Pasar Smartphone Global Turun 4%, Samsung Memimpin Saat Rival Mulai Tersendat

Pengiriman smartphone global pada kuartal pertama melemah setelah sempat menunjukkan pemulihan dalam beberapa periode terakhir. Data awal International Data Corporation atau IDC mencatat total pengiriman mencapai 289,7 juta unit, turun 4,1 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini menjadi kuartal negatif pertama sejak 2023. IDC menilai pelemahan pasar dipicu kendala pasokan memori yang akut, sekaligus kenaikan biaya komponen yang menekan produsen dan memengaruhi minat beli konsumen.

Samsung kembali memimpin pasar global

Samsung menempati posisi teratas dalam daftar vendor smartphone global pada kuartal pertama. IDC memperkirakan perusahaan itu mengirimkan 62,8 juta unit dengan pangsa pasar 21,7 persen.

Kinerja tersebut tumbuh 3,6 persen secara tahunan dari 60,6 juta unit. IDC mengaitkan hasil itu dengan permintaan kuat untuk Galaxy S26 Ultra dan peluncuran lebih awal Galaxy A36 serta Galaxy A57 yang dinilai akan menjadi pendorong volume utama sepanjang tahun.

Apple berada sangat dekat di posisi kedua. Vendor ini membukukan 61,1 juta unit pengiriman dengan pangsa pasar 19,6 persen menurut uraian laporan, meski tabel IDC juga menampilkan angka pangsa 21,1 persen.

Secara tahunan, pengiriman Apple naik 3,3 persen dari 59,1 juta unit. IDC menyoroti seri iPhone 17 yang terus menarik perhatian konsumen dan mencatat pertumbuhan signifikan di pasar China.

Samsung dan Apple menjadi dua nama besar yang tetap tumbuh di tengah pasar yang sedang melemah. Keduanya juga menjadi satu-satunya merek di lima besar yang membukukan pertumbuhan tahunan positif untuk pengiriman dan pangsa pasar.

Peringkat lima besar vendor smartphone dunia

Berikut ringkasan data IDC untuk kuartal pertama:

  1. Samsung: 62,8 juta unit, pangsa 21,7 persen, tumbuh 3,6 persen.
  2. Apple: 61,1 juta unit, pangsa 19,6 persen, tumbuh 3,3 persen.
  3. Xiaomi: 33,8 juta unit, pangsa 11,7 persen, turun 19,1 persen.
  4. OPPO: 30,7 juta unit, pangsa 10,6 persen, turun 9,9 persen.
  5. vivo: 21,2 juta unit, pangsa 7,3 persen, turun 6,8 persen.

Di luar lima besar, kelompok vendor lain secara kolektif mengirimkan 80,1 juta unit. Angka itu turun 4,2 persen dibanding periode yang sama sebelumnya.

Tekanan paling besar datang dari segmen harga terjangkau

Xiaomi masih bertahan di posisi ketiga, tetapi penurunannya cukup tajam. Pengiriman vendor ini turun menjadi 33,8 juta unit dari 41,8 juta unit pada periode yang sama sebelumnya.

OPPO menyusul di posisi keempat dengan 30,7 juta unit. Sementara itu, vivo menutup lima besar dengan 21,2 juta unit pengiriman global.

Penurunan pada beberapa merek ini memperlihatkan tekanan yang lebih besar di pasar menengah ke bawah. IDC menyebut krisis memori yang masih berlangsung telah mendorong kenaikan average selling prices atau ASP, sehingga harga jual perangkat semakin sulit ditekan.

Dalam laporannya, analis IDC juga menyinggung kenaikan bill of materials atau biaya bahan baku komponen. Kondisi ini membuat sejumlah produsen, termasuk Samsung, mengambil langkah penyesuaian harga pada model tertentu.

Mengapa pasar melemah saat dua pemimpin justru tumbuh

Kinerja Samsung dan Apple menunjukkan permintaan masih ada untuk perangkat premium dan model yang punya daya tarik kuat. Namun pertumbuhan dua perusahaan itu belum cukup untuk menahan pelemahan keseluruhan pasar global.

Pasar negara maju seperti Amerika Serikat dinilai lebih tahan terhadap kenaikan harga. Konsumen di segmen ini cenderung memiliki daya beli lebih kuat dan tetap mempertimbangkan pembaruan perangkat premium.

Risiko yang lebih besar justru muncul di pasar berkembang. IDC memperingatkan bahwa permintaan bisa makin tertekan pada segmen smartphone di bawah US$200, karena konsumen di kategori itu sangat sensitif terhadap kenaikan harga.

Situasi tersebut penting karena banyak vendor Android mengandalkan volume besar dari kelas harga terjangkau. Jika biaya memori dan komponen tetap tinggi, ruang produsen untuk menjaga harga tetap kompetitif menjadi semakin sempit.

Prospek industri dalam beberapa kuartal ke depan

IDC memproyeksikan beberapa bulan ke depan masih akan bergejolak bagi industri smartphone. Krisis chip memori yang belum pulih diperkirakan terus menahan pasokan sekaligus menjaga harga komponen di level tinggi.

Lembaga riset itu juga menyebut harga memori baru berpotensi stabil pada paruh kedua 2027. Selama tekanan biaya belum mereda, arah pasar smartphone global kemungkinan masih ditentukan oleh kemampuan vendor menyeimbangkan harga, pasokan, dan daya beli konsumen di setiap segmen.

Source: www.gsmarena.com
Terkait