
Harga RAM untuk PC mulai bergerak turun setelah hampir setahun mengalami lonjakan tajam akibat dorongan permintaan dari industri AI. Kabar ini memberi napas lega bagi gamer, perakit PC, dan pengguna yang selama ini menunda upgrade karena ongkos memori yang terlanjur tinggi.
Namun, penurunan itu belum cukup membuat RAM kembali murah. Di pasar konsumen, harga memang mulai melunak, tetapi di jalur distribusi dan kontrak, tekanan harga masih besar sehingga dampaknya ke pembeli akhir belum terasa sepenuhnya.
Harga DDR5 dan DDR4 mulai terkoreksi
Data dari rantai pasokan di Asia menunjukkan harga DDR5 bulan lalu turun hampir 30 persen. Pada saat yang sama, DDR4 juga melemah sekitar lima persen, yang menjadi penurunan bulanan pertama sejak Februari.
Untuk DDR4 berkapasitas 16GB, harga spot dilaporkan turun ke USD 74,10 atau sekitar Rp 1,1 juta. Angka ini menandai perubahan arah setelah pasar memori sempat bergerak naik tanpa jeda selama lebih dari setahun.
DDR5 juga ikut terkoreksi. Harga spot untuk keping 16GB kini turun ke USD 37,20 atau sekitar Rp 500 ribuan, dan tren ini sudah mulai terlihat di etalase toko daring di Amerika Serikat serta China.
Lonjakan sebelumnya sangat ekstrem
Sebagai pembanding, DDR4 16GB pada awal tahun lalu sempat berada di kisaran USD 3,20 atau sekitar Rp 50 ribuan. Dalam kurun sekitar setahun, harga komponen ini melonjak sampai 2.200 persen karena kebutuhan besar untuk pusat data AI.
Kenaikan setajam itu membuat banyak pengguna menahan belanja memori. Bagi pasar PC, kondisi ini juga mempersempit ruang gerak perakit komputer yang ingin menjaga harga rakitan tetap kompetitif.
Di sisi retail, sebagian produk sudah mulai turun. Beberapa paket DDR5 32GB di Amazon disebut sudah dijual sekitar 30 persen lebih murah dibandingkan bulan lalu.
Mengapa harga mulai turun
Menurut DigiTimes, ada dua faktor utama yang mendorong penurunan harga spot. Pertama, sejumlah distributor yang sebelumnya menimbun stok saat harga naik kini mulai melepas persediaan mereka ke pasar.
Kedua, pasar bereaksi terhadap pengumuman teknologi kompresi memori TurboQuant dari Google. Inovasi ini memicu kekhawatiran bahwa kebutuhan terhadap memori lama bisa berubah, sehingga distributor berusaha lebih cepat menghabiskan stok yang ada.
Mengapa konsumen belum tentu langsung untung
Penurunan di pasar spot tidak otomatis mengubah harga di toko dalam waktu singkat. Pasalnya, volume transaksi spot hanya mewakili porsi kecil dari total penjualan memori secara keseluruhan.
Jalur utama yang memengaruhi harga konsumen justru ada di pasar kontrak. Di jalur ini, harga memori untuk pabrikan besar justru diperkirakan naik antara 58 persen hingga 63 persen.
Kondisi tersebut muncul setelah kenaikan sekitar 95 persen sudah terjadi pada kuartal sebelumnya. Artinya, meski ada sinyal pelonggaran di satu sisi pasar, tekanan biaya di sisi lain masih sangat kuat.
Dampak ke pasar perangkat lain
- RAM PC memang mulai turun, tetapi harga belum kembali ke level aman bagi konsumen.
- SSD berpotensi ikut terdorong naik karena komponen flash NAND diproyeksikan melonjak hingga 75 persen.
- Biaya rakit PC baru masih berpeluang tetap tinggi dalam beberapa minggu ke depan.
Tom’s Hardware, yang dikutip detikINET, menyebut kondisi pasar memori saat ini masih belum stabil. Situasi itu membuat konsumen sebaiknya tetap memantau harga sebelum membeli, terutama jika ingin merakit PC baru atau menambah kapasitas RAM dalam jumlah besar.
Dengan arah pasar yang masih campur aduk antara jalur spot, retail, dan kontrak, harga RAM memang mulai menurun, tetapi belum cukup untuk disebut benar-benar murah. Bagi pembeli, ini masih menjadi periode menunggu, karena perubahan di sisi distributor belum tentu langsung diterjemahkan menjadi harga yang nyaman di keranjang belanja.
Source: inet.detik.com








