Sistem Android yang dipakai di banyak ponsel tidak selalu tampil sama. Setiap produsen biasanya menambahkan skin atau antarmuka khusus agar perangkat mereka punya ciri visual, fitur, dan pengalaman pakai yang berbeda dari Android murni.
Di balik perbedaan itu, ada beberapa skin Android yang ternyata dipakai oleh lebih dari satu merek. Pola ini umum di industri karena produsen bisa menekan biaya pengembangan software, menjaga konsistensi produk, dan mempercepat hadirnya fitur baru ke pasar.
Mengapa banyak merek memakai skin yang sama?
Produsen ponsel sering memilih satu basis software lalu menyesuaikannya untuk berbagai lini produk. Cara ini membuat proses pengembangan lebih efisien dan memudahkan integrasi dengan ekosistem perangkat lain.
Bagi pengguna, hasilnya juga terasa praktis karena tampilan dan fitur antarmuka menjadi lebih familier. Dalam banyak kasus, merek yang masih satu grup bisnis memang berbagi platform software yang sama agar brand experience tetap seragam.
- ColorOS dipakai OPPO, OnePlus, dan pernah juga realme
ColorOS awalnya identik dengan OPPO, lalu sempat dipakai realme saat masih berada di bawah ekosistem yang sama. realme kemudian mengembangkan realme UI sendiri, sementara OnePlus untuk pasar global juga menggunakan ColorOS.
Di China, OnePlus justru memakai OxygenOS, sehingga pengalaman pengguna bisa berbeda dari versi global. Perbedaan ini membuat fitur tertentu kadang hadir di satu wilayah tetapi tidak tersedia di wilayah lain.
- HyperOS dan MIUI dipakai Xiaomi, REDMI, dan POCO
Xiaomi menyatukan banyak lini produknya di bawah MIUI, lalu beralih ke HyperOS yang disebut sebagai peningkatan dari MIUI sejak 2023. Ketiga merek dalam keluarga Xiaomi, yaitu Xiaomi, REDMI, dan POCO, pada dasarnya memakai fondasi software yang sama.
HyperOS dibangun dengan pendekatan baru agar konektivitas antarperangkat lebih lancar. Platform ini tetap membawa banyak elemen dari MIUI, tetapi dirancang agar integrasi ekosistem Xiaomi terasa lebih mulus.
- OriginOS dan FuntouchOS dipakai vivo dan iQOO
vivo dan iQOO juga memakai strategi yang serupa dengan merek lain di grup besar. FuntouchOS lebih dulu dipakai, lalu perlahan digantikan oleh OriginOS dengan tampilan yang lebih modern dan fitur yang lebih luas.
Sumber referensi menyebut FuntouchOS kerap dipandang kurang segar, minim fitur, dan terlalu banyak bloatware. Sebaliknya, OriginOS dinilai lebih kaya kustomisasi, tampil lebih bersih, dan lebih efisien dalam penggunaan sehari-hari.
- Nothing OS dipakai Nothing dan CMF Phone
Nothing menjadi salah satu pendatang baru yang cepat menarik perhatian lewat desain antarmuka yang berbeda. Nothing OS dipakai pada ponsel Nothing dan CMF Phone, dengan ciri utama tampilan monokrom yang sederhana namun tetap menonjol.
Menurut Android Authority, Nothing OS dikenal ringan, minim bloatware, dan punya banyak ruang kustomisasi. Sistem ini juga terus diperbarui agar pengalaman pengguna tetap konsisten dan adaptif terhadap kebutuhan perangkat baru.
- EMUI dipakai HUAWEI dan pernah digunakan HONOR
EMUI bermula dari HUAWEI sebagai antarmuka berbasis Android untuk perangkat globalnya. Saat HONOR masih berada di bawah HUAWEI, merek tersebut juga memakai EMUI sebelum akhirnya berpisah dan menggunakan MagicOS.
Kini HUAWEI masih memakai EMUI untuk perangkat global, sedangkan perangkat yang dijual di China menggunakan HarmonyOS. Perubahan ini menunjukkan bagaimana satu skin bisa berkembang mengikuti strategi bisnis dan arah ekosistem perusahaan.
Daftar singkat skin yang dipakai banyak merek
| Skin Android | Merek yang terkait |
|---|---|
| ColorOS | OPPO, OnePlus, pernah realme |
| HyperOS/MIUI | Xiaomi, REDMI, POCO |
| OriginOS/FuntouchOS | vivo, iQOO |
| Nothing OS | Nothing, CMF Phone |
| EMUI | HUAWEI, pernah HONOR |
Tren penggunaan satu skin untuk banyak merek menunjukkan bahwa software kini menjadi bagian penting dari strategi persaingan ponsel. Semakin kuat integrasi antarmuka, semakin mudah juga produsen menjaga karakter produk sambil mempercepat inovasi di lini perangkat berikutnya.
Source: www.idntimes.com






