Harga smartphone yang terus naik mulai mengubah cara konsumen membeli perangkat baru. Di tengah tekanan biaya produksi dan harga komponen yang melonjak, operator seluler punya peluang besar untuk ikut mendorong minat masyarakat lewat paket bundling yang lebih menarik.
Pengamat gadget dan teknologi Aryo Meidianto menilai daya beli masyarakat memang tidak akan turun sampai nol, tetapi pola belanja sudah berubah. Ia mengatakan banyak orang kini memilih memakai smartphone lebih lama, dari yang dulu bisa ganti dalam delapan bulan menjadi dua sampai tiga tahun.
Tekanan Harga Datang dari Komponen dan Situasi Global
Kenaikan harga smartphone tidak muncul dari satu faktor saja. Salah satu pendorong utamanya adalah kelangkaan memori seperti DRAM dan NAND Flash, yang makin mahal karena permintaan dari sektor kecerdasan buatan atau AI terus meningkat.
Laporan Counterpoint Research yang dikutip dalam artikel referensi mencatat harga DRAM naik lebih dari 50 persen secara kuartalan pada kuartal pertama 2026. Sementara itu, NAND Flash melonjak lebih dari 90 persen pada periode yang sama.
Tekanan itu langsung memengaruhi biaya produksi smartphone. Pada perangkat entry-level dengan harga grosir di bawah US$200, konfigurasi memori umum seperti 6GB LPDDR4X dan 128GB eMMC bisa membuat total biaya BOM naik sampai 25 persen secara kuartalan pada Q1 2026.
Menurut analisis Counterpoint, komponen memori bahkan dapat menyumbang hingga 43 persen dari total biaya produksi pada kelas bawah. Artinya, produsen sulit menahan harga jual tetap rendah jika biaya bahan baku terus naik.
Harga Naik di Banyak Segmen
Dampak kenaikan harga sudah terasa di pasar Indonesia. Pada awal April 2026, sejumlah vendor disebut kompak menaikkan harga produk mereka, dari kelas entry-level sampai kelas flagship.
Xiaomi dan Samsung termasuk merek besar yang ikut menyesuaikan harga. Samsung Galaxy A07 RAM 4GB/64GB naik dari Rp1,399 juta menjadi Rp1,599 juta, sedangkan Redmi A5 RAM 4GB/128GB dari Xiaomi naik dari Rp1,4 juta menjadi Rp1,6 juta.
Kenaikan itu bervariasi, mulai Rp100.000 hingga lebih dari Rp1 juta tergantung model dan spesifikasi. Pola ini menunjukkan bahwa tekanan biaya tidak hanya menyerang perangkat premium, tetapi juga ponsel murah yang biasa menjadi pilihan utama banyak konsumen.
Operator Seluler Punya Peluang Besar
Di tengah kondisi tersebut, operator seluler dapat mengambil peran lebih aktif. Aryo menyebut salah satu cara paling efektif adalah membuat paket penjualan smartphone yang digabung dengan kuota internet atau bonus layanan jaringan.
“Misal ada paket beli smartphone dapat bonus paket 5G gratis selama setahun. Ini saya rasa bisa menarik minat masyarakat untuk membeli produk,” ujarnya dalam wawancara dengan Selular pada 2 April 2026.
Strategi itu masuk akal karena jaringan 5G kini sudah lebih merata di sejumlah daerah. Kondisi ini berbeda dengan beberapa tahun lalu saat layanan 5G masih terbatas dan belum menjadi faktor utama dalam keputusan pembelian.
Mengapa Bundling Bisa Menarik Konsumen
Bundling dari operator bisa memberi nilai tambah yang langsung terasa oleh pembeli. Skema ini juga membantu konsumen melihat total manfaat perangkat, bukan hanya harga handset yang makin mahal.
- Harga awal pembelian terasa lebih ringan karena konsumen mendapat manfaat tambahan.
- Operator bisa menawarkan kuota besar, akses 5G, atau masa aktif tertentu sebagai bonus.
- Vendor dan operator dapat menjangkau pembeli yang menahan penggantian ponsel lebih lama.
- Program bundling bisa mendorong perpindahan ke perangkat 5G tanpa harus menekan harga jual terlalu agresif.
Pola seperti ini juga sesuai dengan perilaku pasar yang berubah. Saat banyak konsumen menunda upgrade ponsel, insentif dari operator bisa menjadi pemicu keputusan beli yang sebelumnya tertunda.
Pasar Smartphone Masih Bergerak, tetapi Lebih Selektif
Kenaikan harga tidak otomatis menutup pasar smartphone, tetapi membuat konsumen lebih berhati-hati. Pembeli kini cenderung membandingkan spesifikasi, umur pakai, dukungan jaringan, dan tambahan layanan sebelum memutuskan membeli.
Di sisi lain, operator seluler yang menawarkan paket data relevan dan stabil punya peluang untuk ikut memengaruhi pasar perangkat. Jika bundling dibuat transparan, menarik, dan sesuai kebutuhan pengguna, strategi itu bisa menjadi pembeda di tengah harga smartphone yang semakin mahal.
Source: selular.id