Samsung Dan Apple Saling Kejar Di Puncak, Pasar Ponsel Dunia Awal 2026 Terjungkal

Laporan terbaru IDC menempatkan Samsung sebagai penguasa pasar ponsel dunia pada awal 2026. Dalam kuartal I-2026, raksasa teknologi asal Korea Selatan itu mengirim sekitar 62,8 juta unit smartphone dengan pangsa pasar 21,7 persen, naik dari 20,1 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Posisi kedua ditempati Apple dengan pengiriman 61,1 juta unit dan pangsa 19,6 persen. IDC menyebut dua merek besar ini menjadi vendor utama yang masih mampu mencatat pertumbuhan positif di tengah pasar global yang justru melemah.

Samsung dan Apple masih paling kuat

Kinerja Samsung didorong permintaan kuat untuk Galaxy S26 Ultra. Selain itu, peluncuran lebih awal seri Galaxy A membantu mengisi jeda sebelum hadirnya lini Galaxy S26 yang rilis lebih lambat dari biasanya.

Apple juga mencatat pertumbuhan yang sehat berkat performa iPhone 17 series, terutama di China. Pengiriman Apple tumbuh 3,3 persen secara tahunan, menunjukkan bahwa pasar premium masih memiliki daya tarik kuat meski kondisi industri sedang menekan.

Peta lima besar vendor smartphone dunia

Berikut posisi lima besar merek ponsel dunia menurut IDC untuk kuartal I-2026:

  1. Samsung — 62,8 juta unit, pangsa 21,7 persen
  2. Apple — 61,1 juta unit, pangsa 19,6 persen
  3. Xiaomi — 33,8 juta unit, pangsa 11,7 persen
  4. Oppo — 30,7 juta unit, pangsa 10,6 persen
  5. Vivo — 21,2 juta unit, pangsa 7,3 persen

Di luar lima besar, IDC mencatat merek seperti Honor, Lenovo atau Motorola, dan Huawei juga mencatat pertumbuhan positif. Honor bahkan menjadi salah satu yang tumbuh paling cepat di antara 10 besar dengan kenaikan 24 persen secara tahunan karena agresif memperluas pasar luar negeri.

Pasar global justru turun

Meski dua pemimpin pasar tetap tumbuh, total pengiriman smartphone global pada kuartal I-2026 turun 4,1 persen menjadi 289,7 juta unit. Angka itu lebih rendah dibanding 302 juta unit pada periode yang sama tahun sebelumnya.

IDC menyebut krisis memori dan kenaikan harga smartphone sebagai faktor utama pelemahan pasar. Direktur Riset Senior IDC, Nabila Popal, mengatakan keterbatasan pasokan memori memaksa pemangkasan pengiriman, sementara harga komponen yang lebih mahal mendorong kenaikan biaya produksi.

“Di beberapa pasar negara berkembang, harga naik hingga 40-50 persen yang berdampak signifikan terhadap permintaan di wilayah yang sensitif pada harga,” kata Popal dalam keterangan IDC yang dikutip KompasTekno.

Merek besar lain tertekan

Xiaomi berada di posisi ketiga dengan 33,8 juta unit, tetapi kinerjanya turun 19,1 persen dibanding tahun sebelumnya. IDC menyebut perusahaan itu memangkas pengiriman model lama untuk menghindari kenaikan harga, langkah yang akhirnya menekan volume.

Oppo berada di posisi keempat dengan 30,7 juta unit, turun 9,9 persen. Vivo menutup lima besar dengan 21,2 juta unit, turun 6,8 persen, meski terbantu oleh pasar China dan performa yang stabil di India.

Tekanan biaya mengubah arah industri

IDC melihat industri ponsel kini bergerak ke fase yang lebih mahal. Kenaikan harga komponen, energi, dan logistik mendorong banyak vendor menaikkan harga jual rata-rata atau average selling price.

Kondisi ini membuat pasar premium relatif lebih tahan, terutama di negara maju yang didukung program trade-in dan pembiayaan. Sebaliknya, pasar negara berkembang yang bergantung pada ponsel murah di bawah 200 dollar AS menghadapi tekanan lebih besar karena pilihan perangkat semakin terbatas.

Research Director Mobile Phones IDC, Anthony Scarsella, menilai kenaikan harga memori menjadi faktor yang paling memperburuk kondisi pasar. Ia juga menyoroti bahwa tren premiumisasi akan terus berlanjut, sementara segmen entry-level berpotensi makin terdesak jika biaya produksi tetap tinggi.

Dalam situasi seperti ini, posisi Samsung di puncak pasar menunjukkan bahwa kombinasi portofolio produk yang luas, strategi peluncuran yang tepat waktu, dan kekuatan lini premium masih menjadi kunci utama untuk mempertahankan dominasi di tengah perlambatan industri global.

Source: tekno.kompas.com

Berita Terkait

Back to top button