Apple berhasil menduduki posisi teratas pasar ponsel global pada kuartal I-2026, melampaui Samsung dalam pengiriman smartphone dunia. Pencapaian ini menjadi momen penting karena Apple untuk pertama kalinya memimpin pasar pada periode Januari hingga Maret, dengan pertumbuhan tahunan 5 persen menurut laporan Counterpoint Research.
Kinerja Apple didorong oleh tingginya permintaan terhadap iPhone 17 di Jepang, India, dan China. Di tengah tekanan biaya dan perlambatan di pasar massal, Apple justru menjadi satu-satunya pemain papan atas yang mencatat pertumbuhan positif.
Apple diuntungkan permintaan iPhone 17
Model iPhone 17 menjadi motor utama yang mengangkat pengiriman Apple pada awal tahun ini. Permintaan yang kuat di sejumlah pasar utama membuat perusahaan asal Cupertino itu mampu menjaga momentum penjualan, meski industri smartphone global masih menghadapi tekanan dari biaya komponen yang naik.
Posisi Apple juga terbantu oleh fokusnya pada segmen premium. Strategi itu membuat perusahaan lebih tahan terhadap fluktuasi ekonomi dibandingkan merek yang sangat bergantung pada pasar entry-level dan menengah.
Selain itu, Apple disebut telah mengambil langkah proaktif dalam mengamankan pasokan memori. Langkah ini membantu menjaga kelancaran produksi selama tiga bulan pertama tahun ini, ketika banyak produsen lain masih berhadapan dengan tekanan rantai pasok.
Samsung bertahan di posisi kedua
Samsung tetap menempati urutan kedua dengan pangsa pasar 20 persen, angka yang relatif stabil dibandingkan periode yang sama sebelumnya. Namun, pengiriman perangkat perusahaan Korea Selatan itu turun 6 persen secara tahunan karena tantangan harga dan produksi.
Counterpoint Research menyebut Samsung kembali menyesuaikan portofolio produknya untuk menghadapi tekanan biaya yang meningkat. Perusahaan itu merampingkan pilihan di kelas entry-level dan lebih menekankan konfigurasi kelas atas, yang secara efektif mendorong harga awal sekaligus memperkuat citra premium.
Pergeseran strategi tersebut menunjukkan bahwa Samsung juga berupaya menjaga margin di tengah pasar yang makin ketat. Namun, penyesuaian itu belum cukup untuk mengimbangi pelemahan volume pengiriman pada awal tahun.
Xiaomi tertekan di segmen entry-level
Xiaomi berada di posisi ketiga dengan pangsa pasar 12 persen, tetapi mencatat penurunan pengiriman paling tajam di antara merek besar. Volume pengirimannya turun 19 persen dibandingkan tahun lalu, terutama akibat tekanan berat di segmen entry-level yang sensitif terhadap kenaikan harga komponen chip memori.
Kondisi ini memperlihatkan betapa mahalnya komponen masih memengaruhi performa vendor yang bergantung pada perangkat berharga terjangkau. Saat biaya produksi naik, ruang gerak merek di segmen bawah menjadi lebih sempit karena konsumen cenderung menahan pembelian atau memilih model yang lebih sedikit fiturnya.
Persaingan ketat di luar tiga besar
OPPO dan vivo menyusul di posisi berikutnya dengan pangsa pasar masing-masing 11 persen dan 8 persen. OPPO memang mencatat penurunan total pengiriman 4 persen, tetapi tetap memperlihatkan daya saing di India lewat seri A5 dan respons positif terhadap ponsel lipat Find N5.
Di sisi lain, sejumlah merek yang lebih kecil justru tumbuh lebih cepat dan mulai menarik perhatian pasar. HONOR naik 25 persen secara tahunan, sedangkan Google Pixel tumbuh 14 persen berkat keunggulan fitur kecerdasan buatan dan kemampuan fotografi.
Berikut ringkasan posisi lima besar pasar smartphone global pada kuartal I-2026:
- Apple — memimpin, tumbuh 5 persen
- Samsung — pangsa pasar 20 persen, turun 6 persen
- Xiaomi — pangsa pasar 12 persen, turun 19 persen
- OPPO — pangsa pasar 11 persen, turun 4 persen
- vivo — pangsa pasar 8 persen
Tekanan biaya masih membayangi industri
Counterpoint Research memperkirakan kenaikan biaya produksi akibat mahalnya komponen memori masih akan menjadi beban utama bagi produsen ponsel sepanjang tahun ini. Banyak vendor diperkirakan akan menaikkan harga jual untuk menjaga margin keuntungan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Situasi tersebut dapat memperlebar jarak antara merek premium dan pemain yang bergantung pada volume besar di kelas bawah. Jika tren ini berlanjut, pasar smartphone global akan semakin ditentukan oleh kemampuan tiap merek menjaga pasokan, efisiensi produksi, dan daya tarik produk di tengah konsumen yang makin selektif.







