56% Orang Eropa Pernah Intip Layar Ponsel Di Publik, Privasi Ternyata Rentan

Riset terbaru Samsung menunjukkan bahwa privasi digital di ruang publik masih sangat rentan. Dalam survei terhadap 11.000 responden di Eropa, 56% mengaku pernah melihat layar ponsel orang asing, baik sengaja maupun tidak, saat berada di tempat umum.

Temuan itu memperlihatkan bahwa kebiasaan sederhana seperti menatap sekitar di transportasi umum atau saat mengantre bisa berubah menjadi pelanggaran privasi. Sebanyak 24% responden bahkan mengaku sengaja mengintip karena rasa penasaran, sehingga isu ini tidak hanya terkait faktor ketidaksengajaan.

Transportasi umum jadi lokasi paling rawan

Samsung menyebut adanya fenomena “penonton tak sengaja”, yakni orang yang tanpa niat khusus melihat layar ponsel milik orang lain. Lokasi yang paling sering memicu situasi ini adalah transportasi umum dengan porsi 57%, disusul antrean di supermarket atau toko sebesar 35%, lalu bar, restoran, atau kafe sebesar 13%.

Di sisi lain, ada jarak persepsi yang cukup besar antara pemilik ponsel dan orang di sekitarnya. Sebanyak 48% responden merasa isi layar mereka aman dari pandangan orang lain saat berada di keramaian, tetapi 52% mengakui justru mudah melihat aktivitas di ponsel orang lain.

Konten pribadi ikut terekspos

Yang terlihat dari layar ponsel di ruang publik tidak selalu hal sepele. Survei itu mencatat 33% responden pernah melihat konten pribadi di ponsel orang asing, sementara 27% merasa telah melihat sesuatu yang seharusnya tidak mereka lihat.

Jenis informasi yang paling sering terpantau antara lain foto pribadi atau galeri kamera sebesar 38%, wajah atau suara seseorang dalam panggilan video 33%, serta pesan pribadi seperti dari pasangan 29%. Selain itu, notifikasi atau profil media sosial juga muncul dalam 27% kasus, diikuti aktivitas belanja daring 17%, notifikasi aplikasi kencan 12%, dan saldo bank atau detail akun keuangan sebesar 11%.

Pengguna mulai mengubah kebiasaan

Kekhawatiran akan privasi membuat sebagian pengguna ponsel lebih berhati-hati saat berada di tempat umum. Sebanyak 38% responden mengaku menghindari atau menunda membuka ponsel karena takut ada yang mengintip.

Aktivitas yang paling sering dihindari meliputi membuka aplikasi perbankan sebesar 62%, memasukkan kode sandi atau PIN 49%, serta membaca pesan pribadi 43%. Saat sadar sedang diintip, 42% responden memilih langsung mengunci layar dan berhenti menggunakan ponsel, sementara 10% memilih menegur pengintip.

Ada pula 9% yang diam saja, sedangkan 7% responden mengaku tetap melihat secara diam-diam. Temuan ini menegaskan bahwa privasi layar kini menjadi bagian penting dari keamanan digital sehari-hari, bukan hanya saat perangkat digunakan di rumah atau di ruang kerja.

Respons teknologi lewat Privacy Display

Menjawab kebutuhan itu, Samsung Electronics menghadirkan fitur Privacy Display pada Samsung Galaxy S26 Ultra. Dalam penjelasan Benjamin Braun, Chief Marketing Officer Samsung Eropa, ponsel disebut sebagai salah satu barang paling pribadi yang dimiliki pengguna, sehingga apa yang tampil di layar perlu tetap berada dalam kendali pemiliknya.

Fitur Privacy Display membatasi sudut pandang layar agar konten hanya terlihat jelas dari depan. Saat dilihat dari samping, misalnya oleh penumpang di sebelah dalam kereta, layar akan tampak gelap atau buram tanpa mengganggu pengalaman pengguna utama, dan perangkat ini juga dijanjikan mendapat pembaruan sistem keamanan rutin selama tujuh tahun.

Terkait