S26 tidak lagi terasa sekecil lini dasar Galaxy S sebelumnya.
Desain lebih matang, tapi identitas lama mulai hilang
Samsung tampak sengaja menggeser posisi Galaxy S26 dari ponsel kecil yang terjangkau menjadi flagship ringkas dengan target pasar yang lebih umum. Bodinya tetap tipis di 7,2 mm, namun dimensinya kini lebih lebar, lebih tinggi, dan bobotnya naik menjadi 167 gram.
Perubahan ini membuat Galaxy S26 terasa lebih modern saat digenggam, tetapi juga menghapus sebagian daya tarik utama seri dasarnya. Bagi pengguna yang menyukai ponsel flagship kompak, transformasi ini mungkin terasa seperti kompromi, bukan peningkatan penuh.
Di sisi lain, Samsung tetap mempertahankan material premium lewat kaca Gorilla Glass Victus 2 di depan dan belakang, rangka aluminium, serta sertifikasi IP68. Pilihan warna yang tersedia juga cukup variatif, mulai dari Cobalt Violet, Sky Blue, Black, dan White, dengan opsi eksklusif online Silver Shadow dan Pink Gold.
Performa kuat, layar terang, dan software stabil
Dapur pacu Galaxy S26 menjadi salah satu nilai jual terbesarnya. Di Amerika Utara, China, dan Jepang, perangkat ini memakai Snapdragon 8 Elite Gen 5 untuk Galaxy, sedangkan pasar global lain menerima Exynos 2600.
Kombinasi chipset tersebut dengan RAM 12GB membuat performanya sangat kencang. Dalam pengujian yang disebutkan sumber, skor Geekbench 6 single-core dan multi-core meningkat sekitar 1.000 poin dibanding Galaxy S25, sementara stabilitas uji beban 3DMark Steel Nomad Light naik dari 62,4% menjadi 72%.
Layar FHD+ Dynamic AMOLED 2X 6,3 inci juga mendapat nilai positif karena mendukung refresh rate 120Hz dan puncak kecerahan 2.600 nits. Meski belum setajam panel QHD+ di varian Plus dan Ultra, panel ini disebut sangat terang untuk pemakaian harian.
Masalah utama ada di kamera yang stagnan
Di sinilah Galaxy S26 mulai kehilangan momentum. Samsung tidak memberi peningkatan hardware kamera sama sekali, sehingga konfigurasi belakangnya masih mengandalkan sensor yang mirip dengan generasi sebelumnya, bahkan disebut setara dengan Galaxy S22.
Berikut komposisi kameranya:
- Kamera utama 50MP, OIS, f/1.8
- Kamera ultrawide 12MP, f/2.2, FOV 120 derajat
- Kamera telefoto 10MP dengan zoom optik 3x, f/2.4
- Kamera depan 12MP, f/2.2
Walau pemrosesan gambar yang dibantu Snapdragon 8 Elite Gen 5 memberi hasil warna dan rentang dinamis yang sangat baik, keterbatasan hardware tetap terasa. Di siang hari, detail terlihat tajam, tetapi performa low-light mulai menurun.
Lensa telefoto menjadi titik lemah paling jelas. Resolusi 10MP dan zoom optik 3x dinilai kurang kompetitif, terutama saat dibandingkan dengan rival seperti Google Pixel 10 yang menawarkan zoom 5x. Bagi ponsel di kelas flagship, absennya peningkatan kamera membuat Galaxy S26 tampak tertinggal saat pasar lain bergerak cepat.
Tambahan kecil di sisi konektivitas dan pengisian daya
Samsung juga belum menambahkan banyak fitur baru di sektor konektivitas. Galaxy S26 masih mendukung 5G, LTE, Wi-Fi 7, Wi-Fi Direct, dan Bluetooth 5.4, tetapi tidak membawa mmWave, Bluetooth 6, atau UWB di model dasar.
Masalah lain muncul pada pengisian daya. Baterai 4.300 mAh memang naik dan cukup untuk pemakaian harian, namun dukungan dayanya masih 25W wired dan 15W wireless. Di tengah kompetitor yang mulai jauh lebih cepat, angka itu terasa konservatif.
Ketiadaan magnet Qi2 bawaan juga menjadi catatan penting. Pengguna tetap membutuhkan casing khusus untuk mendapatkan fungsi penuh, sesuatu yang terasa makin sulit dibenarkan ketika pesaing sudah melangkah lebih jauh dalam ekosistem pengisian magnetik.
Galaxy S26 pada akhirnya tetap menjadi ponsel yang cepat, rapi, dan nyaman dipakai, tetapi daya saingnya melemah karena Samsung belum menjawab kebutuhan paling penting di kelas ini. Dengan harga yang naik dan kamera yang nyaris tidak berubah, model dasar ini justru semakin mengandalkan diskon di masa depan agar terlihat masuk akal untuk dibeli.
