Selama beberapa tahun, pasar ponsel dipenuhi model China yang menawarkan spesifikasi tinggi dengan harga rendah. Namun, pola itu mulai berubah dan tanda-tandanya sudah terlihat jelas di Indonesia lewat kenaikan harga dari sejumlah merek besar.
Pergeseran ini tidak terjadi tanpa sebab. Lonjakan permintaan chip memori untuk kebutuhan AI membuat pasokan komponen untuk smartphone semakin ketat, sementara tensi geopolitik ikut mengganggu rantai pasok semikonduktor global.
Tekanan datang dari krisis memori AI
Permintaan chip untuk pusat data AI melonjak tajam dan mendorong produsen memori global mengalihkan kapasitas ke pasar yang lebih menguntungkan. Samsung Electronics, SK Hynix, dan Micron Technology disebut memprioritaskan memori khusus server AI ketimbang memori konvensional untuk ponsel dan PC.
Dampaknya terasa cepat di pasar komponen. TrendForce mencatat harga DRAM melonjak 90-95 persen dalam satu kuartal, sedangkan NAND flash naik 55-60 persen pada periode yang sama.
Harga yang berubah cepat menekan pabrikan kecil. Mereka tidak punya kontrak pasokan jangka panjang seperti pemain besar, sehingga harus membeli komponen dengan harga yang jauh lebih mahal dan lebih tidak stabil.
Xiaomi mengakui biaya memori membengkak
Sinyal paling terang datang dari Xiaomi yang selama ini identik dengan strategi harga agresif. Presiden Xiaomi, Lu Weibing, mengungkap perusahaan harus membayar selisih harga 1.500 yuan untuk paket memori RAM dan storage 12 GB/512 GB dibanding kuartal I-2025.
Weibing juga menyebut kenaikan harga memori jauh di atas ekspektasi. Ia mengatakan lonjakan itu mencapai empat kali lipat dibanding kuartal pertama tahun lalu, sebuah tekanan yang langsung memengaruhi biaya produksi ponsel.
Untuk paket 12 GB/512 GB, hitungannya kini mendekati 2.000 yuan atau sekitar Rp 4,9 juta. Nilai itu nyaris setara dengan harga satu unit smartphone kelas menengah ke bawah, sehingga ruang untuk menjual HP murah semakin menyempit.
Harga ponsel China naik di Indonesia
Tanda perubahan itu terlihat nyata di pasar Indonesia. Berdasarkan pantauan KompasTekno, beberapa vendor China menaikkan harga ponsel secara serempak pada awal April, termasuk Oppo, Xiaomi, Vivo, dan Tecno.
Kenaikan harga terjadi di banyak segmen, mulai dari entry-level hingga flagship. Ini menunjukkan tekanan biaya tidak hanya menimpa produk premium, tetapi juga lini yang selama ini menjadi andalan utama ponsel murah China.
Berikut gambaran kenaikan yang tercatat di Indonesia:
| Merek | Segmen terdampak | Kisaran kenaikan |
|---|---|---|
| Xiaomi | Redmi dan Poco | Rp 200.000 – Rp 1 juta |
| Vivo | Termasuk iQoo | Hingga Rp 800.000 |
| Oppo | Terutama A series | Hingga Rp 1,2 juta |
| Tecno | Entry-level dan mid-range | Hingga Rp 400.000 |
| Samsung | Seri A | Hingga Rp 700.000 |
Kenaikan yang terjadi pada merek-merek tersebut memperlihatkan bahwa era harga sangat murah mulai tertekan. Konsumen di Indonesia pun mulai melihat harga baru yang lebih tinggi pada model-model yang sebelumnya dikenal paling ramah kantong.
Strategi “spek tinggi, harga miring” mulai goyah
Selama ini, banyak vendor China menjadikan rasio spesifikasi tinggi dan harga rendah sebagai senjata utama untuk merebut pasar. Strategi itu kini mendapat tekanan besar karena biaya komponen tidak lagi mudah ditekan, terutama pada RAM dan penyimpanan internal.
Carl Pei, CEO Nothing, juga mengingatkan bahwa AI mengubah permintaan pasar dan membuat smartphone bersaing langsung dengan infrastruktur AI. Ia menilai segmen entry-level dan mid-range bisa naik 20 persen atau lebih, sehingga produsen yang bertumpu pada volume besar akan makin berat menjaga harga lama.
Situasi ini membuat pasar smartphone bergerak ke fase baru yang lebih mahal dan lebih ketat. IDC bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai “structural reset”, yaitu perubahan mendasar dalam struktur industri ponsel yang bisa mengubah harga jual dalam jangka panjang.
Dampaknya ke pembeli Indonesia
Bagi pasar Indonesia, dampaknya tidak hanya soal harga yang naik. Pembeli juga berpotensi melihat lebih sedikit pilihan HP murah dengan spesifikasi tinggi, karena produsen harus menyesuaikan komposisi RAM, storage, dan fitur lain agar tetap menjaga margin.
Jika tekanan komponen terus berlanjut, penyesuaian harga bisa terjadi lebih luas pada berbagai merek dan kelas. Pasar ponsel murah China yang selama ini sangat agresif di Indonesia kini memasuki periode yang menuntut strategi baru dari produsen maupun konsumen.
Source: tekno.kompas.com






